Musim Angin Barat, Nelayan Lampung Pilih Tidak Melaut


LAMPUNG—Musim angin barat yang melanda sebagian besar perairan Lampung berpengaruh terhadap penghasilan nelayan dalam usaha penangkapan ikan. Akibat kecepatan angin yang cukup kencang mengakibatkan nelayan sebagian memilih menyandarkan perahunya terutama para nelayan yang memiliki perahu dengan kapasitas kecil di bawah 15 Gross ton. Sementara perahu perahu nelayan berukuran besar di atas 15 gross ton masih tetap melakukan aktifitas melaut.
Faktor cuaca tersebut diakui oleh sebagian besar nelayan yang melakukan aktifitas di pesisir Lampung Selatan, Selat Sunda dan Teluk Lampung terjadi selama beberapa hari ini dan diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Sebagian nelayan bahkan memanfaatkan cuaca angin barat yang memiliki kecepatan cukup kencang dengan memperbaiki jala serta memeriksa mesin perahu milik mereka.
“Kalau cuaca sedang tak bersahabat kami tidak mau nekat karena berhubungan dengan keselamatan dan memang ini menjadi kesempatan kami untuk istirahat serta melakukan aktifitas di darat,”ungkap Romli, salah satu nelayan pesisir Kalianda kepada Cendana News, Minggu (13/12/2015).
Ujang bahkan mengungkapkan, beberapa kelompok nelayan ada yang memiliki fasilitas internet di rumahnya untuk megakses informasi cuaca dari stasiun meteorologi maritim Panjang, Lampung. Berdasarkan informasi yang Ujang peroleh, kecepatan angin di wilayah Hindia Barat Lampung kecepatan angi dari arah Barat Daya ke Barat mencapai 2-15 knot, perairan Barat Lampung mencapai 3-15 knot dengan ketinggian gelombang mencapai 0,75 meter-1,5 meter. Sementara cuaca perairan di sebagian wilayah Lampung memiliki ketinggian gelombang menyulitkan nelayan yang memiliki perahu ukuran kecil.
“Sebagian besar nelayan di sekitar perairan Kalianda masih mengurungkan niat untuk pergi melaut mencari ikan karena pengaruh cuaca saat ini, mereka takut terjadi apa-apa di tengah laut nantinya,” kata dia.
Meskipun saat ini cuaca sedang buruk, masih terdapat penghasilan lainnya selain menangkap ikan di laut lepas karena nelayan sebagian ada yang memiliki bagan apung tak jauh dari pantai untuk menangkap cumi dan ikan teri. Ikan teri serta cumi tersebut diperuntukkan untuk pembuatan teri kering yang sebagian diekspor. Teri yang sudah dikeringkan menurut Ujang disortir dengan cara membuang bagian kepala dan dijual ke pengepul di Jakarta untuk dikirim ke Taiwan. Sementara bagian kepala diperuntukkan untuk produsen pakan ternak.
Sedangkan untuk ikan, untuk saat ini mereka masih tetap dapat penghasilan yang cukup lumayan, salah satunya mereka masih tetap mendapatkan ikan tongkol dan beberapa jenis ikan lainnya, untuk ikan tongkol sendiri yaitu 2-3 ton pada bulan Oktober dan 1 ton per harinya pada bulan Desember ini.
“Walau pendapatan kami minim dari ikan sejak beberapa bulan ini, kami masih tetap dapat penghasilan lain yang akan kami gunakan untuk kebutuhan sehari hari,” kata Ujang.
Meskipun sebagian besar para nelayan tidak dapat pergi berlayar jauh untuk mencari ikan karena faktor cuaca ini, mereka tetap melaut hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai.
Sebagian nelayan bahkan tetap melaut meski berlindung di teluk sekitar Pulau Sebuku, Pulau sangtiga serta sebagian wilayah Pulau Legundi dan Pulau Sebesi.
Dampak cuaca yang tak bersahabat tersebut diantaranya dengan melambungnya harga ikan di sejumlah pasar tradisional di Lampung. Para pedagang ikan yang sehari-hari menjual ikan laut terlihat tak memiliki stok yang cukup banyak. Bahkan sejumlah lapak pedagang terlihat kosong, dan hanya menjual ikan air tawar.
Kelangkaan pasokan ikan laut ini membuat harga jual ikan laut mengalami kenaikan. Seperti ikan kembung, pari dan ikan tongkol yang biasanya dijual di kisaran Rp20 Ribu-Rp30 Ribu per kilogram, kini dijual di kisaran Rp35 Ribu per kilo. Bahkan ikan dencis naik hingga dua kali lipat menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Matmunah (33) pedagang ikan di Pasar Kalianda menyebutkan, kelangkaan ikan laut ini sudah terjadi sejak tiga hari terakhir. Ia mengaku jikapun ada pasokan yang masuk, kualitas ikan tidak sebaik hari-hari biasanya. Harganya belinya pun lebih mahal dari biasanya.
“Ada pengurangan pasokan memang dari nelayan, tapi belum terasa cuma memang setiap di letak langsung habis. Ya kita jadikan kesempatan untuk mencari untung lebih lah. Karena memang katanya di tempat lain pasokan minim karena nelayan enggak melaut,” ungkapnya.
Matmunah mengaku, kondisi serupa telah berulang kali terjadi setiap kondisi cuaca perairan berubah sehingga masyarakat sebagian sudah bisa melakukan antisipasi dan penyesuaian diantaranya dengan membeli jenis lauuk lainnya. Namun menurutnya kondisi akan kembali normal, baik karena cuaca mulai membaik atau karena pola konsumsi masyarakat yang menyesuaikan diri.

Minggu, 13 Desember 2015/Jurnalis: Henk Widi/Editor: Gani Khair/Foto: Henk Widi
Lihat juga...