Penyelundupan Daging Celeng Modus Dokumen Karantina Ikan Digagalkan

SELASA, 29 DESEMBER 2015
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Henk Widi

LAMPUNG—Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni mengamankan sebanyak 1,3 ton daging babi hutan yang akan dikirimkan ke Pulau Jawa melakui Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung. Penyelundupan daging babi hutan atau celeng tersebut dilakukan melalui jalur darat dan laut namun berhasil digagalkan sebelum masuk ke pelabuhan Bakauheni.


Kepala Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Bakauheni,AKP Parhan mengungkapkan pengamanan pengiriman daging celeng dalam jumlah banyak tersebut dilakukan setelah anggota KSKP Bakauheni melakukan razia rutin di area pintu masuk pelabuhan Bakauheni. Peningkatan pengamanan dilakukan saat arus balik liburan yang masih berlangsung dan ditemgarai dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggungjawab untuk menyelundupkan barang tanpa dokumen lengkap. 
Kemacetan yang terjadi di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni tak menyurutkan kejelian petugas untuk mencurigai kendaraan yang membawa barang tanpa dilengkapi dokumen. Koordinasi dengan petugas karantina yang bertugas di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni bahkan dilakukan dengan memeriksa kendaraan yang membawa box berbagai jenis.
“Pengamanan tetap kita lakukan dengan ketat meski suasana arus liburan masih berlangsung dan saat kita hentikan kendaraan tersebut ternyata membawa daging celeng tanpa dokumen” ujar AKP Parhan saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (29/12/2015).
Kronologi pengamanan pengiriman daging celeng tersebut terang AKP Farhan, bermula saat anggota KSKP mencurigai kendaraan panther pick up dengan nomor polisi BE 9053 BQ yang berangkat menjelang maghrib pada Senin (28/12/2015) membawa box warna kuning dan diakui oleh sang sopir berisi ikan. Anggota mencurigai dokumen karantina ikan yang dibuat.
“Setelah kita lakukan pengecekan ternyata box yang diakui sebagai ikan tersebut berisi daging celeng dan pelaku telah mengelabui petugas polisi dan petugas karantina,”ungkap AKP Parhan yang sebelumnya menjabat Kapolsek Pardasuka tersebut.
Pemeriksaan intensif dilakukan terhadap pengemudi kendaraan yang membawa sebanyak 10 box ikan tersebut dan sang pengemudi bernama Rony Corne (50) warga Desa Hanura RT 012 Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran  berikut kernet bernama  Cevi Furyawan (30) warga RT.011 Desa Hanura Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh anggota KSKP Bakauheni selanjutnya barang bukti kendaraan pengangkut 10 box daging celeng berikut pengemudi diserahkan ke Karantina Pertanian Kelas I Wilayah Kerja Bakauheni.
Kepada petugas pengemudi Rony Corne mengaku sengaja mengelabuhi petugas dengan membuat dokumen karantina ikan karena dengan cara tersebut dipastikan pengiriman daging celeng ke wilayah Tangerang tersebut akan mulus. Ia bahkan mengaku mengurus dokumen karantina ikan tersebut di kantor karantina ikan karena dirinya pernah melakukan pengiriman ikan dari wilayah Kabupaten Pesawaran ke suatu wilayah di Jakarta.
“Daging celeng yang saya beli dari pemburu kemudian saya kumpulkan dalam box berisi es

selanjutnya saya kirimkan ke wilayah Tangerang, ini juga pesanan orang untuk perayaan malam tahun baru,”ungkap Rony.

Sementara Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung Wilker Bakauheni drh.Azhar mengungkapkan, pengamanan daging celeng ilegal tersebut dilakukan untuk menghindari upaya pengoplosan daging babi dengan daging sapi untuk pembuatan bakso.
“Akhir-akhir ini marak diberitakan pembuatan daging bakso dioplos dengan daging celeng, namun jika tidak diamankan masyarakat yang akan dirugikan,” ujar drh.Azhar.
Box daging celeng dalam box ikan yang dengan jeli berhasil diketahui petugas tersebut rencananya akan dibawa ke Pelabuhan Bakauheni dengan tujuan Pulau Jawa tanpa dilengkapi dokumen. Penyitaan dilakukan dengan tujuan memutus penularan penyakit yang dibawa melalui media daging, di antaranya penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Kalau tidak diamankan daging babi yang berasal dari daerah Pesawaran  itu, akan diedarkan di daerah Jakarta untuk digunakan sebagai oplosan bahan makanan seperti bakso. Jika lolos dikuatirkan daging tersebut menjadi sumber penyebaran penyakit,”ujar drh.Azhar.
Dia berharap masyarakat jangan hanya memikirkan keuntungan, tapi harus juga memikirkan dampak dari masuknya hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) yang dapat menyebabkan kerugian tidak sedikit. 
Lebih lanjut Azhar mengungkapkan, penyitaan daging celeng ilegal tersebut telah memiliki ketetapan hukum tetap dari pengadilan dan diatur dalam UU No 16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Penyelundupan daging celeng dengan modus dokumen karantina ikan tersebut akan terus dilakukan penyelidikan karena dikuatirkan modus serupa masih akan sering terjadi untuk memuluskan aksi pengiriman daging celeng.
Lihat juga...