Budidaya Genjer di Lahan Terbatas Mampu Menghidupi Kebutuhan Keluarga

SENIN, 28 DESEMBER 2015
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG—Memiliki lahan terbatas tidak menghalangi wanita ini untuk menambah penghasilan demi menghidupi keluarga. Wanita yang berumur kurang lebih 67 tahun ini sehari-hari mengolah lahan sawah yang merupakan peninggalan orangtuanya meski tak begitu luas. Sebagian besar lahan sawah berukuran sekitar 600 meter persegi tersebut ditanami dengan tanaman padi yang kini masih berumur sekitar dua bulan. Selain menanam padi yang dibantu sang anak, Sipon, demikian ia dipanggil memanfaatkan beberapa petak lahan untuk budidaya genjer.

Sipon saat memetik genjer di sawahnya
Tanaman genjer yang kini dirawat olehnya merupakan genjer usia tiga bulan yang dipanen seminggu dua kali. Lokasi petak tanaman genjer yang dekat dengan sungai kecil membuat pasokan air lebih lancar. Ia mengaku memetik genjer muda untuk kemudian dijual ke pasar tradisional Desa Pasuruan sepekan dua kali. Selain dijual di pasar, Sipon menjual genjer yang sudah dipetik dan menjual ke warga yang berminat dengan cara menjajakan dari rumah ke rumah.
“Setiap sore genjer yang sudah dipetik saya jual ke rumah warga yang ingin membuat pecel atau tumis genjer, kalau tidak laku sebagian saya berikan ke tetangga yang tinggal dekat rumah,” ungkap Sipon kepada Cendana News, Senin (28/12/2015).
Genjer yang dipetik dari petak sawah berlumpur tersebut selanjutnya diikat dengan pelepah daun pisang berukuran satu genggaman tangan. Genjer yang dipetik merupakan genjer usia lima hari dan masih muda yang sering diminati penjual makanan tradisional pecel. Langganan penjual pecel memilih genjer yang dipetiknya karena sengaja dipilih yang cukup muda dan masih baru dipetik sebelum dipesan.
Sipon saat memetik genjer di sawahnya
Sementara sebagian lagi dipetik saat hari Senin dan Kamis sore, pemetikan pada hari itu dilakukan sebab pagi harinya saat subuh sudah harus dibawa oleh sang anak untuk dijual ke pasar. Harga satu ikat genjer yang dijual di pasar saat ini mencapai Rp2.000,- perikat, sementara genjer yang dijual keliling dijualnya dengan harga Rp1.500,- perikat. Langganan genjer di pasar tradisional diantaranya pemilik warung yang akan menjualnya lagi dan beberapa warga serta penjual makanan.
Pemetikan tanaman genjer setiap hari Senin dan Kamis menurut Sipon mampu menghasilkan sebanyak 60 ikat genjer muda berikut bunga yang masih hijau. Sementara untuk genjer yang dijual keliling Sipon mengaku menjual sebanyak 30 ikat genjer dan dibawanya dengan keranjang yang digendong dan dijajakan dari rumah ke rumah. Sekali berkeliling ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp25ribu-Rp30ribu karena sebagian genjer kerap tidak laku terjual.
“Jika tidak laku, terkadang dititipkan di warung sehingga saya pulang masih bisa membawa uang dari hasil penjualan genjer tersebut,” ungkap Sipon.
Sang suami yang sebelumnya merupakan ahli bangunan kini sudah jarang diminta untuk menjadi tukang bangunan sehingga sebagai isteri ia harus mencari jalan lain untuk menambah penghasilan. Meskipun mengumpulkan uang hanya sekitar Rp50ribu dua kali dalam sepekan, ia mengaku masih bersyukur bisa bekerja dan membudidayakan tanaman genjer yang masih digemari oleh masyarakat di pedesaan.
Sayur genjer yang ternyata memiliki manfaat bagi mereka yang menjalankan program diet karena mengalami kelebihan berat badan. 
Sipon juga mengaku masih menanam tanaman lain diantaranya tanaman sawi, kacang panjang, bayam yang ditanam di lahan lainnya yang juga dijual dengan cara berkeliling. Pemanfaatan lahan yang terbatas dilakukan oleh Sipon untuk menghidupi keluarga ditambah dua orang cucu yang masih sekolah kelas 4 Sekolah Dasar ikut dengannya.
Budidaya tanaman genjer yang dilakukan selama hampir tiga tahun ini menurut Sipon cukup membantunya dalam memperoleh uang. Perawatan dengan membersihkan rumput dan memberi pupuk dari kompos dilakukannya untuk menyuburkan tanaman genjer yang akan dijualnya. Ia bersyukur masih diberi kesehatan dan masih bisa membudidayakan genjer yang bisa memberinya tambahan uang untuk mengepulkan asap dapur.
Pola penanaman berbeda dilakukan agar pemanenan dengan dipetik bisa dilakukan berturut turut. Sipon menanam beberapa petak sehingga saat memanen petak lain, petak yang sudah dipanen masih bisa menghasilkan tunas tunas muda untuk dipetik pada giliran berikutnya. Cara tersebut dilakukan agar ia masih bisa menjual genjer tersebut secara rutin.
Pantauan Cendana News, budidaya tanaman genjer hanya dibudidayakan oleh beberapa warga yang memiliki lahan terbatas untuk menambah penghasilan. Bagi sebagian warga genjer merupakan sajian kuliner yang sangat lezat dan dalam dunia medis sangat dibutuhkan sebagai menu diet bagi pasien yang memiliki berat badan diatas normal.
Lihat juga...