Kementerian Agama Pantau Dana Bantuan untuk Gereja Katolik di Lampung

SENIN, 28 DESEMBER 2015
Jurnalis; Henk Widi / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG—Kementerian agama melalui sub bagian verifikasi bagian keuangan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik melakukan kunjungan ke sejumlah gereja Katolik di Provinsi Lampung. 
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melakukan monitoring atau pemantauan terhadap pelaksanaan pembanguan dan rehabilitasi rumah ibadah agama Katolik yang sedang berjalan serta akan berjalan. Beberapa bangunan rumah ibadah bagi umat Katolik tersebut dilakukan di wilayah Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Martha Istiyarti Kepala Sub Bagian Verifikasi Bagian Keuangan Sekretariat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia pada kunjungan akhir mengunjungi pembangunan gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus unit Pastoral Bakauheni Lampung Selatan. 
Sebelumnya Martha yang didampingi oleh tim monitoring diantaranya Antonius Wandiyo, kepala Bimas Katolik Kabupaten Lampung Selatan JB Idrus Efendi juga mengunjungi pembangunan gereja di wilayah Margo Agung dan Trimomukti yang ada di Keuskupan Tanjungkarang.
“Kami melakukan pemantauan terhadap bantuan yang diberikan kepada setiap gereja yang mendapatkan bantuan dari kementerian agama secara khusus gereja, kami temukan semua sudah berjalan sesuai dengan perencanaan pembangunan,”ungkap Martha saat dikonfirmasi media Cendananews.com seusai mengunjungi pembangunan gereja Katolik Pasuruan, Senin (28/12/2015).
Martha mengungkapkan dari pihak Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama pemberian bantuan tersebut diberikan kepada beberapa gereja Katolik di seluruh wilayah Indonesia yang benar-benar membutuhkan. Sementara itu berdasarkan temuan di lapangan, ia mengungkapkan dana yang dikucurkan untuk proses rehabilitasi bangunan rumah ibadah yang sudah rusak, hampir roboh atau membangun bangunan gereja baru telah dilaksanakan dengan baik. Selain itu tim verifikasi juga melihat secara langsung dokumen persyaratan pembangunan rumah ibadah diantaranya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), rekomendasi dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), rekomendasi dari masyarakat sekitar, serta persyaratan lain yang diharuskan untuk pembangunan rumah ibadah.
“Kita pantau apakah dana yang dikucurkan Kementerian Agama benar-benar digunakan dan sejauh mana pemakaian anggaran yang merupakan bantuan dari pemerintah tersebut,”ungkap Martha.
Martha menuturkan berdasarkan catatannya saat mengunjungi pembangunan gereja Katolik di Desa Pasuruan, saat ini gereja tersebut belum mendapat bantuan sama sekali dari Ditjen Binmas Katolik. Selama ini berdasarkan penuturan umat Katolik di wilayah tersebut, pembangunan dilakukan secara swadaya dan belum mendapat bantuan dari pemerintah pusat.
“Proses pengajuan bantuan sudah dikirimkan melalui surat ke Ditjen namun masih dalam tahap verifikasi dan kita usahakan agar pembangunan rumah ibadah ini juga bisa memperoleh bantuan,” ungkap Martha.
Pemantauan di sejumlah rumah ibadah Katolik tersebut menurut Martha sekaligus menjadi rekomendasi untuk bantuan tahap selanjutnya. Sementara untuk gereja Katolik Stasi Pasuruan yang sama sekali belum memperoleh bantuan ia berharap dalam pengajuan selanjutnya bisa segera disetujui. Sebab ia mengakui Ditjen Bimas Katolik juga memperhatikan bangunan gereja lain yang ada di Indonesia yang sebagian kondisinya sudah memrihatinkan.
Pembangunan rumah ibadah gereja Katolik di Desa Pasuruan hingga akhir tahun 2015 diketahui memasuki tahun kedua dengan beberapa tahap mulai dari tahap peletakan batu pertama hingga proses penyelesaian. Ketua pembangunan gereja Maximilianus Klimin mengungkapkan hingga tahap keempat, pembangunan masih menyelesaikan pembangunan menara setinggi 27 meter. Sumber dana yang dikucurkan untuk pembangunan rumah ibadah tersebut selama ini murni swadaya umat serta bantuan beberapa donatur.
“Kami terus melakukan pembangunan meskipun mengalami keterbatasan dana namun berkat semangat dan bantuan umat Katolik proses pembangunan gereja terus berjalan,” ungkapnya.
Pembangunan rumah ibadah bagi sebanyak 80 kepala keluarga tersebut dilakukan setelah gereja lama yang berada di desa yang sama sebagian besar sudah rusak. Kerusakan terjadi pada bagian dinding gereja diantaranya retak, plafon jebol dan kerusakan lain akibat umur bangunan gereja lama yang sudah mencapai puluhan tahun.
Proses pembangunan gereja yang sudah berjalan pada tahun kedua dikerjakan secara gotong royong oleh umat. Kaum wanita dan anak anak pun bahkan terlibat selain para laki laki dalam proses penyelesaian pembanguan rumah ibadah bagi umat Katolik di wilayah Lampung Selatan tersebut.
Lihat juga...