Pendiri Museum Kanker Indonesia: Empat Pemicu Kanker Ada di Sekitar Kita

dr Ananto
SURABAYA—Kanker menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, utamanya perempuan. Pasalnya, di Indonesia kanker yang paling banyak menyerang perempuan yaitu kanker serviks dan kanker payudara.
Berdasarkan data, penderita kanker serviks dan payudara di Indonesia yanh paling banyak di Jawa Timur. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, kanker serviks di Jawa Timur sebanyak 21.313 jiwa, dan kanker payudara sebanyak 9.688 jiwa. Kanker merupakan penyakit yang timbul akibat pertumbuhan tidak normal sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. 
Kanker serviks dapat terjadi akibat banyaknya perempuan di Jawa Timur yang kurang menjaga kebersihan daerah intimnya. Mulai dari hal kecil, cebok atau membersihkan kemaluan kurang bersih, sehingga dapat menyebabkan keputihan.
Founder Museum Kanker Indonesia (MKI), dr. Ananto menerangkan kanker sebenarnya bisa diminimalisir dengan cara menjaga kesehatan kita dari empat hal.
Dokter sekaligus budayawan ini menerangkan empat faktor penyebab kanker serviks sekaligus kanker payudara untuk perempuan.
“Pertama faktor tidak bersih, kedua faktor pilihan, ketiga faktor alamiah dan keempat faktor yang tidak diketahui,” terangnya kepada Cendana News, Jumat (11/12/2015).
Beberapa faktor tersebut diterangkan oleh pria berkacamata ini, diantaranya:
Faktor pertama, faktor tidak bersih. Banyak wanita yang mengalami keputihan, tidak bisa menjaga kebersihan organ intimnya. Dimana kanker terjadi saat pemeriksaan, inti sel serviks membesar dan sitoplasma menjadi sedikit atau berkurang.
Faktor kedua, faktor pilihan. Dimana kita banyak memakan makanan yang sifatnya karsinogenik, artinya makanan yang dapat memicu sel normal menjadi kanker. Makanan yang dibakar, digoreng, diasap, diasin dan diacar termasuk ke dalam makanan karsinogenik. Pemicu lainnya yaitu, penggunaan obat-obatan berbasis hormonal, seperti minum pil KB, suntik KB dan susuk.
Faktor ketiga, faktor alamiah. Setiap perempuan yang menua, lebih besar resiko terkena kanker. Dan apalagi perempuan yang mempunyai riwayat atau turunan kanker di keluarganya bisa menderita kemungkinan kanker 14X lipat dibanding perempuan yang tidak punya riwayat keturunan kanker.
“Dan keempat, faktor yang tidak diketahui. Faktor inilah yang terkadang menakutkan. Contohnya, seorang biarawati berusia 45 tahun yang tidak pernah melakukan aktifitas sex terkena kanker serviks,” ujarnya.
Dengan berbagai faktor pemicu kanker tersebut, dokter empat orang ini berharap agar masyarakat lebih peduli utamanya perempuan terhadap kesehatan organ intimnya.
“Agar tidak terjadi lagi, ibu yang meninggal akibat kanker serviks dan payudara. Nasib anak-anaknya yang kasihan karena tidak mendapat kasih sayang dari ibunya,” ungkapnya.
Seperti Cendananews.com beritakan sebelumnya, museum  Kanker Indonesia’ yang diprakarsai oleh yayasan Kanker Wisnuwhardana merupakan museum yang didirikan untuk memberikan pemahaman akan bahaya Kanker. 
Museum ini dibuka sejak 2 November 2013 dan bertempat di Jalan Kayoon 84-86 Surabaya. Di dalam museum terdapat berbagai pengetahuan akan bahaya dan penyebab dari penyakit mematikan tersebut.
Gedung Museum Kanker Indonesia beraksitektur khas bangunan Belanda dengan banyaknya jumlah daun pintu sekaligus jendela yang lebar dan tinggi. Selain banyak ditemukannya artefak kanker di museum, namun penyajiannya atau penampilannya dibuat seperti karya seni rupa dengan di sinari lampu khusus dan berada diketinggian tertentu sehingga menambah keindahan. Meskipun ketakutan melihat artefak kanker yang menakutkan, tetapi demi pengetahuan serta meningkatkan rasa waspada terhadap peningkatan resiko kanker akibat gaya hidup.
Ananto Sidohutomo yang merupakan Pembina Yayasan Kanker Wisnuwhardana (YKW) mengungkapkan ada sekitar 30 koleksi artefak kanker.
“Koleksinya mulai artefak kanker payudara, kanker mulut rahim, kaker paru-paru, kanker usus, kanker ginjal pada anak-anak,” ujar dr. Ananto.
Museum ini memiliki jam buka Senin-Jumat  08.00-21.00 WIB, Sabtu-Minggu  09.00-17.00WIB, tanpa dikenai tiket masuk alias gratis bagi para pengunjung.
“Dengan adanya museum ini, saya berharap masyarakat bisa lebih tahu mengenai kanker dan mulai sadar akan deteksi awal kanker,” Ungkapnya.
Dia berharap pemerintah seharusnya bersikap promotif dan preventif terhadap masalah kanker bukan bersifat kuratif dan paliatif.
“Jika kanker terdeteksi secara dini, pencegahan dan pengobatan bisa terjadi secara baik dan masyarakat yang terkena kanker bisa lebih banyak yang diselamatkan,” tandasnya.
Sabtu, 12 Desember 2015/Jurnalis: Olin/Editor: Gani Khair/Foto: Olin
Lihat juga...