Gathot Nugroho : Renovasi Museum HM. Soeharto Ide Probosutedjo, Agar Museum Semakin Mendunia


BANTUL— Sebagai museum lima besar paling sering dikunjungi di Yogyakarta, Museum Jenderal Besar HM. Soeharto yang berada di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, terus dikembangkan. Sejak tiga bulan ini, bahkan pihak pengelola merenovasi sejumlah bagian bangunannya. Kini, museum tersebut tampak lebih anggun dengan dominasi warna biru yang penuh makna.
Wakil Kepala Museum Jenderal Besar HM Soeharto di Yogyakarta, Gathot Nugroho, ditemui Kamis (10/12/2015) mengatakan, telah sejak 3 bulan terakhir proses renovasi museum dilakukan. Ditargetkan, pada 15 Desember 2015 mendatang seluruh kegiatan renovasi bisa selesai. Renovasi antara lain dilakukan dengan mengecat ulang tiang saka pendopo utama museum, dan sejumlah bagian lain dari museum dengan cat warna biru.
Gathot menjelaskan, warna biru sengaja dipilih sebagai warna dominan karena memiliki makna yang dalam. Ibarat langit yang biru dan lautan biru, katanya, warna biru mengandung makna kedalaman ilmu dan harapan agar museum bisa lebih mendunia.

Selain mengecat ulang, renovasi juga dilakukan untuk mengganti lantai pendopo utama yang semula hanya dari kemarik biasa, diganti dengan marmer hitam bermotif putih. Bagian lantai di luar ruang diorama juga juga diganti granit. Renovasi juga dilakukan di bagian rumah keluarga yang berada utara ruang diorama dan pendopo utama. Sementara itu di sebelah timut pendopo, juga dibangun gedung baru yang diperuntukkan menyimpan gamelan. 

Menurut Gathot, renovasi museum yang dilakukan atas inisiatif  H. Probosutedja, adik almarhum Pak Harto ini, dilakukan untuk lebih memperindah kawasan. Renovasi juga tidak sampai merubah bentuk fisik. Hanya mempercantik dan menambah beberapa bagian seperti tulisan yang berfungsi menjelaskan patung, seperti tulisan Soeharto Ngguyang Kebo (Soeharto memandikan kerbau-red) untuk menjelaskan keberadaan patung kerbau dengan sejumlah anak kecil yang diantaranya adalah Soeharto dimasa kecilnya.
Kendati dalam proses renovasi, pengunjung tetap berdatangan. Seperti pada Kamis (10/12/2015), tampak sejumlah siswa asal SMKN 2 Sewon, Bantul, Yogyakarta, berkunjung dan mengamati seluruh bagian museum, termasuk menyimak diorama sejarah Pak Harto.
Mar’arul Latifah Hanik (16), siswa Kelas II SMKN 2 Sewon, mengatakan, kunjungannya bersama 24 siswa-siswi lainnya di museum itu merupakan kunjungan study tour dalam rangka libur pasca ujian semester dasar kelas XI. Menurutnya, Museum Soeharto dipilih sebagai media pembelajaran sejarah pemimpin yang berhasil memajukan bangsa.

Menurutnya, Soeharto adalah pemimpin yang inspiratif dan bisa memotivasi siswa. “Lepas dari segala pro kontra yang ada, kami semua belajar memahami nilai kebaikan dan positifnya saja. Saya sendiri tidak terpengaruh dengan pendapat buruk orang lain terhadap Pak Harto”, ungkapnya.

Museum Jenderal Besar HM Soeharto, dibangun di atas lahan dimana Pak Harto dilahirkan. Berdiri diatas lahan seluas 3.620 meter persegi, yang terdiri atas bangunan Joglo, Rumah Notosudiro dan Rumah Atmosudiro serta petilasan kelahiran Soeharto. Gedung Atmosudiro merupakan bangunan utama dari museum yang berisi semua hal tentang Pak Harto.
Begitu memasuki gedung tersebut, pengunjung akan disuguhi rangkaian visualisasi tonggak-tonggak penting perjalanan hidup Bapak Pembangunan. Pintu masuk gedung dibuat lorong berbentuk rol film yang berisi masa kecil Soeharto sebagai anak desa. Lalu ada beberapa diorama yang mengisahkan peran penting Pak Harto dalam perannya sebagai pejuang sejak zaman Jepang. Juga ada diorama yang mengisahkan peran Soeharto dalam Serangan Umum 01 Maret 1949, peritiwa Trikora pembebasan Irian Barat, pengganyangan PKI 1965 yang berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah, sampai proses Soeharto menjadi Presiden. 
Selain itu, juga dikisahkan dalam diorama peran Soeharto dalam membangun bangsa ini dengan sejumlah prestasinya sampai pada purna tugas Pak Harto dari kursi kepresidenan. Museum Jenderal Besar HM. Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013. Jumlah pengunjung setiap bulannya mencapai ribuan orang. 
Kamis, 10 Desember 2015/Jurnalis: Koko/Editor: Sari Puspita Ayu/Foto: Koko
Lihat juga...