Pemodal Jakarta Merubah Lahan Pertanian di Lampung Menjadi Sarang Burung Walet


LAMPUNG—Potensi usaha sarang walet mulai menggiurkan bagi beberapa warga di Lampung meskipun usaha tersebut hanya digeluti oleh beberapa warga yang memiliki modal cukup besar. Beberapa warga pemilik lahan diantaranya lahan sawah bahkan mulai membuat rumah  untuk burung walet di beberapa wilayah di Lampung Selatan diantaranya di Kecamatan Sidomulyo, Kecamatan Penengahan, Kecamatan Sragi, Kecamatan Ketapang. Beberapa rumah burung yang diperuntukkan untuk burung walet tersebut bahkan berada di area persawahan produktif yang masih digarap warga.
Suara kicauan burung berasal dari rekaman suara tape rekorder bahkan menurut warga terdengar sangat mengganggu pada saat saat tertentu. Suara burung yang tak alami tersebut berfungsi untuk memancing walet untuk singgah di rumah burung yang mulai menjamur di Kabupaten Lampung Selatan.
“Warga asli sini tak ada yang memiliki karena tidak memiliki modal biasanya pemodal dari Jakarta yang membeli beberapa petak sawah kemudian membuat sarang burung walet di sekitar sini,”ungkap Amalsyah, warga Desa Bandaragung Kecamatan Sragi kepada media Cendananews.com Rabu (9/12/2015)
Amalsyah mengaku lahan di sekitar Desa Bandaragung kini telah diinvasi oleh bangunan rumah burung walet. Bahkan areal yang seharusnya untuk lahan pertanian sawah dan tambak sudah sebagian digunakan untuk bangunan rumah burung walet. Areal yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan sumber pangan, beras perlahan disulap menjadi lahan ternak walet.
Selain itu, Amalsyah mengaku keberadaan rumah walet di sekitar rumahnya mengganggu pemandangan yang selama ini bisa dilihat sebelum ada rumah walet tersebut. Gedung gedung walet dengan suara berisik suara rekaman burung walet bahkan terkesan mengganggu istrirahat warga.
“Kalau warga di sini memang hanya beberapa yang memiliki rumah walet karena satu bangunan biayanya bisa mencapai 800 juta bahkan lebih karena harus tinggi dan memerlukan bahan bangunan yang banyak,”ungkap Amalsyah.
Selain untuk dimanfaatkan oleh sang pembuat rumah walet, Amalysah mengaku usaha pembuatan rumah walet biasanya dijual lagi kepada pengusaha lain untuk dikelola. Jika dibangun dengan biaya Rp 800 juta bisa dijual lagi ke pengusaha lain sebesar Rp 1 Milyar.
Sementara itu salah satu pemilik rumah walet di Sidomulyo, Abidin mengaku, bisnis sarang walet memang menggiurkan pada saat harag sedang baik. Bahkan rumah walet yang telah berhasil panen hingga lima kali bisa dioper ke pengusaha lain.
Rumah walet yang berada di area persawahan tersebut ungkap Amalysah, tiap lantai bisa menghasilkan sebanyak 2 kilogram sarang burung walet per tiga bulan. 
“Untuk sarang putih yang dihasilkan harganya pernah mencapai Rp 15 juta hungga Rp 20 juta tapi tergantung musim dan itu juga bisa anjlok,”ungkapnya.
Keberadaan rumah walet yang menghasilkan uang cukup besar tersebut tentunya berdampak bagi penjualan lahan sawah warga. Beberapa warga yang memiliki sawah bahkan masih mempertahankan sawahnya untuk lahan pertanian. Namun Udin, warga Napal mengaku terpaksa menjual lahan sawahnya karena butuh uang.
“Saat ada pengusaha menawar lahan sawah saya seharga 50 juta terpaksa saya berikan karena butuh uang untuk berobat, tapi keberadaan rumah walet memang tidak memberikan keuntungan signifikan bagi warga yang tak memiliki rumah walet dan cenderung jadi penonton,”ungkap Udin.
Sementara beberapa lahan sawah miliknya masih dipertahankan untuk ditanami padi. Keberadaan rumah walet yang terus menjamur di sekitar lahan sawahnya merupakan dilema dan ia mengaku masih tetap akan menggarap sawahnya meski terhimpit beberapa bangunan walet.
Warga mengaku selama ini belum ada aturan yang jelas dari pihak pemerintah desa maupun kabupaten terkait pemanfaatan lahan pertanian untuk bangunan walet. Warga bahkan mengaku selama ini tidak ada aturan yang mengatur tentang larangan lahan sawah digunakan untuk bangunan rumah walet sehingga dikuatirkan banyak lahan akan menyusut karena beralih fungsi menjadi rumah walet.
Kamis, 10 Desember 2015/Jurnalis: Henk Widi/Editor: Sari Puspita Ayu/Foro: Henk Widi
Lihat juga...