Irfan Syarif Arief : Indonesia Bisa Mandiri dalam Hal Sumber Energi Terbarukan

MINGGU, 27 DESEMBER 2015
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Charolin Pebrianti

SURABAYA—Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan. Banyaknya laut yang membentang dari Sabang sampai Merauke, menurut peneliti bisa dimanfaatkan menjadi sumber daya listrik yang berasal dari arus atau gelombang.

Peneliti Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Irfan Syarif Arief 

Peneliti Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Irfan Syarif Arief menjelaskan Indonesia mampu mandiri energi, jika bisa menggali semua potensi yang ada di negara ini, misalnya gelombang atau arus pasang surut di lautan.
“ITS sedang membuat teknologi listrik ini, yakni turbin vertikal dan horizontal,” terangnya kepada Cendana News, Minggu (27/12/2015).
Masing-masing turbin tersebut bisa menyediakan tenaga listrik antara 5 KW – 50 KW tergantung dari arus dan gelombang laut, dengan cakupan listrik tersebut misalnya 20 KW saja bisa untuk menerangi 20 KK disekitar lokasi pengembangan turbin. Dan apabila semakin banyak turbin yang dibuat, maka bisa dipastikan akan menghasilkan energi listrik yang besar dan bisa disalurkan ke masyarakat secara luas.
“Kalau langsung membuat turbin yang menghasilkan tenaga besar, maka permasalahan yang dijumpai akan semakin besar, misalnya resiko kegagalan tinggi, instalasi sulit, biaya perawatan juga besar,” ujarnya.
Bapak dua orang anak ini menegaskan, lebih baik menggunakan turbin yang menghasilkan energi kecil namun banyak jumlahnya dibandingkan menggunakan turbin skala besar namun banyak kerugiannya.
“Selain itu, besaran arus juga mempengaruhi besarnya energi. Di Indonesia besaran arusnya cukup stabil untuk turbin yang menghasilkan 5 KW – 50 KW,” tegasnya.
Dosen lulusan Pasca Sarjana Fakultas Teknologi Kelautan ini menerangkan, arus atau gelombang serta lokasi sangat mempengaruhi keberhasilan dari penggunaan sumber energi terbarukan ini.
“Turbin bisa diaplikasikan di selat, atau lokasi yang memiliki pasang surut tinggi misalnya di Riau. Pemilihan lokasi yang tepat bisa menjadikan proyek ini berhasil,” jelas Dosen berusia 42 tahun ini.
Selain itu menurutnya, perkembangan teknologi juga mempengaruhi terhadap tingkat keberhasilan penelitian ini. Teknologi yang dikembangkan juga harus disesuaikan dengan topologi wilayah (topologi wilayah adalah bentuk permukaan bumi yang berkaitan erat dengan letak, luas dan bentuk, serta batas wilayah yang berpengaruh pada unsur-unsur biotik) yang akan ditanam turbin.
“Juga karakteristik teknologi harus sesuai dengan iklim, cuaca dan suhu di Indonesia,” tandasnya.
Ia berharap, adanya koordinasi antara beberapa instansi untuk bisa menjadikan proyek ini berhasil serta Indonesia bisa mandiri dalam hal sumber energi terbarukan.
“Indonesia punya banyak potensi, tugas kami yang akan menggali semua potensi tersebut supaya kelak berguna bagi masyarakat,” pungkasnya.
Lihat juga...