Komunitas Pekerja Seks Yogyakarta Gelar Diskusi Terkait Kekerasan

Kamis, 17 Desember 2015 / Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu

Suparjiyem. Ketua P3SY
YOGYAKARTA — Memperingati hari anti kekerasan terhadap pekerja seks, Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY), menggelar diskusi publik bersama stakeholders di Pendopo Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta, Kamis (17/12/2015). Diskusi mengungkap praktik kekerasan terhadap pekerja seks masih terjadi, sedangkan penanganan korban masih deskriminatif.
P3SY mengungkap, selama dalam tahun ini kekerasan terhadap pekerja seks masih terus terjadi. Bahkan sampai pada pertengahan tahun 2015, P3SY mencatat ada 10 perempuan pekerja seks di bawah umur. Salah satunya bahkan dipekerjakan sendiri oleh orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 
Sementara itu, dari hasil survei Sero Survey menunjukkan ada peningkatan jumlah pengidap HIV AIDS, yaitu dari 25 orang di tahun 2014, menjadi 29 orang di tahun 2015. Sedangkan dalam hal penanganan kasus pekerja seks sebagai korban tindak, acapkali terjadi diskrimanatif. Karena itu, diskusi publik melibatkan seluruh stakholders seperti Kecamatan, Kepolisian dalam hal ini UPPA, dan Puskesmas, guna mencapai kesepahaman bersama dalam hal menangani kekerasan terhadap pekerja seks.
Demikian dipaparkan Suparjiyem alias Sarmi, Ketua P3SY, saat ditemui sesaat sebelum acara diskusi dimulai. Sarmi mengatakan, diskusi diharapkan bisa mereduksi stigma dan deskriminasi terhadap pekerja seks. Selain itu, diskusi dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap pekerja seks ini juga untuk mengkampanyekan pencegahan HIV Aids dan kekerasan, serta merangkul seluruh stakeholder sehingga upaya perlindungan terhadap pekerja seks bisa lebih optimal.
Suasana diskusi
Lebih lanjut, Sarmi menjelaskan, sejak tahun 2014 pihaknya telah  mengadakan acara serupa setiap tanggal 17 Desember untuk memperingati hari anti kekerasan terhadap pekerja seks. P3SY, jelasnya, merupakan sebuah wadah bagi para pekerja seks untuk mengadu dan sharing. P3SY dalam hal ini berperan sebagai pendamping, yang akan mengarahkan pekerja seks sebagai korban kekerasan untuk melaporkan kasusnya dan mendapatkan bantuan hukum.
Sarmi menegaskan, dengan adanya P3SY dan segala hal yang dilakukannya, bukan berarti seks komersial itu bisa dilegalkan. Namun, karena keberadaan mereka tidak bisa dicegah, maka perlu ada pihak atau lembaga  yang bisa memberikan wadah bagi mereka, karena bagaimana pun mereka sebagai manusia tetap memiliki hak yang sama. “P3SY sendiri kini terus berupaya merangkul semua komunitas, dan saat ini telah bergabung antara lain dari Bunga Seroja yaitu komunitas pekerja seks Sosrowijayan, Arum Dalu Sehat yang merupakan komunitas pekerja seks dari Ngebong, Surti Berdaya dari komunitas pekerja seks Giwangan”, pungkasnya.
Sumber foto: Koko Triarko
Lihat juga...