Lindungi Ekosistem, Jumlah Pendaki Gunung Merapi Yogyakarta Dibatasi

SELASA, 29 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA — Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) DI. Yogyakarta, mengeluarkan pembatasan jumlah pendaki Gunung Merapi. Hal itu dilakukan untuk mencegah rusaknya ekosistem, di samping juga demi keselamatan para pendaki.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGM Yogyakarta, Tri Atmojo.
Gunung Merapi masih menjadi daya tarik bagi para pendaki dari berbagai daerah. Beragam ancaman yang acapkali meminta korban nyawa, tak membuat nyali para pendaki menciut. Sebaliknya, jumlah pendaki dari tahun ke tahun terus meningkat. 

Namun, banyaknya jumlah pendaki dikhawatirkan justru bisa merusak ekosistem di kawasan badan gunung, mengingat saat ini banyak tunas baru atau tetumbuhan yang sedang dalam tahap pertumbuhan pasca bencana erupsi tahun 2010 dan kemarau panjang kemarin.

Karena itu, untuk mengantisipasi membludaknya jumlah wisatawan pendaki di Gunung Merapi pada malam tahun baru nanti, Balai TNGM Yogyakarta menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Di antaranya membatasi jumlah pendaki sebanyak 2.500 orang, dan membatasi wilayah pendakian hanya sampai di Pos Pasar Bubrah. Kecuali itu, Balai TNGM juga melarang para pendaki membawa korek, apalagi membuat api di kawasan gunung, dan meminta agar para pendaki membawa plastik guna menyimpan sampah selama berada di kawasan gunung.

Demikian dikatakan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGM Yogyakarta, Tri Atmojo, saat ditemui di kantornya, Selasa (29/12/2015). Mojo menjelaskan, pembatasan jumlah pendaki terpaksa dilakukan, untuk mengurangi potensi kerusakan ekosistem di wilayah gunung. Dikawatirkan, jika jumlah pendaki terlampau banyak juga akan menyebabkan kepadatan di jalur pendakian yang bisa sangat membahayakan para pendaki sendiri.

Untuk itu, pihaknya sudah menyiapkan 17 personel keamanan dari Balai TNGM yang akan ditempatkan di 7 Pos pendakian yang ada mulai dari pos paling bawah di Pos I di Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Ketujuh belas personil dari Balai TNGM akan bergabung dengan personil lain dari TIM SAR DIY, POLRI dan TNI.

Mojo mengimbau, para pendaki bisa mentaati semua imbauan tersebut, utamanya agar tidak mendaki lebih tinggi dari Pos Pasar Bubrah. Pasalnya, di atas Pos Pasar Bubrah merupakan kawasan batuan muda yang sangat rawan longsor. Pada bulan Mei lalu, katanya, di kawasan batuan muda itu telah menyebabkan satu orang pendaki terpeleset dan jatuh ke dalam kawah gunung tersebut.
Lihat juga...