Pengawas Proyek Transmigrasi Banting Stir Buka Usaha Batu Merah

SABTU, 26 DESEMBER 2015
Jurnalis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Rustam

SEKITAR KITA—Satu per satu tanah liat yang baru saja kering dibentuk menjadi batu merah disusun rapi di liang pembakaran.  Sesekali  berhenti sejenak untuk meluruskan badan, setelah berjam-jam lamanya membungkuk.


Ali, warga Kelurahan Labibia, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, tak punya pilihan pekerjaan lain. Ali yang dulunya bekerja sebagai supervisor proyek, banting stir menekuni usaha produksi batu merah setelah sekian tahun melanglang buana bekerja di jasa konstruksi.
Pada tahun 1990 hingga 1998, pernah bekerja dibidang jasa konstruksi jalan, jembatan dan perumahan. Namun pekerjaan yang paling berkesan adalah ketika mengawasi pekerjaan pemukiman transmigrasi Lamonae Tahap II pada tahun 1996. 
Ketika itu Lamonae masih wilayah Kecamatan Asera, Kabupaten Kendari, dan sekarang sudah menjadi wilayah Kecamatan Langgikima Kabupaten Konawe Utara.
“Saya tidak terpikir, kenapa saya tidak ukur tanah untuk keperluan pribadi. Karena saat dilakukan pengukuran, gunung yang berbatu batu tidak masuk lokasi transmigrasi. Tanah tersebut dianggap afkir. Sekarang, harga tanah di Lamonae sudah mahal, padahal dulu tidak ada harganya,”  jelas Ali mengingat masa lalunya.
Setelah sekian tahun berlalu saat mengawasi proyek pemukiman transmigrasi asal Jawa dan Bali di Kabupaten Konawe Utara, Ali sempat menganggur sambil menunggu pekerjaan proyek selanjutnya.
“Saat menunggu pekerjaan proyek, saya mulai berpikir akan lebih baik saya buka usaha sendiri,” kata Ali.
Ali yang kini usianya lebih 50 tahun, berpikir usaha apa yang bisa dikembangkan, sementara tidak mempunyai modal yang kuat untuk membuka usaha. Hingga suatu ketika, dia melihat kebutuhan bahan bangunan batu merah semakin banyak. 
“Saya lihat tanah di Labibia cocok dibuat batu merah. Maka saya coba-coba buat sendiri. Lalu saya bakar sendiri. Baru selesai dibakar, sudah ada yang datang beli,” kenangnya.
Maka sejak tahun 2001 sampai sekarang, Ali menekuni usaha pembuatan batu merah yang letaknya di pinggiran hutan Kelurahan Labibia. 
Dengan usahanya ini, Ali sudah bisa menyekolahkan dua orang anaknya hingga jenjang SMA. Kemudian, sebagian dari hasil usaha batu merahnya yang sudah ditekuninya selama 14 tahun, sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya setiap hari.
Usaha batu merah yang dirintis Ali, ternyata memberdayakan anak sekolah yang tidak mampu. Sebanyak 5 orang siswa sekolah tingkat SMP dan SMA bekerja paruh waktu.
Kalau pagi, semua berangkat sekolah. Tapi setelah pulang sekolah, mereka hanya istirahat makan siang dan langsung ganti baju kerja. Mereka bekerja antara 2 sampai 3 jam mencetak batu.
Upah mereka dihitung dalam bentuk kubikasi. “Satu kubik, isinya seribu biji mereka dapat upah Rp 120 ribu. Tugas mereka hanya mencetak. Sedangkan tugas saya menjemur dan mengurus proses pembakaran,” jelas Ali.
Omzet penjualan batu merah yang diperoleh Ali dalam sebulan, berkisar Rp 5 juta sampai Rp 7,5 juta. “Kita syukuri penghasilan, sudah bisa bayar gaji anak-anak dan sudah bisa makan buat keluarga,” bebernya.
Lihat juga...