Gerakan Mengajar untuk Anak Pinggiran Kota Kendari

Asni
KENDARI—Gerakan Kendari Mengajar (GKM) adalah kelompok anak muda kreatif yang  konsen membantu pendidikan pengajaran bagi anak-anak yang berada di pinggiran Kota Kendari. Saat ini GKM membina 2 Sekolah Dasar (SD) Negeri yang letaknya belum dijangkau angkutan umum.
Menurut Asni, salah seorang penggerak GKM saat ditemui di area Kendari Kreatif (KK) Festival 2015 di kompleks Senapati Land Kendari pada hari Senin (30/11/2015) malam menjelaskan, sekolah yang dibina sekarang adalah SD Negeri 20 Baruga yang letaknya di kawasan hutan lindung Nanga-nanga. Letaknya sekitar 6 Km dari jalan utama Kota Kendari, atau sekitar 35 Km dari Kantor Walikota.
Kawasan hutan Nanga-Nanga yang berada di wilayah Kecamatan Baruga Kota Kendari, adalah tempat pengasingan warga tahanan politik (Tapol) G 30 S PKI. Mereka diasingkan di sana demi memudahkan pengawasan pemerintah saat itu.
Di lokasi ini, GKM memberikan pengajaran dan membantu anak-anak yang dianggap tidak mampu secara ekonomi. Mereka diajarkan cara belajar dengan pendekatan pembelajaran yang membuat siswa lebih mudah memahami pelajaran. 
“Anak-anak sekolah di Nanga-Nanga kondisinya menyedihkan, ada yang ke sekolah dengan berjalan kaki antara 3 sampai 6 kilometer. Tapi yang kami salut, semangatnya untuk mau belajar sangat luar biasa,”  ujarnya.
GKM juga membina SD Negeri 19 Mandonga yang terletak di Pulonggida, Kecamatan Puwatu. Seharusnya, menurut Asni, sekolah ini sudah maju. Namun kenyataannya masih memerlukan bantuan.  Bila dilihat letaknya, SD Negeri 19 Mandonga hanya sekitar 2 kilometer dari salah satu jalan raya Kota Kendari. 
Namun faktanya, sudah 70 tahun Indonesia merdeka, warga Pulonggida sampai sekarang belum menikmati listrik. “Demikian halnya sekolah, belum dialiri aliran listrik. Padahal jaraknya tidak jauh,” katanya.
Untuk menentukan sekolah binaan, menurut Asni, GKM mempunyai kriteria yakni lokasi sekolah terisolir, sulit dijangkau dengan kendaraan umum. Kriteria lain, masih kekurangan tenaga pengajar dan kekurangan fasilitas, seperti perpustakaan dan listrik. “Inilah yang membuat kami tergerak untuk membantu sekolah,” katanya.
Asni juga mengungkapkan, aktivis GKM berasal dari berbagai latar belakang pendidkan dan profesi. Di GKM ada yang sudah sarjana dan mahasiswa. Dari profesi, ada yang sudah bekerja dan ada yang aktif di komunitas kreatif. “Meski latar belakang berbeda tapi tujuannya  sama,  memajukan pendidikan Indonesia demi generasi muda,” katanya.
Demi tujuan mulia, saat ini GKM tengah mengumpulkan bantuan buku tulis. Buku ini nantinya akan dibagikan kepada siswa-siswi yang membutuhkan bantuan. 
Selasa, 1 Desember 2015/ Jurnalis : Rustam / Editor : Sari Puspita Ayu / Foto : Rustam
Lihat juga...