Mengenal Yance Moa, Putra NTT yang Bangga Melestarikan Budaya Membuat Gerabah

SELASA, 29 DESEMBER 2015
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary

CATATAN JURNALIS—Yohanes Vianey Moa biasa disapa Yance sudah menanti kedatangan Cendana News di kediamannya, Senin (28/12/2015 ). Perbincangan santai dilakukan di sebuah bale- bale bambu di bawah rindangnya beringin depan ruang pamer miliknya yang diberi nama Mia Keramik. Seraya menikmati kopi Flores, Yance berceritera banyak tentang motivasi dan suka duka menjadi pengrajin gerabah dan keramik hias. 

Yance Moa
Bukan sebuah kebetulan menurut Yance, dirinya dan sang isteri tercinta terlahir di kampung yang memiliki budaya membentuk tanah liat. Isteri saya sebut Yance, berasal dari kampung kecil bernama Rabangodu yang artinya membentuk tanah liat di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sementara dirinya berasal dari desa Wolokoli di Sikka yang tenar sebagai kampung gerabah.
“Budaya itu pernah hidup disana, dimana nenek isteri saya seorang pengrajin tetapi sayangnya di Rabangodu kini hanya menyisakan nama tak ada lagi pengrajin gerabah, sementara di Wolokoli masih tetap lestari. Kami berdua sebenarnya generasi berikut, namun dari sisi spiritual saya bangga ada di dunia gerabah “ tuturnya bersemangat.
Melestarikan Budaya

Memilih jalan hidup sebagai pengrajin gerabah bagi Yance adalah sebuah usaha yang berangkat dari upaya serta spirit menjaga warisan dari generasi ke generasi. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan suami isteri Paulus Moa dan Gerardina Dua Kesik ini mewujudkan konsistensinya melestarikan budaya leluhur dengan sungguh-sungguh terjun ke dunia pembuatan gerabah sejak 2011.
“Tapi dengan kecenderungan dan minat, saya masuk ke konsep pengembangannya. Kalau di kampung saya mereka masih memproduksinya secara tradisoinal “ terang suami dari Margaretha Yohana Moa.
Di tahun 2010 tutur pencinta lingkungan ini, dirinya kembali ke kampung Wolokoli dan belajar dari seorang anak muda yang sampai sekarang masih membuat gerabah. Sesudahnya, ia mencari ilmu dan mengasah keterampilan dengan berguru pada beberapa pengrajin besar di Lombok dan Yogyakarta yang mengharuskannya menetap selama kurun waktu satu dua bulan di tanah rantau.
Setelah merasa cukup bekal, tahun 2011 Yance kembali ke Maumere dan memastikan untuk terjun ke pembuatan gerabah. Jalan hidup ini ditempuh sebab menurutnya menjadi pengrajin gerabah setidaknya  bisa merangsang minat anak muda di kampung Wolokoli.
Dirinya meyakini generasi muda, adik-adiknya di kampung tidak mungkin membuat Tutuunu (gerabah) untuk dijual di pasar lokal karena pasar lokal adalah pasar milik nenek-nenek mereka yang berprofesi sebagai pengrajin gerabah. Gerabah buatan nenek-nenek dijual di pasar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu alat memasak Moke (arak). 
Dengan kondisi itu, Yance menilai kaum muda yang ingin mengembangkan dunia gerabah harus melakukan cara berbeda dan menentukan pasar yang berbeda pula, dan pasar pertama yang pernah Yance coba adalah negara tetangga yang dulu adalah saudara sebangsa setanah air.

