Petani Padi Organik di Lampung Masih Kesulitan Proses Sertifikasi

Petani padi organik di Lampung
LAMPUNG — Kelompok Tani Minang Jaya di Desa Pasuruan Lampung Selatan masih terkendala proses sertifikasi padi organik yang mereka tanam. Ketua kelompok Tani Minang Jaya, Wagiyo mengaku sudah menanam padi organik sejak tiga tahun terakhir dan belum mendapatkan sertifikat mengingat proses sertifikasi yang panjang dan tidak mudah. 
Ia mengaku, sistem pertanian organik membutuhkan keterampilan dan ketekunan, karena tidak menggunakan sedikitpun asupan kimia dalam proses penanamannya. Namun untuk diakui sebagai beras organik harus mendapatkan sertifikat sehingga beras yang dihasilkan benar benar bisa dipasarkan sebagai beras organik dan terhindar dari pemalsuan
“Kami sudah mengembangkan beras organik di kaki Gunung Rajabasa namun meski disebut beras organik kami belum bisa memasarkannya menggunakan label atau karung yang menunjukkan beras tersebut sebagai beras organik,”ungkap Wagiyo kepada Cendana News, Selasa (08/12/2015).
Sesuai yang ia ketahui dari pelatihan tentang beras organik, ia mengungkapkan sertifikasi organik adalah proses untuk mendapatkan pengakuan bahwa proses budidaya pertanian organik atau proses pengolahan produk organik dilakukan berdasarkan standar dan regulasi yang ada. 
“Karenanya perlu uji laboratorium terutama untuk beras yang kami hasilkan terutama untuk mengetahui zat yang terkandung di dalam padi yang kami tanam apakah sudah murni organik atau belum,”ungkap Wagiyo.
Pengujian laboratorium untuk menentukan keorganikan produk organik diperlukan bila terdapat kecurigaan terjadinya praktek yang melanggar prinsip dan kaidah pertanian organik yang dilakukan pada proses budidaya atau pada proses pengolahan produksi. Namun diakui oleh Wagiyo lembaga penguji untuk sertifikasi tentunya tidak mau jika melakukan pengujian dengan Cuma-cuma.
Bila pun dilakukan pengujian laboratorium, contoh uji bukan hanya pada produk akhir saja, tetapi juga air, tanah yang dipergunakan dalam proses budidaya dan pengujian pada bahan-bahan yang digunakan dalam proses pengolahan produksinya. Pengujian dilakukan setiap saat pada tiap tahapan proses. Sehingga biaya pengujian laboratorium menjadi amat besar, yang tentunya memberatkan produsen-prosesor dan petani itu sendiri.
“Tapi prosesnya masih sangat mahal sehingga untuk disebut beras organik masih belum sempurna sehingga kami menyebutnya dengan beras sehat karena jaminan tanpa penggunaan zat kimia,”ungkapnya.
Ia sendiri mengaku masih belum mengetahui persis bagaimana proses untuk memperoleh sertifikasi tersebut. Tetapi seperti informasi yang ia peroleh tetap saja, biaya yang dibutuhkan untuk pemberian sertifikasi bahkan tidak murah dan bahkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta untuk bisa mendapatkan predikat beras organik.
Setelah mendaftarkan sertifikasi beras organik, lembaga pemberi sertifikasi akan mengunjungi lokasi pertanian atau audit dengan melihat sumber daya airnya, budidaya, dan lain sebagainya. Jika lingkup area makin luas, maka harga yang dibayarkan akan semakin membengkak.
“Niat untuk memperoleh beras organik memang susah karena mau tak mau sawah harus steril dari aliran air yang merupakan limpahan dari sawah milik petani lain yang menggunakan pupuk kimia,”ujar Wagiyo.
Ia berharap langkah yang dilakukan oleh kelompoknya untuk memperoleh pengakuan sebagai beras organik bisa tercapai dan mendapat sertifikat. Ia bahkan mengaku kelompok yang dibina oleh lembaga pemerintah tersebut bisa menjadi contoh bagi kelompok lainnya untuk memperoleh beras organik. Beberapa kali masa panen, ia mengaku sebanyak beberapa kuintal sudah dipesan oleh penjual beras untuk dijual dengan nama beras sehat sebab untuk mendapat label beras organik harus melalui beberapa tahap.
“Selain kendala kendala tersebut, pangsa pasar beras organik pun masih cukup terbatas terutama di wilayah pedesaan, harus dijual di kota dan pangsa pasarnya masih terbatas hanya kepada yang berminat,”ungkapnya.
Ia mengaku faktor harga yang menjadikan beras organik masih kurang pangsa pasar, sebab harga beras organik lebih mahal dibandingkan dengan beras biasa yang ada di pasaran. Harga beras organik saat ini menurut wagiyo berfariasi diantaranya pandan wangi ukuran 5kg seharga Rp167.800,-sementara untuk harga perkilogram bisa mencapai Rp13ribu-Rp15ribu. Mahalnya harga beras organik membuat masyarakat masih tetap memilih beras biasa dengan harga lebih murah.

SELASA, 08 Desember / Jurnalis : Henk Widi / Foto: Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...