Ingat Kirab Remaja Nasional? Di Kendari Ada Monumennya.


KENDARI—Peserta Kirab Remaja Nasional II tahun 1991 yang diikuti anak-anak remaja Indonesia dari 27 provinsi di Indonesia, pernah singgah di Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Kendari (sekarang telah berubah menjadi Kabupaten Konawe), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sebagai bukti nyata, tepatnya  di halaman rumah H. Wuata Saranani, mantan Camat Pondidaha tahun 1990-an, terdapat monumen Kirab Remaja Nasional. Monumen setinggi 4 meter lebih itu dibangun secara bersama-sama dengan anggota Kirab Remaja Nasional, Kecamatan Pondidaha.
Menurut Siswandi Soekarno, salah seorang peserta Kirab Remaja Nasional dari Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Kendari ketika itu, mengungkapkan Hj. Siti Hardijanti Rukmana yang akrab di sapa Mba Tutut selaku Ketua Umum Kirab Remaja Nasional Indonesia, hadir dalam peresmian monumen di Kecamatan Pondidaha.
Siswandi Soekarno
“Sangat seru acara peresmian monumen Kirab Remaja Nasional II, karena dihadiri langsung Mba Tutut selaku ketua umum. Banyak acara sebelum peresmian berlangsung,” kata Iwan panggilan akrab Siswandi.
Berbagai acara kesenian tradisional ditampilkan, seperti tarian tradisional lulo yang dibawakan anak-anak remaja Pondidaha. Peserta kirab dari provinsi lain Indonesia, kaget melihat gerakan tari tradisional Kendari, dimana orang bergandengan tangan lalu bergerak melingkar mengikuti iringan musik gong,”  jelasnya.
Menurutnya, kesan utama adanya Kirab Remaja Nasional II pada tahun 1991, anak-anak remaja Indonesia diajarkan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, Undang-undang Dasar 1945. Kemudian pentingnya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta memahami nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia.
“Saya yakin dan percaya bahwa remaja yang pernah ikut kirab, pasti merindukan kegiatan semacam itu ditumbuhkembangkan lagi. Banyak sekali nilai-nilai positifnya yang bisa kita petik. Kita dapat pelajaran berharga, bagaimana saling menghargai, hormat menghormati sesama anak bangsa, meski beda agama, suku dan budaya,” ujarnya.
Setelah 24 tahun berlalu, dimana peserta Kirab Remaja Nasional II pernah singgah di Kecamatan Pondidaha membangun monumen bersejarah, hingga sekarang tugu itu masih berdiri kokoh dan kondisinya sangat terawat. Pantauan wartawan Cendana News, gambar lima sisi di monumen itu masih terang benderang warnanya. Monumen bersejarah ini dirawat oleh warga sekitar Pondidaha. Terlebih lagi H. Wuata Saranani yang kini sudah lanjut usia, sangat berperan aktif memelihara momen yang tak akan pernah terulang lagi.
Mantan camat yang pernah berkuasa di Pondidaha lebih 10 tahun lamanya, diketahui mempunyai kedekatan emosional dengan keluarga Soeharto, khususnya terhadap Hj. Siti Hardijanti Rukmana. Bahkan beberapa kali H.Wuata Saranani datang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan nasional dari Soeharto, mantan Presiden RI ke 2. 
Minggu, 6 Desember 2015/Jurnalis: Rustam/Editor: Gani Khair/Foto: Rustam
Lihat juga...