“Saya pernah sekali membawanya ke Timor Leste, dan dalam silahturami antar daerah dan negara tadi kita punya banyak kesamaan. Kita sama-sama pernah dijajah Portugis, agama dan budaya adat istiadat juga mirip. Motif tenun ini juga untuk mereka tidak jauh berbeda tapi mereka lebih tertarik ke motif umum “ paparnya.
Melukis motif tenun ikat Sikka seperti motif Mawarani dan lainnya, kerap dilakukan Yance pada gerabah produksinya. Pria periang ini meminta sang isteri ke pasar dan membeli beberapa bahan dengan motif motif tenun ikat, dan jika dilihat menarik maka langsung diadopsi guna dilukis pada gerabah.
“Kalau gerabah dan keramik motif tenun, paling digemari di Sikka saja. Karena kalau kita bawa ke kabupaten lain mereka juga punya motif sendiri, belum tentu mereka suka “ ungkap tamatan SMA 1 Dili.
Bekerja Kolektif
Walau belum masuk kategori usaha besar, Mia Keramik tetap berproduksi secara rutin, Jika hanya bergantung pesanan, ucap Yance, usaha miliknya tentu tidak jalan. Menurut Yance, usaha keramik ini bukan sekedar bisnis tapi menyalurkan rasa cinta pada kesenian yang diwariskan leluhur. 
Ia menambahkan, berbisnis gerabah diantaranya kebanggaan sebagai putra daerah untuk melestarikan budaya sekaligus memanfaatkan nilai ekonomisnya. Dan untuk terus eksis, semuanya itu tergantung kerja keras dalam memproduksi dan memasarkan. 
Sekarang ini Mia Keramik memilik 11 orang tenaga kerja. 3 orang bertanggung jawab untuk. pemasaran dan 8 orang pengrajin yang bertanggung jawab pada kelangsungan produksi. Konsep kerja yang diterapkan Mia Keramik sedikit berbeda, dimana satu tahun dua bulan penuh melakukan produksi untuk kemudian tiga bulan istirahat.
“Dalam tiga bulan istirahat produksi, ketersediaan stock harus terjamin. Jadi disini semua contoh produk cadangannya masih ada, ketika cadangannya mulai berkurang mereka harus mulai aktif lagi “ terang lelaki kelahiran Lela, 2 Mei 1966 ini.
Jenis-jenis gerabah buah karya Mia Keramik terdiri atas bangku, meja, sirkulasi air. Untuk produk jenis lain yang juga diproduksi Mia Keramimk adalah Vas Ming (vas bunga), guci, aneka pot dan cindera mata. 
Mengenai harga produk Mia Keramik juga istimewa. Untuk gerabah setinggi 2,2 meter dijual dengan harga 4 juta. Untuk cinderamata, ada harga termurah yaitu 3 ribu saja. Lalu Yance memperlihatkan bangku meja papar, untu3 bangkk u dan sebuah meja dibandrol dengan harga 1,5 juta rupiah.
Selain di Sikka gerabah dan keramik hias karya rumah produksi yang bertempat di Dusun Wairhubing, Desa Watuliwung ini juga dipasarkan ke Flores Timur, Labuan Bajo, Ende, Kupang, Kefamenanu, dan Belu. 
Rutin Pameran

Pembeli produk Mia Keramik kebanyakan personal. Jika di Sikka semua instansi bank dan hotel menggunakan produk Yance sementara untuk di Kupang hampir semua hotel jadi pelanggan. Saat ditanyai CendanaNews berapa keuntungan yang didapat, dengan bergurau Yance menjawab relatif, tergantung besar kecilnya produk. Yang pasti dirinya bisa membiayai tenaga kerja dan memperoleh kehidupan yang cukup untuk dirinya dan keluarga.
Tidak semua produksi ditawarkan ke pasaran  misalnya desain tertentu seperti motif marmer.  Ia baru akan lepas ke pasaran jika ia melihat pelanggannya mulai bosan dengan motif sebelumnya. Ada berapa kali pameran yang dikiuti Mia Keramik yakni di Kupang sudah lima kali, NTT Fair 3 kali, NTT Expo 2 kali, Labuan Bajo saat Sail Komodo, sementara di Jakarta saat gelaran Trade Expo. 
Pameran merupakan sarana untuk memperkenalkan produk. Kalau bisa produksi kita harus bisa menjual ungkap pria yang gemar mengajak masyarakat melakukan penghijauan.
“Kalau pameran di Kupang itu insiatif saya daripada stand Sikka tidak diisi. Saya harus biayai sendiri, paling tidak saya harus punya modal tapi dalam kebanggaan sebagai orang Sikka saya harus mengumumkan bahwa kita juga punya gerabah yang bagus,tanah liat bagus “ tutur anak dari mantan Bupati Sikka ini. 
Punya Kelebihan

