Muhsina Berharap Bisa Menikmati Masa Tua dengan Melihat Keberhasilan Anaknya

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Jurnalis: Turmuzi / Editor: Sari Puspita Ayu / Foto: Turmuzi

MATARAM—Di tengah hiruk pikuk ratusan ibu-ibu istri pejabat berpesta dan menyelenggarakan berbagai acara merayakan Hari Ibu dengan di hotel dan tempat istimewa lain, pemandangan berbeda nampak terlihat pada kehidupan ibu rumah tangga di pinggiran Kota Matara.


Tidak ada acara istimewa maupun pesta perayaan, semua warga menjalani rutinitas seperti biasa, mengurus keluarga, bekerja ke sawah dan berjualan seperti hari biasa.
“Kalau kita mana tau namanya Hari Ibu, apalagi sampai membuat acara segala, tidak ada uang, kalaupun ada, daripada membuat acara seperti itu lebih baik dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan biaya anak sekolah” cerita Munisah (35), penjual sayur keliling asal Pejeruk Kebon Bawak Barat, Kota Mataram kepada Cendana News, Selasa (22/12/2015).
Meski demikan, sebagai ibu, ketika ia ditanya tentang perannya sebagai ibu, ia menyampaikan harapan sederhananya bahwa ia hanya ingin anak-anaknya belajar dengan baik dan tidak macam-macam sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasnya. Karena ia hanya ingin anak-anaknya berhasil mendapatkan pendidikan yang terbaik agar kelak tidak menjadi seperti dirinya yang hanya bisa berjualan sayur keliling di Perumahan BTN di seputaran Ampenan Kota Mataram. 
Setelah 15 tahun menjalani profesinya, Musinah memiliki harapan agar sampai kapanpun, anak-anaknya tetap memiliki kasih sayang untuknya, walaupun tidak sedang merayakan Hari Ibu. 
“Berjualan sayur keliling sudah 15 tahun, dari hasil berjualan tersebut saya bisa membantu meringankan beban suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak,” ujarnya sambil mengkisahkan tentang suaminya yang juga berprofesi sebagai pedagang keliling, tetapi beda barang dagangan. Suaminya berjualan makanan kecil yang dikenal dengan nama cilok. 
Perihal penghasilan, Musinah menjelaskan bahwa penghasilannya cukupp lumayan, demikian juga suaminya. Ia dan suaminya memiliki mimpi terbesar, sebelum tua dan tak mampu lagi berjualan keliling, anak-anaknya sudah jadi “orang besar” dan mereka berdua bisa menikmati hari tua dengan menyaksikan keberhasilan anak-anaknya setelah ia dan suami bekerja keras. 
Lihat juga...