Petani di Lampung Ajak Pemuda Cicipi Manisnya Bisnis Semangka

Kebun semangka
LAMPUNG —– Petani, sebuah pekerjaan yang saat ini jarang diminati generasi muda karena dianggap kurang menjanjikan. Padahal dengan manajemen yang baik, pertanian dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan, seperti yang dilakukan oleh Doni (45) laki laki asal Sleman Yogyakarta yang hijrah ke Lampung untuk mencari lahan pertanian meskipun dengan sistem sewa.
Doni menyebutkan, bagi dirinya menjadi petani merupakan pekerjaan yang sudah mantap ditekuninya. Meski profesi petani tak dilanjutkan oleh beberapa anaknya, hanya dua orang puteranya yang mengikuti jejaknya menjadi petani dan meneruskan usaha yang sekarang ditekuninya.
“Disamping lahan semakin sedikit, sejak kecil anak-anak sekarang memang diajari untuk menjadi pegawai kantoran, pegawai negeri sehingga akan susah untuk mengajak menjadi petani,”ungkap Doni saat ditemui Cendana News, di lahan tanaman Semangka yang dikelolanya, Senin (07/12/2015).
Doni mengaku hanya memiliki sawah serta ladang sendiri seluas dua hektar di wilayah Bandarjaya Lampung Tengah yang diolahnya menjadi lahan pertanian. Keterbatasan lahan yang ada tak menyurutkannya untuk melihat peluang wilayah yang masih bisa digunakan untuk melakukan usaha menanam buah semangka. Ia bahkan mengontrak rumah berikut lahan pertanian seluas dua hektar dengan sistem sewa sebesar Rp.3juta untuk per hektar.
“Pemilik lahan tak berani menyewakan tanah dengan waktu lama melainkan berdasarkan usia buah semangka, sebab sambil menunggu musim hujan petani menyewakan lahan untuk pertanian buah semangka,”ungkap Doni.
Masa tanam buah Semangka menurut Doni bisa dipanen setelah memasuki bulan kedua, ia mengaku sudah menyewa lahan di Desa Napal Kecamatan Sidomulyo hampir selama dua tahun. Musim kemarau panjang membuat petani pemilik lahan tak menggarap dan menyewakan lahan tersebut kepadanya. Selama dua tahun tersebut Doni mengaku mengajak anak anaknya yang masih muda untuk membantu proses penanaman hingga pemasaran.
“Anak yang laki laki saya ajak mengelola lahan sementara anak perempuan saya yang sudah tinggal di Jakarta menjadi distributor buah semangka yang dikirim dari Lampung,”terangnya. 
Ia mengaku menanam semangak jenis non biji serta semangka biji. Menanam semangka yang dilakukan sejak tahun 1992 sejak di Yogyakarta menurut Doni dilakukan meskipun membutuhkan modal sekitar Rp20juta-Rp24juta sekali masa panen. Modal tersebut dihitung berdasarkan biaya operasional pengolahan, perawatan, hingga pemasaran. Keuntungan yang ia peroleh digunakan untuk menyewa lahan serta untuk tabungan.
Modal yang cukup besar dan lahan bukan milik sendiri membuat Doni kadang mengalami kerugian. Kerugian tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menularkan manisnya buah semangka kepada anak anaknya bahkan kepada pemuda pemuda desa yang tinggal di wilayah tempatnya menyewa lahan.
“Saya banyak mengajarkan tekhnik budidaya semangka yang baik sehingga beberapa pemuda banyak belajar kepada saya, mulai dari penanaman hingga pangsa pasar, banyak pemuda yang akhirnya ikut jejak saya,”ungkap Doni.
Doni bahkan mengaku pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta karena salah perhitungan musim. Saat kemarau panjang ia mengaku hasil semangka yang ditanamnya cukup bagus dengan hasil penjualan menjanjikan namun terkadang mendekati musim hujan banyak semangka yang ditanamnya busuk. Harga Rp3.000,- perkilogram semangka miliknya terkadang dibeli dengan harga Rp2.500,- perkilogram oleh para pedagang keliling.
“Jika harga sedang bagus saya kirim semangka ke Jakarta,”ungkapnya.
Beberapa pemuda yang semula enggan menjadi petani, berkat pengalaman Doni selama hampir belasan tahun menjadi petani semangka merangsang pemuda pemuda di Sidomulyo untuk melakukan usaha pertanian. Beberapa bahkan menanam cabai, tomat serta tanaman lain. Bahkan beberapa ikut mengikuti jejaknya menanam semangka setelah mengetahui manisnya berbisnis semangka.
Selain memberi dampak positif bagi pemuda yang ingin menekuni usaha pertanian, beberapa pemuda yang selama ini menjadi pengangguran merupakan ujung tombak untuk pemasaran buah semangka miliknya. Semangka yang sudah dipanen sebagian bahkan habis terbeli oleh pedagang keliling menggunakan kendaraan motor.
“Mereka daripada menganggur berjualan semangka keliling dan saya kasih harga miring agar mereka juga memperoleh keuntungan, intinya saling membantu,”ungkap Doni.
Doni mengaku meski saat ini lahan pertanian semakin sempit, namun ia percaya jika pola pertanian intensif dilakukan maka akan memberikan keuntungan. Pola intensif tersebut dilakukan mulai dari pengolahan lahan, perawatan serta paska panen yang benar sehingga produksi pertanian bisa meningkat. Ia berharap pemuda pemuda mau menjadi petani dan mengolah lahan pertanian dengan menggunakan tekhnologi yang lebih baik.

SENIN, 07 Desember / Jurnalis : Henk Widi / Foto: Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...