Budidaya Bibit Kayu Lokal, Poktan di NTT Sukses Gaet Para Pegiat Lingkungan


MANGGARAI—Usaha budidaya bibit kayu lokal tidak sia-sia dijalankan oleh Kelompok Tani (Poktan) Melati di Nusa Tenggara Timur (NTT). Beberapa lembaga pegiat lingkungan yang ada di salah satu daerah di bagian barat Pulau Flores, Kabupaten Manggarai antara lain telah berhasil digaet poktan tersebut berkat ketekunannya membudidayakan berbagai jenis bibit kayu lokal disamping bibit kayu lainnya yang sudah populer. Usaha ini dijalankannya secara terpadu dengan ketekunan memproduksi pupuk bokasi.
Ketua Poktan Melati, Kanisius Jek saat ditemui Cendana News di Dusun Nterlango, Desa Pocolikang, Kecamatan Ruteng, Jumat (11/12/2015) mengatakan, hingga saat ini Poktan yang dipimpinnya telah berhasil membangun jaringan kerjasama dengan berbagai lembaga pegiat lingkungan hidup di daerahnya. Poktan Melati diantaranya telah dikenal baik oleh sejumlah lembaga non-profit selain oleh lembaga pemerintahan urusan lingkungan hidup di Kabupaten Manggarai.
“Kita sudah jadi mitra kerja Dinas Kehutanan di Manggarai dan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng. Ada juga LSM yang kalau butuh anakan pohon pasti hubungi kelompok kami. Pernah pula kita jadi mitra Badan Lingkungan Hidup saat penanaman pohon disekitar Lapangan Motang Rua. Kita sediakan sekaligus dengan baik. Tapi akhirnya gagal hidup karena tidak diperhatikan terus,” ungkap Kanisius di sela-sela kegiatannya di Nterlango.
Kanisius menyebut usaha budidaya bibit kayu lokal terhitung sangat menjanjikan bagi para anggota kelompoknya secara ekonomi. Hal ini diakuinya karena peluang bisnis dibalik usaha ini masih sangat rendah persaingan untuk lingkup Kabupaten Manggarai selain karena telah berhasil membangun jaringan pemasaran dengan sejumlah lembaga lokal. “Jadi, kita tidak rasa rugi karena peminatnya ada. Persaingan bisnis juga masih rendah,” akuinya.
Bibit kayu lokal yang dibudidayakan oleh Poktan Melati merupakan hasil analisis kebutuhan konsumen yang dilakukan dalam waktu cukup panjang. Hingga akhirnya langgeng seperti sekarang, Kanisius mengakui, poktan kesayangannya sempat mengalami jedah aktivitas sangat panjang setelah berdiri sejak tahun 1999.
“Awalnya semua anggota langsung lari. Padahal waktu itu baru tiga minggu berdiri. Sejak itu tidak ada lagi aktivitas bersama selama hampir dua tahun. Tapi saya terus belajar kebutuhan. Ternyata sebenarnya banyak kalangan yang berminat. Lalu saya coba mulai lagi. Saat lihat ada bukti baru para anggota mulai gabung lagi. Malah sudah bertambah lagi. Awalnya 15 orang. Sekarang sudah 20 anggota,” ungkap Kanisius.
Kanisius menyebut sejumlah bibit kayu lokal yang dibudidayanya antara lain Natu, Ara, Ndingar (kayu manis), Ndamu, Laru, Latung. “Kita juga budidaya jenis kayu lain yang sudah terkenal. Di sini ada Jati, Mahoni, Ampupu, Sengon dan Cengkeh. Jadi kita siapkan banyak. Ada yang untuk balok dan papan. Kita siapkan juga bibit kayu yang bisa hasilkan air. Itu yang sering diminta Dinas Kehutanan,” tuturnya kepada Cendana News.
Pantauan Cendana News, bibit kayu hasil budidaya Poktan Melati tampak menyebar di areal seluas hampir 1 hektar di Dusun Nterlango, Desa Pocolikang, Kecamatan Ruteng. Kanisius sendiri mengakui, untuk tiap bibit anakan kayu, pihaknya membandrol dengan harga dari 10 ribu rupiah hingga Rp20 ribu rupiah. “Harga per koker bibit tergantung jenis kayunya, pak,” terang Kanisius.
Jum’at, 11 Desember 2015/Jurnalis: Fonsi Econg/Editor: Gani Khair/Foto: Fonsi Econg
Lihat juga...