Novianti MR: Banyak Pelaku Seni di Aceh yang Belum Cinta Seni

SELASA, 29 DESEMBER 2015
Jurnalis: Zulfikar Husein / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Zulfikar Husein

BIREUEN—Sebagai salah satu daerah berbudaya dan memiliki ragam kesenian, Provinsi Aceh tentu juga memiliki banyak pekerja seni atau yang biasa disebut seniman. Namun tidak semua pelaku seni di Aceh peduli terhadap kesenian di Aceh.

Keindahan seni Aceh yang ditampilkan Novisnti MR dengan busana tradisionalnya
“Tatkala lagi ada acara maka perempuan dan pria akan berbondong-bondong berubah menjadi seniman dadakan, penyair dadakan, penyanyi dadakan, apabila lagi tidak ada acara, semua menghilang,” ujar Novianti MR, salah seorang pecinta sekaligus pelaku seni di Bireuen, Selasa, 29 November 2015.

Menurut Novianti, pekerja seni yang benar-benar bisa dikatakan peduli terhadap kesenian khususnya kesenian Aceh, hanya ada beberapa orang saja.

“Usai acara, usai manggung hanya tinggal beberapa orang saja yang memang konsisten di dunia seni. Begitulah fenomenannya,” kata dia.

Sejatinya, pekerja seni kata Novi, tidak hanya muncul saat ada kegiatan manggung saja. Pelaku seni baru bisa disebut seniman karena punya karya seni sendiri. Selain itu juga peduli pada perkembangan kesenian itu sendiri.

Novi sendiri mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, seharusnya seniman itu, meski tidak ada proyek dan uang tetap berkarya. “Namun ya pada kenyataannya banyak yang tidak seperti itu,” kata Novi.

Novianti MR

Perempuan Peduli Seni Masih Minim

Selain itu, Novi juga melihat fenomena minimya perempuan yang peduli terhadap seni di Aceh. Menurutnya, perempuan memang banyak terlibat dalam kegiatan seni, namun lagi-lagi tidak banyak yang benar-benar peduli terhadap kemajuan seni itu sendiri.

Novi menambahkan, selama ini banyak para pekerja seni yang sibuk mengkritik hasil karya orang lain. Padahal pengkritik itu sendiri tidak memiliki karya seni. Fenomena ini yang dikhawatirkan akan membuat kesenian Aceh mundur.

Ia berharap, kedepan para pekerja seni tidak hanya ada ketika ada kegiatan semata. Namun juga turut andil dan peduli terhadap kemauan kesenian Aceh. Selain itu kata dia, pekerja seni juga sebaiknya mampu mengahsilkan karya seni.

“Semoga seniman ini bukan hanya berharga sebagai pengisi acara belaka. Berharaga hanya karena ada perhelatan acara semeta. Seandainya seniman kembali pada kodratnya berkarya, bukan saling menuding, saling mencela dalam mengukur karya orang tanpa menghasilkan karya sendiri. Dan ini saatnya seniman perempuan Bireuen bangkit. Mari jadi peng-karya bukan pengkritik. Kritik boleh tapi jangan sampai overdosis (berlebihan),” kata Novianti MR. 
Lihat juga...