Belum Gajian, Operasional Truk Tanah Timbunan Tol Dihentikan

Proses penimbunan lahan tol
LAMPUNG — Operasional puluhan truk kendaraan milik PT Perusahaan Perumahan (PP) pengangkut tanah timbunan tol dihentikan dengan alasan belum dibayarkannya gaji pekerja. 
Salah satu warga yang juga pekerja, Syahroni (36) mengaku, penghentian operasi kendaraan tersebut salah satu alasannya para pekerja belum menerima upah beberapa pekan ini. Beberapa pekerja yang bertugas mengatur lalulintas keluar masuk kendaraan, pemilik tanah timbunan serta pekerja lain bahkan belum menerima gaji.
“Bagaimana kami akan bekerja kalau gaji yang menjadi hak kami belum dibayarkan sementara kami juga butuh makan untuk keperluan sehari hari,”ungkap Syahroni kepada Cendana News, Rabu (2/12/2015).
Menurutnya sebagian truk pengangkut material timbunan tol tersebut  awalnya masih bekerja sejak pagi namun mulai berhenti setelah masyarakat meminta operasional truk tersebut dihentikan. Sebagian truk bahkan harus kembali ke lokasi parkir milik PT PP yang berada di Bakauheni dengan tidak membawa tanah.
Berdasarkan penuturan warga, kerjasama masyarakat dengan pihak LMA dan PT PP selaku penyedia untuk tanah timbunan berjalan lancar namun saat proses berjalan sekitar enam bulan lebih proses pembayaran gaji pekerja mulai terlambat. Selain itu warga juga mengaku pemilik lahan tanah yang digusur untuk penimbunan tol juga belum menerima uang pembelian tanah tersebut.
Aktifitas penghentian operasional pengangkutan tanah tol tersebut sempat dimediasi oleh beberapa perusahaan namun para sopir truk sepakat menghentikan sementara pekerjaan mereka menghindari kekecewaan warga.
Selain dihentikan operasinya oleh para pekerja yang sebagian direkrut dari masyarakat sekitar Bakauheni, operasional kendaraan pengangkut material tanah timbunan dikeluhkan masyarakat akibat debu beterbangan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera yang dilalui kendaraan tersebut. Masyarakat terpaksa menghirup debu yang terbawa angin akibat truk pembawa tanah tol tidak dilengkapi dengan terpal penutup.
Sebelumnya aksi mogok juga dilakukan oleh para sopir pengangkut tanah tol akibat gaji para sopir tersebut belum dibayarkan. Aksi mogok tersebut sekaligus aksi solidaritas para sopir akibat salah satu rekan sesama sopir ditahan polisi buntut dari tertabraknya warga akibat aktifitas kendaraan pengangkut tanah tersebut. Korban pengendara kendaraan bermotor bahkan meninggal akibat kecelakaan tersebut.
“Ia sebelumnya kendaraan tak beroperasi karena sopir belum digaji dan kami menuntut rekan kami dibebaskan yang akhirnya sudah dibebaskan,”ujar Somad salah satu sopir kepada CDN.
Kepala Satuan Lalulintas Polres Lampung Selatan saat dikonfirmasi mengaku sudah membebaskan sopir tersebut setelah ada pemeriksaan di Polres Lampung Selatan. Selain itu berdasarkan penyelidikan polisi serta perdamaian pihak keluarga korban dan pengurus truk sudah ada kesepakatan perdamaian.
Proses penimbunan lahan tol di titik nol pada ruas tol Bakauheni- Terbanggi Besar hingga kini masih sampai pada proses penimbunan mempergunakan tanah milik warga di sekitar Bakauheni. Proses penimbunan dan pengerjaan lahan tol hingga kini sudah memakan waktu sekitar delapan bulan seiring dengan pembebasan lahan tol milik warga Bakauheni.
JURNALIS : HENK WIDI

Bergabung dengan Cendana News pada bulan November 2014. Dengan latar belakang sebagai Jurnalis lepas di beberapa media dan backpacker, diawal bergabung dengan Cendana News, Henk Widi fokus pada pemberitaan wisata dan kearifan lokal di wilayah Lampung dan sekitarnya.

Twitter: @Henk_Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Lihat juga...