Kelangkaan Pasokan, KPPU Duga Ada Kartel Beras di Indonesia

Pertemuan dengan Kementan, KPPU dan BPS
YOGYAKARTA — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik, hari ini menggelar sidak ke Pasar Beras Delanggu, Jawa Tengah. Inspeksi tersebut menyusul adanya dugaan praktik kartel beras yang berawal dari pemantauan KPPU di pasar induk beras terbesar di Cipinang, Jakarta, beberapa waktu lalu. 
Sekitar tiga minggu lalu, KPPU mendapati informasi dari asosiasi pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, yang menyebut jika sejak 3 bulan lalu terjadi penurunan suplai beras jenis IR 64 yang menyebabkan harga jual semakin tinggi. Padahal, beras jenis tersebut merupakan yang paling banyak dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat dari kalangan menengah ke bawah. 
Berdasarkan informasi tersebut, KPPU kemudian mendatangi sejumlah daerah yang selama ini menyuplai beras ke Pasar Induk Cipinang, di antaranya di Kerawang, Jawa Barat, Yogyakarta, dan  di sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Demak, Klaten, dan Surabaya Jawa Timur.
Faktanya, di Pasar Johar Kerawang, Bekasi, Jawa Barat, begitu banyak stock beras jenis IR 64 Medium disimpan di beberapa gudang. Sementara itu di Surabaya, KPPU mendapati informasi jika beras dari Surabaya, Jawa Timur, ditolak masuk ke Pasar Induk Cipinang, Jakarta. Berdasarkan temuan itu, KPPU menduga ada sejumlah pihak yang melakukan praktik kartel beras. 
Muhammad Syarkawi, Ketua KPPU
Demikian dibeberkan oleh Ketua KPPU, Muhammad Syarkawi Rauf, dalam pertemuannya bersama awak media di Yogyakarta, Rabu (2/12/2015). 
Syarkawi menegaskan, berdasarkan temuannya itu berarti kelangkaan tidak disebabkan karena stok beras nasional yang tidak ada, melainkan karena ada rantai distribusi yang terputus. 
“Kita akan selidiki apakah ada pihak yang sengaja menahan beras masuk ke Cipinang, atau ada perilaku pedagang di Cipinang yang menolak pasokan beras dari luar”, katanya. 
Dalam pertemuan itu, turut pula hadir R Kurnia Syahrani, Wakil Ketua KPPU, Adi Lukmaksono, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Pusat, Hasanuddin Ibrahim, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional serta Hasil Sembiring selaku Dirjen Tanaman Pangan  Kementerian Pertanian. 
Terungkap dalam pertemuan itu, bahwa tidak ada kelangkaan beras yang diakibatkan oleh ketiadaan stock beras. Melainkan ada beberapa hal yang masih harus diselidiki berkait mata rantai distribusi. Ini sebagaimana diungkapkan Dirjen Tanaman Pangan Kementan, bahwa berdasarkan data saat ini stock beras mengalami surplus 9-10 juta ton beras. 
Surplus beras itu terjadi karena ada peningkatan hasil panen. Hal demikian juga disampaikan oleh Adi Lumaksono selaku Deputi Statistik Produksi BPS, bahwa berdasarkan data yang dilansirnya, jika tidak mengalami surplus beras maka saat ini negara sudah mengimport beras. 
Sementara itu berkait peran Bulog, Hasanuddin Ibrahim selaku Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional mengatakan jika saat ini Bulog ibarat diberi kuasa namun kaki dan tangannya diikat. Sebab, menurutnya, dengan HPP yang begitu rendah, Bulog memang tidak mungkin bisa mendapatkan beras, karena pedagang lain lebih mampu untuk membeli beras dari petani dengan HPP yang jauh lebih tinggi.
Berdasar hasil kajian itu, KPPU bersama institusi terkait kini tengah melakukan penyelidikan, berkait kemungkinan adanya praktik kartel beras. Syarkawi mengatakan, pemantauan akan difokuskan di sektor distribusi, utamanya di penggilangan besar dan ke pedagang besar. 
“Kewenangan kita adalah penyelidikan dan memperkarakan dan menghukum denda Rp 25 Milyar bagi pelaku kartel. Apalagi dengan dukungan presiden  bahwa terhadap pelaku kartel beras ini KPPU diminta untuk bertindak tegas, bahkan mematikannya dengan cara mencabut izin usahanya”, pungkasnya. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Lihat juga...