Kalau dalam dunia gerabah keramik hias, ukuran lokal di NTT, Yance katakan dirinya menghormati dengan semua karya, tetapi biarlah dia bicara entah nanti diakui atau tidak, tetapi dia hanya mau bilang, Sikka selain memiliki tenun ikat juga memiliki budaya tanah liat yang luar biasa. Kualitas tanah liat Wolokoli ungkapnya sama seperti tubuh manusia dia punya “tulang dan daging”, jadi ketika dia dibakar dengan ukuran jam sekian dia sudah punya kekuatan. Kalau daerah lain ketika dibakar dia cuma punya daging saja tidak punya “tulang” sehingga tidak ada kekuatan.
“Itulah kelebihan tanah liat Wolokoli, periuknya dibakar berjam-jam,  berbulan-bulan bahkan setelah dipakai bertahun-tahun dan dibakar berulang-ulang kali periuknya tetap bagus“ sebut ayah lima anak ini.
Saat Mia Keramik tampil di Trade Expo, Menteri Koperasi kagum karena saat itu mereka tampil dengan model tanah liat yang berbeda, bentuk tanah liat yang salah buat.Itu yang membuat menteri datang dan mampir ke rumah produksi Mia Keramik tahun 2013.
“Tanah kita cepat kering, tanah dan iklim sangat membantu kita. Ini terkait dengan kecepatan proses produksi, kecepatan untuk menyediakan permintaan. Itu yang jadi keunggulan kita, cuma selama kita berjuang sendiri tentu pintar – pintar atur nafas sebab modal terbatas “ katanya.
Waktu Menteri Koperasi datang ke tempatnya dan ditanyai minta modal berapa dan dijawab 250 juta rupiah, Mentri dan semua orang tertawakan dirinya bahkan marah. Dikatakan Yance, dia hanya katakan dirinya bukan penganut orang yang minta besar tapi penganut melakukan hal yang paling kecil tapi manfaatnya besar.
“Saya minta nilai real dan saya akan buktikan manfaatnya.  Sukur-sukur menteri belum sempat bantu, tapi saya enjoy saja. Itu motivasi buat saya,supaya saya semangat, itu kebanggan buat saya dan saya imani belum tentu yang saya minta akan saya dapatkan. Tapi saya bersyukur, beliau mau kesini, itu kebanggan buat saya, kebanggan dalam berceritera bahwa saya pernah dikunjungi menteri, kebanggaan sebagi pengrajin, karena saya pengrajin lah maka mereka semua mengunjungi saya “ tuturnya seraya tertawa lepas.
Kejadian ini membuatnya memotivasi semua pengrajin dengan berpesan, jadilah pengrajin dan bangga karena sekarang jamannya kreatif. Pengrajin akan dihargai dan dimuliakan tapi kalau tidak mau tekun tidak mau serius maka itu sebuah kerugian. Yance mencontohkan kunjungan dari pemerintah pusat diantaranya dari Kementrian Daerah Tertinggal, Menteri Lingkungan Hidup, Kementrian Pariwisata. Sementara dari pemerintah provinsi, Dinas Pariwisata dan Lingkungan Hidup selalu menyambagi bengkelnya.
Dalam sejarah dunia kerajinan ini di Indonesia beber Yance belum pernah dibuat meja ukuran diameter 1 meter tapi Mia Keramik sudah bisa memproduksinya. Pengrajin asal Sumatera Utara berupaya dengan diameter 80 sentimeter pada tahun 2009 tapi keramiknya pecah di perjalanan. 
“Ada tantangan di dunia kerajinan ini. Dalam dunia gerabah keramik hias, NTT tidak kalah. Kita siap hanya dalam menjangkau pasar yang lebih luas kita tidak bisa sendiri, itulah peran pemerintah. Saya sudah diminta ekspor ke Meksiko dan Perancis namun saya masih mengukur diri, masih belum ada modal. Satu hal yang pasti, lakukan hal kecil untuk manfaat yang besar “ pungkasnya mengakhiri obrolan.
Lihat juga...