Jambu Air Dalhari, Jambu Asli Berbah Sleman Siap Hadapi MEA

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Di tengah kekhawatiran sebagian pelaku usaha kecil di Indonesia terkait akan segera berlangsungnya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), petani jambu air Dalhari di pedukuhan Krasakan, Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, justru optimis. Jambu air asli daerah Berbah, Sleman, itu telah mengantongi sertifikat SOPGAP dan kualitas buahnya berani bersaing.

Jamdu Air Dalhari
Dalam kunjungan kerja di masa resesnya, Selasa (22/12/2015), Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menggelar temu wicara bersama Penyuluh Swadaya Sekabupaten Sleman di sentra pengembangan jambu air Dalhari di pedukuhan Krasakan. Selain menyerap aspirasi petani dan para penyuluh, Titiek Soeharto juga mendapatkan penjelasan mengenai potensi buah lokal setempat, yaitu Jambu Air Dalhari.
Ketua Asosiasi Jambu Air Dalhari Sembada, Misran, menjelaskan, jambu air dalhari sudah menerapkan SOPGAP atau Standar Operasional Procedure Good Agriculture Practice, yang menjadi syarat dari sebuah produk pertanian bisa dieksport ke luar negeri. Dengan sertifikasi itu, petani jambu air dalhari siap menghadapi MEA dan berani bersaing. Misran yang juga merupakan penyuluh swadaya teladan tahun 2012 mengatakan, di wilayah Sleman sudah banyak bidang pertanian dan peternakan yang telah memiliki sertifikasi SOPGAP dan Kabupaten Sleman ini memang menjadi percontohan. Untuk bisa memiliki sertifikasi itu, petani harus selalu menjalin sinergitas dengan penyuluh, agar kualitas panennya selalu bisa terkontrol.
Titiek Soeharto foto bersama penyuluh swadaya dan petani
Misran mengatakan, selama ini kendala paling besar dalam membangun pertanian itu adalah minimnya sumber daya manusia. Pasalnya, 75 Persen petani di Indonesia sudah tua, dan masih ada anggapan bahwa pertanian itu tidak menjanjikan. Padahal, jika digali dan ditangani serius potensi pertanian sangat luar biasa. Karena itu, berbagai upaya harus terus dilakukan. Beragam bantuan dan program pemerintah harus sesuai dengan kebutuhan petani. 
“Maka, kita sengaja mengundang Ibu Titiek untuk menggali aspirasi dari masyarakat bawah dari berbagai bidang seperti perikanan, pertanian dan hortikultura. Harapannya, tentu agar Ibu Titiek bisa menyampaikannya kepada pemerintah, sehingga kebijakan dan berbagai program bantuan pemerintah itu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para petani”, cetusnya.
Surip Widodo Ketua II Poktan Jambu Air Dalhari
Sementara itu terkait keberadaan jambu air dalhari, Ketua II Kelompok Tani Jambu Air Dalhari ‘Rukun’, Surip Widodo, mengatakan, sudaj sejak 30 tahun lalu, warga di pedukuhan Krasakan mengembangkan jambu air yang diberi nama dalhari. Nama itu berasal dari nama seorang petani dusun setempat yang pertama kali memperkenalkan pohon jambu air tersebut. Saat itu, pohon jambu air hanya sekedar untuk pelengkap dan tambahan penghasilan warga sekitar. Namun, sekarang ini hasil panen jambu air dalhari justru melebihi penghasilan pokok warga setempat.
Jambu air dalhari memiliki kelebihan pada rasanya yang manis, dagingnya yang kesat dan tebal serta tanpa biji dan warnanya merah menawan. Jambu air dalhari, sambung Surip, mulai berbuah pada bulan Mei-November. Dalam setahun, satu pohon mampu menghasilkan buah kira-kira sebanyak 2 kwintal. Sementara harga jualnya berkisar antara Rp 15-25.000 perkilogramnya, dengan biaya operasional selama setahun Rp. 2 Jutaan perhektar. Selama ini, warga menjual hasil panennya ke Klaten dan Solo-Jawa Tengah dan Jakarta. Juga di beberapa pasar modern di berbagai kota. Bahkan, kata Surip, tidak jarang wisatawan datang langsung ke kebun untuk memetik sendiri.
Misran, Ketua Asosiasi Petani Jambu Air Dalhari
Surip mengatakan, dalam pengelolaan jambu air dalhari ini relatif tak ada kendala. Hama yang sering menyerang hanya lalat buah, yang mudah diatasi dengan membungkus bakal buah dengan plastik bening yang dilubangi bagian bawahnya untuk membuang embun. Sedangkan asupan air juga tak menjadi masalah, karena jambu air ini justru akan menghasilkan buah yang baik di musim kemarau. Maka, penyiraman dilakukan sebelum musim berbuah, dan itu pun tidak banyak.
Pohon jambu air dalhari mulai bisa berbuah di usia 3-4 tahun. Tak perlu peremajaan, kecuali hanya memangkasnya tatkala pohon dirasa sudah terlalu tinggi. “Jumlah ideal bagi tumbuh kembangnya pohon jambu air untuk 1 Ha lahan adalah 10 batang pohon, agar jarak antar pohon tidak terlampau rapat”, pungkasnya.
Lihat juga...