Petani Pengelola Sawah Tadah Hujan Butuh Dam Penampungan Air

SELASA, 22 DESEMBER 2015
Jurnalis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Rustam
KENDARI—Puluhan hektar lahan persawahan di Kelurahan Labibia, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, tidak bisa ditanami padi, karena belum ada suplai air dari drainase.


Petani pinggiran Kota Kendari ini hanya mengandalkan musim hujan. “Kalau hujan turun, baru bisa petani menanam. Kalau musim kemarau, berhenti lagi karena belum ada saluran air permanen,” ujar Nyonya Indar saat ditemui di sawahnya yang terletak di Labibia, Kota Kendari.
Sebenarnya, Pemerintah Kota Kendari sudah membuat saluran air untuk persawahan. Hanya kendalanya, belum ada dam yang dapat dijadikan penampungan air pada musim hujan.
Saluran air yang ada saat ini, hanya berfungsi untuk membuang kelebihan air hujan yang masuk ke dalam sawah pada saat musim hujan turun. Tapi pada musim kemarau, saluran tersebut ikut kering.
Meskipun dalam kondisi penuh keterbatasan air, petani tetap antusias mengolah sawahnya. “Alhamdulillah, kalau sudah turun hujan, kita rame-rame lagi menanam.Sekarang sudah mulai turun hujan, kita sudah siap-siapmi mengolah lagi,” ungkapnya.
Meskipun masih berstatus sawah tadah hujan, dengan sarana produksi (saprodi) yang masih terbatas, namun petani sudah bisa memproduksi gabah antara 3,5 ton sampai 4 ton.
Diungkapkan, jika musim kemarau tiba, petani langsung menanam tanaman sayur-sayuran sambil menunggu musim hujan turun. Jenis sayuran yang ditanam, yakni kacang panjang, terong dan bayam. 
Lihat juga...