Kasuami, Makanan Pokok Khas Pelaut Sultra yang Mulai Punah

SABTU, 19 DESEMBER 2015 
Jurnalis: Rustam / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Istimewa

KENDARI—-Pada tahun 1990-an, makanan tradisional Kasuami asal Wakatobi, Provinsi Sultra, sangat populer di kalangan masyarakat. Makanan yang terbuat dari ubi kayu ini dapat dibeli bebas di pasar, kios dan rumah makan di Kota Kendari.

Kasuami, makanan pokok pengganti nasi

Namun sekarang, seiring perkembangan zaman, makanan yang sangat merakyat ini perlahan-lahan hilang di pasaran. Hanya dapat dijumpai di kios-kios tertentu. Padahal kasuami ini tidak hanya dikonsumsi orang Wakatobi, tapi juga sudah dirasakan lidah etnis Tolaki, Muna, Bugis, Jawa, Buton, Ambon, Batak dan bahkan orang asing yang berkunjung.
Makanan kasuami ini awalnya diperkenalkan orang Wakatobi dan Buton. Namun dalam sejarahnya, kasuami ini kabarnya berasal dari Kepulauan Tukang Besi Wakatobi.
Kasuami diperkenalkan oleh para pelaut asal Wakatobi, tidak hanya di wilayah kepulauan Indonesia, tapi sampai ke Singapura, Pesisir Malaysia dan Filipina. Kasuami ini menjadi bekal makanan selama mengarungi lautan.
Dari sejak zaman dahulu, memang orang-orang Wakatobi dikenal sebagai salah satu etnis pelaut ulung di Nusantara. Mereke mendiami gugusan Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang disingkat menjadi Wakatobi.
Gugusan pulau Wakatobi berada di Laut Banda. Laut terdalam di Indonesia yang mencapai 7.000 meter. Struktur Pulau Wakatobi terbentuk dari lapisan batu, sehingga sangat sulit tumbuhan hidup subur, kecuali tanaman ubi kayu yang dapat bertahan hidup diantara sela batu-batuan.
Karena hanya ubi yang bisa tumbuh, maka orang Wakatobi mengenal makanan kasuami. Makanan ini dapat bertahan lama antara 14 sampai 20 hari. Bahkan bisa sampai 30 hari, jika ubi kayunya yang sudah diparut belum dikukus.
Karena makanan kasuami sudah turun temurun dikonsumsi, sehingga orang Wakatobi saat akan berlayar, sudah hampir dipastikan membawa bekal kasuami, selain beras.
Cara Membuat Kasuami
Ubi kayu yang ditanam, terlebih dahulu dicabut lalu kemudian dipisahkan antara umbi dengan batang umbi. Setelah itu, ubi kayu dikupas lalu dicuci bersih, hingga kelihatan putih jernih .
Biarkan beberapa menit ubi yang telah dicuci, agar sisa air hilang betul. Setelah kering, barulah kemudian ubi tersebut diparut.
Langkah selanjutnya, ubi yang telah diparut ditiris untuk menghilangkan kandungan air dalam ubi. Cara orang Wakatobi mengilangkan kandungan air, yaitu digepe. Cara tradisionil ini menggunakan kain warna putih yang bahannya cukup tipis. Parutan ubi ditaruh dalam kain tipis itu, lalu dibentuk bundar, menyerupai ban vespa. Orang Wakatobi biasa menyebutnya ka’opi.
Setelah dibentuk, kemudian dijepit sehingga air dalam ubi keluar sampai habis. Setelah proses pemerasan air dalam ubi kayu selesai, maka ka’opi tersebut dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari, hingga betul-betul dianggap kering.
Setelah kering, ka’opi yang belum mau dikonsumi dapat dibungkus dengan daun pisang. Tujuannya agar tidak lembab dan terhindar dari debu atau serangan bakteri perusak. Tujuan lainnya, supaya aroma khas ubi  kayu tidak hilang.
Untuk ka’opi yang mau dikonsumsi langsung, proses selanjutnya adalah dikukus. Sebelum dikukus, biasanya ditumbuk ulang kemudian diayak, agar lebih halus. Tapi yang tidak sempat lagi menumbuk, ka’opi dapat langsung dikukus.
Agar terasa gurih maka biasanya orang mencampur dengan kelapa parut secukupnya, kemudian menambahkan bawang yang telah ditumbuk halus. Maksudnya agar hidangan kasuami mempunyai rasa.
Supaya kasuami ini elok dipandang mata, biasanya dikukus dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari daun pandan. Selain berfungsi sebagai bahan cetakan, juga daun pandan dapat memberikan aroma wangi.
Setelah masak dari kukusan, dibaluri minyak goreng sedikit. Lalu kemudian dipukul-pukul dengan botol atau kayu yang bersih. Tujuannya agar kasuami yang telah dikukus dapat lebih padat, sehingga tidak ada rongga udara masuk ke dalam kasuami tadi.
Setelah semua selesai, kasuami dapat dihidangkan bersama ikan bakar,sayur dan sambel atau orang Wakatobi biasa menyebut colo-colo lombok dan tomat serta garam. Mau coba kasuami makanan tradisional ini, datang saja di Wakatobi. Pulau yangl dikenal dengan tagline surga nyata bawah laut.
Lihat juga...