Cerpen : Kue Ibu

SABTU, 19 DESEMBER 2015
CERPEN—Sinar mentari begitu membara. Sinarnya terangi penghuni bumi. Teriknya mentari tak menyurutkan langkah pasti wanita tua itu untuk terus berjalan dan melangkah susuri jalanan Kampung yang mulai berhotmix. Sandal buatan tahun jadul menemani langkah kakinya. Keranjang tua dilengan kanannya menjadi diorama. Teriakannya berkompetisi dengan suara knalpot yang mulai memenuhi jalanan Kampung. Sebuah potret kemajuan sebuah peradaban.
” Kue…kue,” teriak wanita tua itu.
Hanya dalam hitungan detik, teriakan pun berhamburan.
” Mak. Kue mak,” teriak seorang warga dari dalam rumahnya.
Dan dalam waktu tak lama, beberapa orang pun mulai menghampiri Ibu penjual kue itu. Hanya dalam tempo singkat, kue yang dijajakan Ibu itu pun ludes. Maklum semua warga Kampung tahu dengan kelezatan kue buatan Ibu. Alami dan tanpa bahan pengawet.
Ibu biasanya tiba di rumah saat bedug Ashar tiba. Usai membereskan keranjang kue, Ibu langsung menunaikan sholat Ashar. Dan biasanya usai sholat, Ibu beristirahat di belakang rumahnya yang dipenuhi rimbunan pohon-pohon yang hijau yang ditanam almarhum suaminya.
Ibu sangat paham bahwa kedua putranya Alil dan Abim sangat tida suka dengan aksinya berjualan kue keliling Kampung.
” Ibu kan sudah tua. Istirahat saja lah di rumah. kami masih sanggup membiayi Ibu,” ujar putranya Alil yang kini bekerja sebagai kepala sebuah bank nasional terkemuka di Kota.
” Iya, Bu. Kami berdua sangat sanggup menyediakan keperluan Ibu. termasuk seorang pembantu buat Ibu,” sambung Abim.
” Kalian harusnya paham bahwa kalian bisa jadi orang karena kue ini,” jawab Ibu. Kedua putranya pun terdiam seribu bahasa. Tak kuasa melawan.
Usaha untuk menghentikan Ibu berjualan pernah dilakukan kedua menantunya. Rayuan kedua menantunya pun gagal.
” Ibu tinggal dengan kami saja. Saya juga sepi dirumah kalau Abang Alil bekerja,” rayu istri Alil.
” Iya, Ibu. Saya juga sepi dirumah karena sekarang Manohara cucu Ibu sudah kuliah di Kota,” ungkap Istri Abim.
” Ibu lahir di kampung. Mati pun ingin di Kampung. Kota terlalu bising buat Ibu,” jawab Ibu. Kedua menantunya pun mati kartu dengan jawaban sang Mertua
Kendati tiap bulan kedua putranya selalu mengirim dana kepada dirinya, namun Ibu sama sekali tak pernah menggunakannya. Uang kiriman itu selalu disimpannya. Dan setiap cucu-cucunya ulang tahun, Ibu selalu memberikan hadiah buat cucu-cucunya. Demikain pula kalau cucunya liburan ke Kampung. Ibu selalu memanjakan mareka. Membelikan apa yang mareka minta. Tak ada yang tak dipenuhinya.
” Buat apa Ibu membelikan mareka mainan. Toh dirumah mareka juga sudah punya mainan seperti itu,”ungkap Abim.
” Mareka ingin bahagia seperti kalian dulu. Dan apa salahnya Ibu sebagai neneknya membelikan mareka mainan,” jawab Ibu. Kembali putranya mati angin atas jawaban Ibu.
Putra Ibu sangat gembira ndengar kabar bahwa Ibunya ingin ke Kota. Mareka dengan suka cita menyambut kedatangan sang Ibu. Kamar pun telah mareka persiapkan. Demikian pula dengan makanan kesukaan Ibu pun takluput mareka persiapkan.
” Pokoknya kedatangan Ibu kali ini harus kita buat betah. Biar Ibu mau tinggal di sini,” kata Abim kepada istrinya.
” Ya. Saya akan membuat Ibu beta dan bisa tinggal dengan kita,” jawab istrinya.
Demikian pula dengan Alil dan istrinya. Mareka tak mau kalah dalam menyambut kedatangan Ibu ke rumah mareka.
” Jangan sekali-kali buat Ibu mengeluh selama di rumah ini,” ungkap Alil kepada istrinya.
” Iya. Saya sudah bilang dengan Mbok Ayu agar dia menuruti apa kehendak Ibu. Saya ingin Ibu tinggal dirumah kita,” jawab Istri Alil.
Hari yang dinantikan pun telah tiba. Namun hingga sore belum ada kabar apapun dari Ibu. Tak pelak Alil dan Abim sibuk mengontak keluarga mareka di kampung.
” Jam berapa Ibu berangkat? Kok sampai sore belum nyampai di bandara,” tanya Alilkepada saudara Ibunya di kampung lewat handphone.
” Kata Ibumu semalam beliau berangkat pesawat pagi,” jawab saudara Ibu.
” Mohon bantu cari informasi Paman. Dimana sekarang Ibu,” pinta Alil dengan nada cemas.
” Iya. nanti Paman infokan,” jawab Pamannya.
Hingga tengah malam, putranya terus mencari keberadaan Ibu mareka. Sementara di kampung para warga terus mencari hingga ke hutan. Tak ada hasil.
Ditengah kebingungan informasi, secuil asa terkuak. Seorang warga melihat ibu Alil dan Abim masih di rumah mengingat usai sholat subuh Ibu Alil langsung masuk rumah.
” Saya melihat usai subuh tadi dari masjid beliau langsung masuk rumah. Dan hingga kini belum keluar rumah. Soalnya kalau beliau keluar rumah saya pasti tahu. Karena beliau pasti lewat depan rumah saya. Dan itu jalan satu-satunya keluar Kampung,” terang tetangga Ibu.
” Kalau begitukita langsung ke rumahnya. Siapa tahu beliau ada di rumah dan tidak jadi pergi ke Kota,” ajak tetua Kampung.
Dengan semangat 45 para warga langsung menuju rumah Ibu Abim. Rumah tampak gelap. Tak ada sinar pnerngan di halaman rumah. Namun ada cahaya lampu dari dalam rumah. Dengan bersepakat para warga mendobrak rumah Ibu Abim. Dan saat lampu di dalam rumah diterangkan, tampak Ibu sedang sujud seperti orang sholat. Dan ketika beberapa kali dipanggil tak ada sahutan, para warga  seketika mendekati tubuh Ibu yang sedang sujud. Dan teriakan Allah Hu Akbar menggema dalam ruangan itu seiring dengan tangis para warga. Mareka histeris. Nafas Ibu tak ada lagi. Denyut nadinya pun terhenti. Ucapan religius Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun pun berkumandang penuhi jagad raya. Sementara di Masjid suara azhan mulai berkumandang dengan sakralnya. Sebagai tanda untuk segera bersujud kepada Sang pencipta. (Rusmin)
Jumat malam, Toboali, Bangka Selatan.

Cerpenis: Rusmin Toboali
Lihat juga...