Berjuang Menghidupi Empat Anak Sendirian, Resiana Terjun Jadi Petani Sayur

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Menyisiri wilayah barat kabupaten Sikka, sepanjang mata memandang hijaunya aneka tanaman sayuran di pekarangan maupun di lahan sawah menyuguhkan kesejukan di tengah kegersangan akibat kemarau panjang. Berburu sedikit uang guna menyambung hidup bermodalkan pengalaman seadanya dilakoni sebagian perempuan. Salah satu perempuan yang mengais rezeki sebagai petani sayur adalah Rosiana (45). Rosiana Bunga, demikian nama lengkapnya, adalah perempuan yang menjadi orang tua tunggal bagi empat orang anaknya setelah sang suami meninggalkannya untuk selamanya, 15 tahun lalu. 

Rosiana Bunga

Bagi sebagian petani Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka menanam sayuran dan aneka tanaman lain harus dilakukan selepas memanen padi. Ini dilakukan mengingat sawah tadah hujan milik petani tidak bisa dialiri air dari saluran irigasi secara maksimal.Tak mau mengambil resiko akibat gagal panen, demikian alasan yang mereka kemukakan. Ini bisa dilihat di sepanjang areal persawahan Kolisia yang dipenuhi sayuran, jagung, kacang hijau maupun kacang tanah.
“Suami saya meninggal saat anak-anak belum bersekolah. Saya sempat bingung bagaimana harus menghidupi empat orang anak yang masih kecil. Suami cuma seorang petani yang hanya punya sawah beberapa petak saja. Akhirnya saya terpaksa masuk sawah tanam padi dan tanam sayur. Kalau tidak begitu saya mau kerja apa lagi “ ucapnya lirih.
Dengan bangga Ana mengkisahkan tentang anak-anaknya, seraya ingin memperlihatkan bahwa kerja kerasnya mampu menyekolahkan empat orang anaknya. Anak pertama sudah mau tamat kuliah, anak kedua duduk di bangku sekolah manengah atas ( SMA ) sementara anak ketiga dan keempat masih duduk di bangku sekolah manengah pertama ( SMP ). Ia menambahkan rasa bangganya pada anak-anak karena setiap libur sekolah tiba, mereka membantu Ana mengurus sayur di sawah.
Saat dijumpai Cendana News, Ana dibantu 3 orang wanita tetangganya membersihkan sayur kankung. Kankung cabut dan kangkung potong dibersihkan, diikat dan disatukan dalam sebuah ikatan besar. untuk kemudian akan dibawa ke Pasar Alok di kota Maumere yang jaraknya ± 20 kilometer dari Desa Kolisia.
“ Kalau tidak laku kami tidur di areal pasar. Tidur beralaskan sarung di lantai semen los pasar supaya besok pagi bisa dijual lagi. Biasanya besok pagi atau siang hari sayur kami sudah diborong pembeli. Uang yang didapat saya beli bibit sayur lagi setelah dipotong untuk dibagi sama teman-teman lainnya “ tambahnya.
Selain menanam sayur kankung, Ana juga menanam sayur terong di lahan samping rumahnya di lahan seluas 100 meter persegi yang dikelola sendiri. Dalam seminggu dirinya bisa panen 5 sampai 6 subur ( 1 subur berisi 15 sampai 20 terong ). Dalam sebulan, Ana bisa mengantongi untung bersih 1 juta rupiah hingga dua juta rupiah dari menjual terong.
“Kalau tanam terong saya bisa sendiri urus tapi kalau kankung tidak bisa. Hasil padi tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Air susah didapat jadi kalau malam kami mete ( begadang ) untuk tunggu air buat dialiri ke saluran bedeng sayuran kami. Kalau tidak ada, kami terpaksa timba dari sumur di rumah dan bawa pakai ember untuk bisa siram sayur. Kalau tidak disiram tentu kami akan rugi besar bila sayuran mati “ sambung Ana.
Selain mengajak tiga tetangganya menanam sayuran, dirinya juga mengajak mereka menanam padi dan jagung saat musim hujan dengan system bagi hasil. Bila sedang musim asam, dirinya juga mengajak mereka untuk panen asam bersama. Semua usaha itu dilakukan agar tetap bisa menghidupi dan membiayai sekolah empat orang anaknya.

Selamat Hari Ibu Rosiana!

Lihat juga...