Nasib Gelanggang Olahraga Bangga Suka Desa Peninggalan Pak Harto


KENDARI—Prasasti bercorak hitam bertuliskan tinta emas, terpajang di salah satu sudut dinding tembok pintu masuk. Prasasti itu berada dalam lingkaran coretan dinding yang berwarna-warni  tak karuan. Belum lagi sampah dan aroma tak sedap yang bersumber dari toilet tak terurus menyeruak menusuk hidung.
Padahal prasasti yang dipasang permanen di dinding,  merupakan prasasti bersejarah dalam membangun peradaban Bangsa Indonesia di era Pemerintahan Orde Baru. Di prasasti yang terabaikan itu, terdapat goresan tanda tangan Soeharto, mantan Presiden RI ke 2. Presiden yang diberi gelar sebagai Bapak Pembangunan. 
Goresan tanda tangan tinta berwarna kuning emas  itu sebagai tanda bahwa Soeharto telah meresmikan penggunaan gelanggang olah raga Bangga Suka Desa pada tanggal 11 Maret 1996, di Desa Duriaasi Kecamatan Wonggeduku (dulu Kecamatan Pondidaha), Kabupaten Kendari (kini Kabupaten Konawe), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). 
Desa Duriaasi
Desa Duriaasi adalah daerah pemukiman transmigrasi asal Jawa Barat dan Jawa Timur. Ketika Soeharto berkunjung pada tahun 1996, rumah warga transmigrasi masih terbuat dari kayu papan. Sumber mata pencarian utama warga yakni bercocok tanam tanaman padi sawah dan palawija.
Setelah 19 tahun berlalu, kini Desa Duriaasi sudah seperti dalam suasana kota, sebagaimana harapan Soeharto ketika itu. Bahwa ke depan suasana kota berada dalam desa. Dan ini sudah terbukti nyata.
Di Desa Duriaasi sudah terdapat toko bahan bangunan, toko sembilan bahan pokok, rumah makan, toko sarana produksi pertanian (Saprodi), toko butik pakaian dan  toko lainnya. Gedung Sekolah Dasar juga sudah ada. Gambaran kota dalam desa sudah terlihat.
Lokasinya sekitar 68 Km arah barat Kota Kendari, Ibukota Provinsi Sultra. Waktu tempuh menuju tempat ini antara 1 sampai 1,5 jam, dengan kecepatan kendaraan 50 sampai 60 Km per jam.
Pencanangan Bulan Bakti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)
Mantan Presiden RI ini pernah melakukan kunjungan kerja di Desa Duriaasi dalam rangka pencanangan bulan bakti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Lembaga Musyawarah Desa (LMD), sekaligus meresmikan Pabrik Fero Nikel II milik PT. Antam, Tbk dan Balai Rujukan Keluarga Masagena.
Saat Soeharto meresmikan gelanggang Bangga Suka Desa, dalam sambutannya yang disiarkan TVRI dan RRI secara live, mengatakan bahwa pembangunan kita adalah pembangunan nasional. Ini berarti kita bangun semua daerah di tanah air yang luas ini.
Karena sifatnya nasional, maka pembangunan itu harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena bagian terbesar rakyat kita tinggal di perdesaan, maka peranan rakyat desa dalam pembangunan bangsa amatlah besar. Tanpa dukungan dan peranserta masyarakat perdesaan, pembangunan tidak akan berhasil. Jika desa-desa kita belum maju dan makmur, maka pembangunan kita belum berhasil. 
Setelah Pak Harto meninggal dunia, gelanggang olahraga Bangga Suka Desa sudah tidak terurus. Pantauan wartawan Cendana News, Sabtu (5/12/2015), kondisi bangunan stadion mini itu sangat memperihatinkan. Dari kejauhan sudah nampak, di bagian depan, baik di sisi kiri maupun kanan bangunan sudah bocor. Terlihat jelas rangka besi.
Stadion mini berukuran lebar 15 meter dan panjang 30 meter, sejak dibangun hingga sekarang sepertinya tidak dirawat. Padahal bangunan yang menggunakan APBN tahun 1990/1991 itu diperkirakan menelan anggaran ratusan juta, hanyauntuk membangun  lapangan sepak bola dan fasilitas stadion, seperti ruang ganti pemain, toilet dan ruangan official.
Gelanggang olah raga Bangga Suka Desa yang dibangun di tengah-tengah persawahan Desa Duriaasi, siapapun yang datang melihatnya akan merasa sedih dan prihatin. Atap tribun yang terletak di sisi timur, sudah beratapkan langit. Sebagian atap seng sudah lepas, karena pengaruh kropos setelah 19 tahun lamanya dipakai. Padahal pilar rangka baja masih terlihat kokoh, meski sudah hampir 20 tahun lamanya tidak terurus.
Lantai tribun sebagian sudah terkelupas. Lebih memiriskan lagi, kamar official, kamar ganti kesebelasan dan kamar toilet sudah berantakan. Sebagian dinding temboknya sudah berlubang. Pintu-pintu kamar sudah tidak ada. Demikian pula seluruh kaca jendela sudah lenyap.
Plan gelanggang Bangga Suka Desa juga sudah hilang. Hanya rangka plan yang masih berdiri kokoh. Pemandangan serupa juga terlihat di tower air. Hanya rangka baja saja yang tersisa. Tandon air dan pipa air yang mengalir ke dalam ruangan toilet sudah tidak ada.
Menanti Kepedulian Pemerintah Era Reformasi dan Revolusi Mental
Pemerintah Kabupaten Konawe yang mestinya bertanggungjawab memelihara stadion mini ini, karena berada dalam wilayahnya. Namun kenyataannya tidak sama sekali. Aset pemerintah itu dibiarkan, padahal jika dirawat, gelanggang olahraga ini memiliki manfaat luar biasa besar bagi masyarakat sekitar dan perkembangan olahraga di daerag Konawe.
Jika pemerintah kabupaten Konawe tak peduli dengan perawatan gelanggang olahraga ini, bagaimana dengan Pemerintah Provinsi atau Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI. atau jangan-jangan Kemenpora tak memiliki data tentang aset sarana olahraga desa yang pernah dibangun era Pemerintahan Soeharto ini.
Hal ini terbukti dengan adanya keinginan Kemenpora melalui Peraturan Sekretariat Kementerian Pemuda dan Olahraga Nomor 0482 tahun 2015 tentang petunjuk teknis fasilitas lapangan olahraga desa, beberapa desa di Sultra diminta menyampaikan proposal usulan pembangunan fasilitas olahraga desa.
Sementara sarana olahraga yang sudah dibangun sejak tahun 1996 di Desa Duriaasi saja tidak mampu dirawat dengan baik, sekarang malah minta agar kepala desa mengusulkan pembangunan sarana olahraga baru lagi.
Minggu, 6 Desember 2015/Jurnalis: Rustam/Editor: Gani Khair/Foto: Rustam
Lihat juga...