Kampung Energi Mandiri, Prestasi Hebat Kota Kendari


KENDARI—-Kampung Energi Mandiri. demikian Pemerintah Kota Kendari memberi nama sebuah perkampungan yang dihuni 126 Kepala Keluarga (KK) yang terletak di pinggiran Kecamatan Puwatu.
Kampung ini menjadi topik pembicaraan ditingkat nasional dan internasional, khususnya negara-negara Asia Pasific, karena ternyata sudah menggunakan listrik  dan kompor gas untuk memasak dari sumber energi gas metan yang diambil dari tumpukan sampah.
Sumber gas metan diambil dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Puwatu yang luasnya mencapai puluhan hektar. Teknologi pemanfaatan tumpukan sampah yang diolah menjadi gas metan ternyata sangat sederhana dengan menggunakan biaya yang sangat minim. Dan inilah yang menjadi daya tarik bagi negara-negara Asia Pasific.
Salah satu penghuni Kampung Energi Mandiri
memperagakan cara kerja gas metanol
Pipa paralon yang panjangnya ratusan meter ditimbun diantara timbunan sampah dan tanah. Pipa itu kemudian menyerap gas dari dalam timbunan sampah, kemudian dialirkan ke rumah pemukiman Kampung Energi Mandiri yang jaraknya sekitar 700 meter dari TPAS Puwatu.
Menurut Asrun, Walikota Kendari di seluruh negara di dunia, sangat menaruh perhatian besar terhadap efek rumah kaca yang ditimbulkan gas metan. Karena gas ini memiliki daya rusak melebihi dari karbondioksida yang menyebabkan lapisan ozon di bumi menipis.
“Tapi Pemerintah Kota Kendari berhasil memanfaatkan gas metan menjadi produk yang berguna bagi umat manusia. Inilah yang diapresiasi Pemerintah Indonesia, sehingga Kendari diutus sebagai pembicara di Konfrensi Asia Pasific pada bulan Maret 2014 lalu di Bangkok, Thailand,” jelas Asrun.
Negara-negara yang ikut dalam konfrensi Asia Pasific, diantaranya Singapura, Malaysia, Indonesia, Korea Selatan, Korea Utara, India, Pakistan, Tiongkok, Taiwan, Maldevis, Australia dan masih banyak lagi. Jumlah negara yang hadir lebih 50 negara.
“Negara-negara yang sudah maju saja, kagum atas kemampuan Pemerintah Kota Kendari mengubah gas metan menjadi produk bermanfaat bagi pelestarian lingkungan dan umat manusia. Padahal dari sisi teknologi, sangat sederhana, dan biaya tergolong minim,” lanjut Asrun.
Pantauan wartawan Cendana News di lokasi TPAS Puwatu, gas metan yang mengalir melalui pipa paralon ke rumah warga dapat digunakan untuk memasak. Kompor gas yang dipergunakan terbuat dari pipa besi dan dipasangkan tiga batang pipa kecil sebagai penyangga panci masak.
Genset yang bekerja dengan gas metan
Untuk menyalakan kompor rakitan sangat sederhana, kran penutup pipa  gas metan dibuka, lalu nyalakan korek api di mulut kompor, maka gas metan langsung mengeluarkan api berwarna biru. 
Selain dipergunakan memasak, warga Kampung Mandiri Energi juga sudah bisa menggunakan energi listrik dari mesin genset yang digerakkan tanpa menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
Mesin genset tersebut digerakkan gas metan untuk menghasilkan energi listrik, lalu energi itu didistribusikan melalui jaringan kabel ke rumah warga Kampung Energi Mandiri.
Meskipun kapasitas daya  listrik yang dihasilkan masih terbatas, namun Pemerintah Kota Kendari telah memberikan inspirasi kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia, bahwa barang yang sudah menjadi sampah dapat diubah menjadi produk bermanfaat bila ada kemauan untuk mengembangkannya.
Inspirasi itu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Banyak kemudian pemerintah daerah dan anggota DPRD yang datang studi banding manajemen pengelolaan sampah di Kota Kendari.
Pemerintah Daerah di Indonesia yang sudah pernah melakukan studi banding pengolahan sampah di TPAS Puwatu Kota Kendari, sudah hampir tak terhitung banyaknya. 
Misalnya saja Pemerintah Kota Makassar, Pemerintah Mandar Sulawesi Barat, Pemerintah Probolinggo, Pemerintah Tangerang Selatan, Pemerintah Nangro Aceh dan lainnya juga menggunakan metode yang sama dalam mengolah sampah di TPAS masing-masing wilayahnya.
TPAS Puwatu 
Letak Kampung Energi Mandiri sekitar 11 Km dari pusat pemerintahan kota Kendari, menuju arah barat. Untuk mencapai lokasi TPAS Puwatu sangat mudah, karena melewati jalan bekas lokasi Pusat Promosi dan Informasu Daerah (P2ID) Provinsi Sultra menuju Kantor Camat Puwatu atau terminal Puwatu.
Kondisi jalan menuju TPAS Puwatu sudah diaspal, sehingga hanya membutuhkan waktu tempuh antara 10-15 menit lamanya jika star dari Kantor Walikota Kendari.
Setiba di TPAS Puwatu yang berada di tengah hutan belantara, anda tidak akan mencium bau busuk yang menyengat. Kecuali mobil truk sampah melintas di depan, barulah akan tercium bau busuk yang lewat.
Biasanya yang namanya TPAS, sudah hampir dipastikan aroma tak sedap menyeruak ke mana-mana. Namun di TPAS Puwatu, aroma itu hampir tak tercium baunya. Sebab truk sampah yang hilir mudik menumpahkan sampah-sampah, hanya dalam hitungan menit sudah ditimbun dengan tanah. 
Mobil alat berat sudah stand by mengurug sampah yang tiba di TPAS Puwatu, sehingga sampah belum sempat dikerumuni lalat, sudah hilang dari permukaan tanah.
Karena kebersihan dan keasrian TPAS Puwatu sangat terjaga, sehingga Dinas Kebersihan Kota Kendari menjadikan tempat ini sebagai tempat rekreasi alam. Di tempat ini telah disiapkan gazebo tempat istirahat, sambil menikmati pemandangan alam terbuka sejauh mata memandang.  
Inilah cara unik yang dilakukan Pemerintah Kota Kendari, menyiasati sampah menjadi barang berguna untuk kepentingan hidup manusia, khususnya masyarakat Kendari. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia bahwa di tengah keterbatasan sumberdaya anggaran, masih ada cara lain yang dapat ditempuh dalam memaksimalkan potensi sumberdaya alam. 
Kamis, 10 Desember 2015/Jurnalis: Rustam/Editor: Sari Puspita Ayu/Foto: Rustam
Lihat juga...