Muara Sungai Way Lubuk Lampung, Sumber Rezeki Bagi Pencari Kepiting Bakau

Jum’at, 18 Desember 2015 / Jurnalis: Henk Widi / Editor: Gani Khair

Para penari kepiting berkumpul di warung Ami
LAMPUNG—Beberapa warga di Kalianda menggantungkan hidupnya dari usaha mencari kepiting bakau. Salah satunya adalah Naim (38) warga Dusun Bandargung Desa Way Lubuk Kecamatan Kalianda yang setiap hari menyusuri Sungai Way Lubuk hingga ke muara sungai di laut Kalianda. 
Sungai tersebut terkadang pada waktu tertentu pasang dan membawa air laut yang naik ke daratan. Kondisi tersebut menjadi kesempatan baginya untuk mencari kepiting bakau (Scylla sp) yang mulai bergerak ke daratan di sela sela akar pohon bakau atau dikenal dengan mangrove.
Sehari-hari ia mengaku mencari kepiting di muara way Lubuk sejak pagi hingga siang untuk dijual kepada pengepul yang menjualnya di tepi Jalan Lintas Sumatera. Bermodalkan alat seadanya berupa galah yang ujungnya diberi besi bengkok untuk menangkap kepiting ia berangkat dari rumahnya untuk mencari binatang air bercangkang keras dengan capit tersebut. Terkadang selain alat berupa galah Naim juga mempergunakan perangkap berupa bubu yang merupakan perangkap khusus untuk mendapatkan kepiting di aliran sungai.
Tempat dimana pencari kepiting mengais rezeki
“Sejak pagi saya mencari kepiting terkadang mendapat banyak tapi terkadang mendapatkan sedikit tergantung kondisi air di sungai ini kalau sedang pasang biasanya banyak kepiting naik ke tanggul atau di akar akar bakau,”ungkap Naim kepada Cendana News Jumat (18/12/2015).
Selain galah, sebuah tas terbuat dari bekas karung terselempang di pundaknya menjadi wadah hasil tangkapan kepiting yang diperolehnya. Meski pekerjaan mencari kepiting dilakukan setiap hari namun Naim mengaku memiliki pekerjaan sebagai petani meskipun hanya sebagai petani penggarap di lahan orang lain. Naim mengaku selama musim kemarau ia tak bisa menanam sehingga aktifitas mencari kepiting menjadi mata pencaharian yang bisa dipergunakan sebagai cara mendapatkan uang.
“Daripada menganggur tak dapat uang saya kadang menjadi kuli bangunan kalau ada waktu mencari kepiting di muara sungai ini apalagi mau bertani saat musim kemarau belum bisa, ini sedang persiapan menanam karena lahan tadah hujan,”ungkap Naim.
Memiliki tiga orang anak yang semuanya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) membuat Naim terus melakukan aktifitas yang bisa mengepulkan asap dapur keluarganya. Dalamn sehari sebanyak 4-5 ekor kepiting yang ditangkap dijual dengan harga sekitar Rp15ribu-Rp25ribu tergantung ukuran.
Ia mengaku mulai mencari kepiting sekitar 10 tahun lalu dengan sistem serupa mulai harga kepiting Rp400,- per ekor hingga kini per ekor dijualnya dengan harga maksimal Rp25 ribu untuk ukuran kepiting besar. Memperoleh uang sekitar Rp40 ribu-Rp50 ribu dari usaha mencari kepiting tersebut dipergunakannya sebagian untuk membeli beras jika jatah beras untuk masyarakat miskin (raskin) yang diperolehnya habis. Selain itu sebagian uang dipergunakan untuk memberi uang jajan bagi anaknya yang masih sekolah.
Ami
Selain Naim, warga lain yang memiliki pekerjaan serupa yakni Sobari (40) yang menjadi pencari kepiting sejak puluhan tahun lalu. Mencari ikan dengan perangkap di sepanjang aliran Sungai Way Lubuk merupakan pekerjaan sampingan selain pekerjaan utamanya sebagai pekebun. Sobari yang memiliki 6 orang anak tersebut juga mengaku berburu kepiting bakau untuk dijual kembali kepada pengepul untuk bisa memperoleh uang.
“Hari ini saya hanya memperoleh tiga ekor kepiting dan lumayan mendapat kepiting ukuran besar, harganya lumayan,”ungkap Sobari.
