Motor Pustaka, Berkeliling Kampung Demi Mencerdaskan Anak Bangsa

Motor Pustaka
LAMPUNG — Memberikan kemudahan untuk generasi penerus di daerah mendapatkan akses mengenal dunia melalui buku, seorang pria bernama Sugeng Hariyono (31) memodifikasi motornya  agar dapat menjadi pustaka berjalan. 
Lelaki yang akrab disapa Sugeng tersebut merantau ke Provinsi Lampung dan membuat Motor Pustaka yang merupakan kendaraan roda dua yang dimodifikasi untuk menjadi tempat membawa buku buku. Buku buku tersebut selanjutnya dibawa keliling ke desa desa yang ada di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Sugeng Hariyono yang kini tinggal di Desa Pematang Pasir Lampung Selatan ini mengaku berasal dari Ponorogo, Jawa Timur yang merantau ke Lampung  dua tahun yang lalu. Ia mengaku menuntut llmu di UT UBBJ Surabaya Pokjar Ponorogo lulus D2 tahun 2012. Pernah mengelola perpustakaan sekolah dasar di Ponorogo.
“Sekarang saya bekerja sebagai tukang tambal ban di Pematang Pasir,namun saya masih menyempatkan waktu setelah Ashar sekitar jam tiga sore berangkat keliling ke desa desa membawa buku untuk dibaca masyarakat,”ujar Sugeng yang kesehariannya bekerja sebagai tukang tambal ban dengan penghasilan rata rata perhari hanya sekitar Rp20ribu.
Berangkat dengan kendaraan roda dua sederhana yang diberi nama Motorpustaka (Perpustakaan Keliling Inspirasiku) motor tersebut melayani masyarakat Desa Literasi dengan sistem baca dan pinjam gratis. Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Lebungnala di Kecamatan Ketapang.
Berjuang dengan motor pustaka miliknya, Sugeng mengaku awal mulanya berangkat dari keprihatinannya saat ia mengalami kesulitan untuk mencari buku, atau menemukan perpustakaan. Berangkat dari keprihatinan tersebutlah ia mengaku berniat membuat perpustakaan keliling menggunakan kendaran bermotor.
“Bekerja sebagai tukang tambal ban ide membuat perpustakaan keliling menggunakan motor awalnya mustahil tercapai namun dengan niat akhirnya bisa terwujud,”ungkapnya saat bercengkrama dengan Cendana News di Lampung, Senin (06/12/2015)..
Kondisinya yang masih terbatas tak menyurutkan niat laki laki ini dengan kendala belum memiliki motor dan tentunya buku. Sedangkan hasil dari pekerjaannya sebagai tukang tambal dirasa tak mungkin bisa membeli motor dan buku.
Selanjutnya ia berusaha menyisihkan hasil pendapatan dari tambal ban tiap hari untuk rencana mulianya tersebut. bermodalkan uang Rp.500 ribu akhirnya diperoleh motor di tukang besi rongsokan sebuah motor tua GL MAX tahun 1986 dalam keadaan mati mesin dah sudah banyak yang keropos.  Setelah diperbaiki maka motor tersebut bisa digunakan.
“Saat membeli motor rongsokan tersebut saya melihat di sudut rongsokan ada tumpukan buku dan koran. Saya pilih buku yang layak sehingga terkumpul 60 eksemplar buku,”kenangnya.
Selanjutnya Sugeng mulai keliling ke masyarakat dari rumah ke rumah untuk meminta sumbangan buku yang sudah selesai dibaca oleh pemiliknya. Awalnya ia memperoleh sebanyak 42 eksemplar. Bermodalkan sebanyak 42 eksemplar buku tersebut ia mulai berkeliling dari desa ke desa meski akhirnya beberapa masyarakat mulai bosan karena buku yang dimilikinya tidak bertambah. 
“Kendala baru yang saya hadapi diantaranya warga terutama anak anak ada yang bosan karena buku yang saya bawa hanya buku yang sama saat saya datang belum ada yang baru,”ungkapnya.
Ia mengaku, misi dari motor pustaka yang sedang dilakukannya agar minat dan budaya baca masyarakat terutama di daerah terpencil,tertinggal yang jauh dari ibu kota dapat lebih mudah mendapatkan buku bacaan. 
Kehadiran Motor Pustaka Selalu Ditunggu
Kehadiran motor pustaka yang berkeliling sambil membawa buku bacaan setelah ia bekerja sebagai tukang tambal ban rupanya dinanti masyarakat. Ia mengaku keinginan masayarakat terutama anak anak untuk membaca buku bukunya sangat tinggi. Bahkan jika ia tak datang dengan motor pustaka tersebut beberapa anak bertanya tentang ketidakhadirannya.
“Tapi saya terkadang terkendala saat tertentu motor dalam keadaan rusak atau kehabisan bensin sehingga warga memaklumi saat saya tak bisa datang,”ungkapnya.
Berjuang untuk membawa buku buku agar bisa dibaca masyarakat terutama anak anak di pedesaan memang tak mudah. Dalam perjalanannya Sugeng mengaku menghadapi kendala diantaranya keberadaan buku-buku masih kurang variatif dan jumlah buku yang menjadi koleksi motor pustaka miliknya masih belum memenuhi kebutuhan pembaca di desa yang ia kunjungi.
Ia berharap meski dengan fasilitas minim, ia bisa membantu masyarakat di pedesaan terutama generasi muda dalam hal penyediaan buku buku bacaan. Sugeng mengaku tetap berharap fasiltas yang memadai bisa diberikan kepada masyarakat agar kebutuhan untuk bahan bacaan bisa lebih terakomodir.
Selain itu laki laki kelahiran Ponorogo Jawa Timur pada  5 Mei 1983 silam ini mengaku
akan terus menyebarkan Virus literasi membaca dan ia selalu tak ketinggalan menyemangati dirinya dan orang orang di sekitarnya dengan slogan motorpustaka #membaca_Itu_Gaul.
SENIN, 07 Desember / Jurnalis : Henk Widi / Foto: Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...