Meski Pupuk Terpenuhi Petani Was-Was Padi Terserang Hama Busuk Batang


LAMPUNG—Ratusan petani sawah warga di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mulai melakukan aktifitas pemupukan pada tanaman padi milik mereka. Salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Komarudin (45) mengaku untuk meningkatkan produktifitas hasil panen yang baik ia mulai memupuk padi miliknya sejak beberapa pekan setelah tanam menggunakan pupuk Urea, SP36 dan KCL. Ketersediaan pupuk yang dibelinya dari kelompok tani menurut Komar telah membantunya untuk melakukan pemupukan tepat waktu sehingga tidak terjadi kelangkaan pupuk seperti pada tahun tahun sebelumnya.
Menurutnya selama hampir lima tahun lebih telah menjadi anggota kelompok tani (Poktan) Panca Usaha Tani. Melalui kelompok tersebut kebutuhan akan pupuk selalu terpenuhi berdasarkan luasan lahan serta kebutuhan petani yang tergabung dalam kelompok tersebut.
“Kelompok tani yang kami miliki salah satunya menyediakan kebutuhan pupuk dan obat obatan serta alat pengolah sawah diantaranya traktor serta kebutuhan akan tanki penyemprot yang menjadi invetaris bagi kelompok,”ujar Komarudin kepada media Cendananews.com Sabtu (12/12/2015).
Ia mengaku anggota kelompok Panca Usaha Tani saat ini terdiri dari sekitar 32 petani yang berada di Desa Pasuruan yang memiliki lahan ratusan hektar di wilayah tersebut. Selain memberi keuntungan dalam hal kebutuhan pupuk, obat obatan serta bibit, selama ini kelompok tani tersebut menurut Komar menggantungkan sumber pengairan dari saluran irigasi Way Asahan. Ketersediaan air diatur oleh anggota kelompok sesuai kebutuhan masing masing lahan dengan pola pengaturan pintu air saluran irigasi.
Selain itu kebutuhan akan pupuk menurut Komar salah satunya disusun oleh semua anggota kelompok dengan sistem Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang berguna untuk pengelolaan kebutuhan petani salah satunya pupuk bersubsidi.
“RDKK merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berdasarkan kredit/permodalan usahatani bagi anggota Poktan yang memerlukan maupun dari swadana petani,”terang Komar.
Saat ini Komar mengaku telah melakukan pemupukan sebanyak 2 kuintal pupuk urea, SP36 dan KCL yang sesuai dengan kebutuhan lahannya. Ia mengungkapkan kebutuhan akan pupuk saat ini lebih terorganisir karena kebutuhan pupuk berdasarkan kebutuhan petani. Selain penggunaan pupuk kimia ia mengaku masih menggunakan pupuk dari kotoran ternak kambing yang dimilikinya.
“Selama ini kami menggunakan pupuk bersubsidi yang diberikan kepada petani dengan luas lahan maksimal seluas dua hektar serta hanya akan diberikan kepada setiap petani yang bergabung dalam Poktan,”terangnya.
Meski mendapatkan pupuk lebih mudah untuk pemupukan lahan sawah miliknya, Komarudin serta beberapa petani lain di Desa Pasuruan mengaku saat ini dibuat resah dengan hama busuk batang. Sekitar delapan petak dari puluhan petak padi miliknya bahkan sudah membusuk terimbas hama tersebut.
“Sebisa mungkin kami lakukan penyulaman terhadap tanaman padi yang sudah membusuk sementara cara lain dengan melakukan penyemprotan meskipun hasilnya belum maksimal,”ungkap Komarudin.
Ia berharap petugas penyuluh pertanian atau instasni terkait dapat melakukan penyuluhan terkait cara penanggulangan akibat hama tanaman padi tersebut. Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang oleh petani disebut sebagai hama busuk daun tersebut dikuatirkan akan mengakibatkan penurunan produktifitas hasil padi yang ditanam oleh para petani. Sebab selama ini Desa Pasuruan merupakan salah satu lumbung padi di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
Petani lain yang mengalami hal serupa, Joni (34) mengaku sejak hama busuk batang yang menyerang tanaman padi miliknya, ia selalu rajin memeriksa setiap petak miliknya. Biaya operasional pengolahan sawah serta munculnya hama tersebut dikuatirkan akan merugikan petani dengan kegagalan panen.
“Kami selalu berusaha agar penyakit padi yang menyerang segera hilang sebab tanaman padi milik kami menjadi seperti terbakar, busuk,”ungkap Joni.
Minimnya pengetahuan tentang penyakit pada tanaman padi serta keterbatasan akan obat ditambah belum adanya penyuluh pertanian yang datang membuat ia pasrah jika harus gagal panen. Ia pun hanya bisa melakukan usah penyulaman tanaman lama yang sudah busuk dan menggantinya dengan bibit baru meski tak harus melakukan perombakan seluruh tanaman miliknya.

Sabtu, 12 Desember 2015/Jurnalis: Henk Widi/Editor: Gani Khair/Foto: Henk Widi
Lihat juga...