Kirab Niti Laku Dies Natalies ke-66 Universitas Gadjah Mada


YOGYAKARTA — Sebanyak 4.000 lebih alumni dan mahasiswa serta masyarakat umum, terlibat dalam kirab besar memperingati dies natalies ke-66 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Minggu (13/12/2015), pagi. Kirab diberangkatkan dari Pagelaran Keraton Yogyakarta, menuju Balairung UGM di Bulaksumur, Yogyakarta.
Memperingati dies natalies ke-66 Universitas Gadjah Mada dan dies natalia ke-57 Keluarga Alumni UGM (Kagama), sebuah kirab bertajuk niti laku digelar. Niti laku yang berarti mengenang tapak tapak tilas itu dimulai dari Komplek Pagelaran Keraton Yogyakarta, karena di tempat itulah untuk pertamakalinya UGM melangsungkan kegiatan perkulihanannya.
Toyo S Dipo, Ketua Panitia Kirab menjelaskan, atas perkenan Sultan HB IX pada sekitar tahun 1946 UGM dipinjami tempat di Pagelaran Keraton. Saat itu, UGM masih bernama Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada.
Karena itu, katanya, kirab niti laku diadakan setiap peringatan dies natalis untuk mengingat sejarah berdirinya UGM. Untuk memeriahkannya, diadakan pula kirab parade budaya Nusantara. Ini karena UGM dikenal sebagai universitas kerakyatan dan mahasiawanya berasal dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Parade budaya Nusantara juga digelar sebagai harapan agar UGM juga senantiasa bisa menjadi perekat kesatuan bangsa. Kebhinekaan dirangkum dan dijalin secara baik melalui dies natalis, sehingga persatuan dan kesatuan NKRI tetap terjaga. “Kirab ini diikuti oleh 4.039 peserta. Itu yang tercatat, dan diperkirakan yang tidak tercatat masih banyak sekali. Dalam kirab ini juga ditampilkan beragam kesenian dari Sabang sampai Merauke”, jelasnya.
Didampingi Prof Ali Agus sebagai Ketum Dies Natalis Ke-66 UGM, Toyo mengatakan, pesan pokok dari diadakannya kirab niti laku adalah supaya para alumni UGM selalu ingat, bahwa UGM milik rakyat, milik pemerintah, dan alat pemersatu bangsa yang harus selalu bisa mencerdaskan bangsa sesuai kepribadian bangsa dan mengajarkan nilai-nilai budaya, karena pembangunan tanpa budaya itu rapuh.
Hadir dalam kirab niti laku tersebut sejumlah tokoh di antaranya Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Marsudi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Acara dibuka oleh Gubernur DIY, Sultan HB X yang juga merupakan alumni UGM. Juga Walikota dan wakil, Wakapolda DIY serta Danrem 072 PMK Yogyakarta serta segenap tamu undangan lainnya. Sultan dalam sambutannya mengharapkan, agar UGM betul-betul menjadi kampus excelent dan selalu mengadakan riset untuk kepentingan bangsa dan negara.
Sementara itu, Ganjar Pranowo yang ditemui sebelum acara kirab, menyatakan harapannya, agar ada satu sinergi yang diciptakan dari kampus, alumni, untuk turut serta dalam mengembangkan dunia usaha dan pemerintah. 
Dari rakernas Kagama kemarin, kata Ganjar, juga telah disepakati agar seluruh alumni UGM di mana pun bisa mengabdikan ilmunya dan berkontribusi nyata. Beberapa hal, menurut Ganjar, juga telah dibahas oleh Kagama, antara lain masalah kebakaran hutan, solusi dari kegaduhan politik dan pengembangan sumber energi dan penguatan kedaulatan pangan. Juga penegakan hukum dan korupsi.
Kirab Niti Laku juga menghadirkan helicopter pertama yang dimiliki oleh Indonesia, yaitu Helicopter Hiller 360. Helicopter tersebut buatan Amerika Serikat dan merupakan helikopter pertama milik TNI Angkatan Udara. Keberadaan helikopter itu menjadi bernilai bukan hanya karena menjadi pesawat pertama, namun menjadi helicopter pertama jyang dinaiki oleh Presiden Soekarno pada tahun 1950. 

Minggu, 13 Desember 2015/Jurnalis: Koko/Editor: Gani Khair/Foto: Koko
Lihat juga...