Radio Komunitas Tanpa Batas, Dua Tahun Mengudara Secara Swadaya


KUBU RAYA—Tak pernah terbayang dalam pikiran Bahtiar Usman akan setenar ini. Ketenarannya itu tentu saja mampu mengembangkan Radio Komunitas (Rakom) yang berada di Jalan Budi Utomo, No.06, RT 01 RW 04, Dusun Beringin, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
Sepulung Air. Demikian nama Rakom yang digeluti oleh pria berusia 48 tahun ini. Ketika ditemui, ia mengaku sangat bersyukur Rakom yang ia kelola bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
“Radio komunitas ini dibentuk pada 17 September 2013. Dulu awalnya permohonan kawan-kawan disini supaya ada radio komunitas untuk menyampaikan informasi. Terutama informasi tentang pembangunan di wilayah ini,” ucapnya, Jumat (11/12/2015)
Usman berkata, Rakom yang selama ini ia kelola selalu mendapat respon baik ditengah masyarakat sekitar. Sebab, tentunya hal itu dapat menambah wawasan informasi masyarakat lewat Rakom.
“Selain itu juga untuk mengangkat seni, dan budaya di wilayah kami ini. Umpamanya, pantun, syair, hadrah, kosidah rebana,” ujar aktivis Rakom ini.
Ia mengatakan, pantun yang ia suguhkan dalam siaran radionya itu ternyata disambut baik masyarakat. Masyarakat cukup antusias.
“Apalagi kalau saya berpantun dalam siaran pendengar langsung sms ke saya. Mereka meminta terus diputar ulang,” ucapnya.
“Pendengar di sini ada petani kebun ladang, petani sayur, nelayan kecil sungai tradisional, para santri pesantren juga dengarkan radio komunitas ini,” lanjutnya.
Selain itu juga, ada pendengar yang selalu mengajak diskusi terkait isu lingkungan. “Ada juga kami memberikan soal materi perubahan iklim, pertanian, dan pembangunan desa di wilayah kami ini. Para pendengar suka dengarkan radio komunitas ini, karena alternatif hiburan,” jelasnya.
Untuk membeli alat-alat Rakom itu, ia susah payah menggunakan uang yang ditabungnya selama tiga tahun.
“Ya lama juga untuk dapatkan uangnya beli alat-alat radio ini. Harganya sekitar Rp 5juta,” jelasnya. Namun, ia mengaku hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak berbuat sesuatu untuk berbagi informasi dengan masyarakat sekitar.
“Saya tetap berusaha menyuarakan lewat udara ini supaya masyarakat tahu informasi dan hiburan tentunya. Mereka pesan-pesan lagu daerah bugis, melayu. Jangkauan radionya radius 5 kilomter,” ujarnya.
Ia mengaku, hingga saat ini belum ada perhatian pemerintah membantunya. “Ini semua modal saya pribadi untuk Rakom ini. Biarkan tak ada bantuan, saya tetap berjalan,” punkasnya.
Jum’at, 11 Desember 2015/Jurnalis: Aceng Mukaram/Editor: Gani Khair/Foto: Aceng Mukaram
Lihat juga...