Selain mencari kepiting di tanggul sungai, di bawah pohon bakau, Sobari juga mencari ikan dengan sistem tajur. Pencarian ikan dengan sistem tajur tersebut dilakukan dengan memasang pancing dan ditinggalkan selama ia mencari kepiting. Beberapa jenis ikan yang diperoleh dipergunakan untuk lauk keluarganya dan tak pernah dijual karena hasilnya tidak selalu sama, Berbeda dengan kepiting yang jenisnya sama masih bisa dijual.
Kedua pencari kepiting tersebut selanjutnya menjual kepiting hasil tangkapannya kepada penjual kepiting di tepi Jalan Lintas Sumatera bernama Ami (39). Wanita yang sehari-hari mengumpulkan kepiting, ikan, hasil tangkapan warga mengaku sudah belasan tahun menjadi penjual kepiting dengan tempat sederhana berupa bangunan dari kayu dan bambu beratapkan daun rumbia.
Kepiting yang dibelinya dari para pencari kepiting selanjutnya dijual kembali kepada para pengendara yang melintas di jalan tersebut. Peminat masakan laut, kuliner berbahan ikan terkadang berhenti untuk membeli kepiting serta ikan yang dijual dengan harga bervariasi tersebut.
Ami yang merupakan warga Desa Way Lubuk Kecamatan Kalianda menjual beberapa ekor kepiting yang diikat menjadi satu diantaranya terdiri dari dua hingga empat ekor kepiting dengan harga Rp25 ribu hingga Rp85 ribu tergantung jenis kepiting yang dijualnya.
“Kalau jenis kepiting bakau yang saya jual harganya bervariasi tergantung ukuran karena peminat biasanya merupakan konsumen yang biasa makan di restoran olahan makanan laut dan ingin mengolah sendiri di rumah,”ungkapnya.
Ami mengaku, awalnya ia hanya menjadi penjual kopi di pinggir jalan namun semakin banyaknya pencari kepiting yang menitipkan hasil tangkapan kepadanya untuk dijual membuat dirinya memutuskan untuk menjadi pengepul kepiting. Meskipun terkadang kepiting yang sudah dipajang di tepi jalan tersebut tidak laku sama sekali ia kemudian menyimpannya di wadah yang sudah disiapkan agar kepiting miliknya tidak mati dan bisa dijual keesokan harinya.
Ami menuturkan, niat awal untuk saling membantu terutama bagi para pencari kepiting membuatnya dikenal sebagai penjual kepiting. Terkadang saat liburan peminat banyak yang membeli kepiting di warung sederhana miliknya yang biasa dilintasi pengendara kendaraan roda empat dan roda dua dari arah beberapa kota di Sumatera menuju Pulau Jawa.
Hasil tangkapan siap dijajakan
“Pembelinya beragam, terkadang warga lokal terkadang orang Jakarta yang ingin merasakan kepiting di sekitar sini yang rasanya lebih enak dibandingkan kepiting lain,”ungkapnya.
Ia mengaku meskipun menempati warung sederhana dengan peralatan sederhana yang dipergunakan oleh para penangkap kepiting seperti bubu, perangkap, jaring serta bak bak penampungan sederhana, namun usahanya tersebut menjadi penopang bagi warga pencari kepiting. Ia mengaku secara tak langsung membantu warga lain yang sehari-hari mencari kepiting untuk mendapatkan uang bagi kebutuhan hidupnya.
“Saling membantu juga karena kalau pencari kepiting menjual sendiri sendiri jumlahnya sedikit tapi kalau dijual di sini kumpulan dari pencari kepiting lain kan banyak jadi banyak pilihan bagi pembeli,”ungkap Ami.
Ia mengaku, usahanya ini tak mendapat perhatian dari pihak manapun terutama pemerintah. Sebab usaha yang merupakan salah satu ciri khas di Lubuk dan menjadi usaha warga pencari kepiting masih menggunakan sarana warung sederhana. Selain itu alata alat tangkap yang digunakan masih cukup sederhana sehingga Ami dan beberapa penangkap kepiting berharap ada bantuan dari pihak tertentu terutama instansi yang menangani bidang perikanan.
Selain itu Ami dan warga pencari kepiting bakau berharap agar habitat kepiting bakau di hutan mangrove aliran sungai tidak dirombak untuk pembangunan tambak atau bangunan. Selama ini bakau yang tumbuh di sepanjang sungai merupakan habitat alami yang sebagian sudah tergusur oleh pembangunan menggunakan alat berat. Keutuhan habitat kepiting bakau di antara pohon bakau di sepanjang sungai merupakan kelangsungan mata pencaharian warga yang tinggal di sekitar wilayah tersebut yang menggantungkan hidup dari berburu kepiting.
Sumber foto: Henk Widi
Lihat juga...