Gatot Nugroho: Museum Harus Gratis Agar Semua Masyarakat Tahu Sejarahnya


YOGYAKARTA — Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, tak pernah sepi pengunjung. Mulai dari pelajar dan masyarakat umum. Apalagi dihari libur Sabtu dan Minggu. Dipastikan masyarakat secara berombongan datang ke museum ingin melihat kenangan akan figur pemimpin besar yang merakyat, Pak Harto.
Gatot Nugroho, Wakil Kepala Museum begitu tampak sabar sekaligus antusias menerima setiap pengunjung museum dari beragam usia. Bertemu dengan Mas Gatot, demikian ia akrab disapa, juga harus sabar. Karena, ia harus mengutamakan pengunjung yang datang. Mas Gatot akan mempersilahkan pengunjung untuk beristirahat di joglo, sementara Mas Gatot menyiapkan audio visual berisi dokumenter singkat Pak Harto.
Sesudah memutarkan film dokumenter itu, Mas Gatot menerangkan secara singkat riwayat Pak Harto dan seluk-beluk museum, lalu mempersilahkan para pengunjung masuk ke ruang diorama Gedung Atmosudiro. Para pngunjung, juga bisa merasakan teduhnya bangunan rumah khas Jawa di Gedung Notosudiro, yang di bagian dalamnya merupakan ruang bagi keluarga besar almarhum Pak Harto ketika berkumpul. Pengunjung juga bisa menyaksikan sebuah sumur tua, saksi sejarah masa kecil Pak Harto. Sumur itu sudah ada ratusan tahun sebelum Pak Harto dilahirkan. Dan, semua itu bisa dinikmati gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Gatot yang ditemui kembali pada Sabtu (12/12/2015), mengatakan, Museum Soeharto itu gratis karena R.H Probosutedjo sebagai pemrakarsa sekaligus pendiri museum itu ingin agar semua masyarakat dari ujung gunung sampai bibir pantai bisa menikmati museum dan bernostalgia dengan sosok pemimpinnya di masa lalu. Bagi saya sendiri, kata Mas Gatot, museum itu memang seharusnya gratis. Ini agar semua lapisan masyarakat bisa melihat dan tahu sejarah bangsanya.
“Kita lihat, yang datang ke Museum Soeharto itu dari beragam usia. Bahkan  lansia juga ada”, katanya.
Kendati belum ada akses angkutan umum yang sampai ke museum, namun hal itu ternyata tak menjadi kendala. Masyarakat bahkan berombongan menyewa kereta mini untuk bisa datang ke museum.
Gatot Nugroho sendiri sudah sejak awal didirikannya museum telah aktif dalam pengelolaan museum. Bahkan, Gatot juga terlibat dalam perencanaan pembangunan museum. Dan, untuk itu, Mas Gatot harus rela mengorbankan karier politiknya. 
Gatot merupakan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Sejak tahun 1991-1998, Gatot bekerja menggeluti bidang usaha penggemukan sapi di sebuah PT, sebagi advisor dan manager. 
Lalu, pada 1998, Gatot mulai terjun ke dunia politik dengan menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PNI Fron Marhaens DIY periode 1998-2013. Partai tersebut didirikan oleh R.H. Probosutedjo. Setahun kemudian, Gatot menjadi anggota dewan Fraksi Fron Marhaens di DPRD DIY periode 1999-2004. Sudah itu, menjadi anggota dewan DPRD Kabupaten Bantul periode 2004-2009.
Ketika pembangunan Museum Soeharto mulai direncanakan, Gatot merelakan karier politiknya dan bergabung dalam rencana pembangunan museum itu. “Saya ditugaskan Bapak (Probosutedjo-red), untuk terlibat dalam pembangunan museum bersama tim yang dikoordinatori oleh Joko Utomo, mantan Kepala Arsip Nasional periode 2004-2009”, jelasnya.
Kini, Museum Soeharto sudah berdiri megah. Struktur kepengurusan langsung di bawah Ketua Dewan Penasehat, R.H Probosutedjo. Sedangkan, Kepala Museum dijabat oleh Teguh Wahyudi, SE dan Gatot Nugroho sebagai Wakil Kepala Museum. Gatot mengatakan, saat ini struktur kepengurusan masih bersifat sementara. “Dan, sebagai pengelola, harus netral dari segala kegiatan politik”, pungkasnya. 

Sabtu, 12 Desember 2015/Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Gani Khair/Foto: Koko Triarko
Lihat juga...