Rangkaian Maulid, Yogyakarta Gelar Pasar Malam Sekaten

Tarian tradisional iringi pembukaan sekaten

YOGYAKARTA — Tradisi Keraton Yogyakarta, Perayaan Pasar Malam Sekaten (PMPS) tahun Jimawal 1949/ 1437 Hijriyah kembali digelar dalam rangkaian acara menyongsong peringatan hari Maulid Nabi SAW yang jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal. 
Keramaian yang sudah berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya dibuka secara resmi melalui upacara yang dilaksanakan kemarin sore, Jumat  (4/12/2015). Upacara pembukaan disertai beragam pementasan tari tradisional.
Gubernur DI Yogyakarta, Sultan HB X melalui Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyebutkan, perayaan sekaten merupakan rangkaian peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, yang nanti akan ditandai dengan keluarnya gamelan sekaten. Kedua perangkat gamelan sekaten akan diarak keluar dari keraton menuju pagongan lor dan kidul (utara dan selatan -red) komplek Masjid Gedhe Kauman selama 7 hari. Keluarnya gamelan sekaten itu diiring prajurit keraton dan uba rampe atau sesaji. Lalu, pada puncaknya akan diadakan grebeg gunungan.
Sultan mengatakan, dari semua rangkaian acara sekaten itu mengandung nilai-nilai filosofi yang ideal bagi masyarakat Jawa. Ada makna dan simbol sebagai perwujudan nilai-nila manusia yang  transenden dan ilaahiyah. Halikatnya, sekaten merupakan sarana penyebaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya perayaan sekaten juga menjadi sarana terjalinnya hubungan manusia dengan Tuhan-nya, dan manusia dengam alam. Hal itulah yang harus dipahami oleh generasi muda saat ini. 
Disebutkan, sekaten dalam sejarahnya memiliki peran penting dalam kebudayaan dan tumbuhnya nilai-nilai lokalitas jawa yang bekerja integratif bersama kultur Jawa dan Islam. Lalu, dalam perkembangannya saat ini, sekaten mempunyai dua makna yaitu makna pariwisata dalam arti sempit dan kebudayaan dalam arti luas. Sebagai budaya religius, dalam sejarahnya Sunan Kalijaga pada waktu itu melalui tradisi sekaten mengumpulkan masyarakat di halaman Massjid Demak untuk kemudian berdakwah. 
Sekaten, berasal dari kata syahadatan, merupakan strategi Wali Songo dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam. Kini, sekaten telah melalui berbagai transformasi panjang dan menjadi salah satu pariwisata budaya religiua. Dengan tema PMPS tahun ini Harmoni Religi dan Budaya Untuk Jogja Istimewa, maka selain sebagai ajang interaksi sosial dan ekonomi, juga diharapkan terjadi sinergitas religius yang menarik. Harmoni serta tertib yang yang merupakan budaya leluhur menjadi benteng budaya, dan harmoni itu tercermin dari kehidpan masyarakat.
Usai membacakan sambutan Sultan, Asisten Perekonomian dan pembangunan Pemda DIY, Didik Purwadi didampingi Haryadi Suyudi memukul bonang sebagai tanda dibukanya perayaan sekaten tahun ini. Lalu, sebuah tarian tradisional digelar dan disambung dengan pemotongan pita secara bersama yang dilakukan oleh Didik Purwadi dan Haryadi Suyuti yang kemudian berkenan mengelilingi sejumlah stand yang ada.
Didik Purwadi dan Haryadi Suyuti membuka resmi sekaten 2015

Salah satu hiburan di pasar malam sekaten

Tarian tradisional iringi pembukaan sekaten
SABTU, 05 Desember /Jurnalis : Koko Triarko / Foto: Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo 
Lihat juga...