Saminem, Penjual Terompet Tahun Baru di Yogyakarta Berharap Keberuntungan

SABTU, 26 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Bagi warga berpendapatan minim, momentum liburan nataru, natal dan tahun baru, dimanfaatkan untuk mencari tambahan penghasilan. Misalnya, dengan berjualan terompet tahun baru seperti yang dilakukan oleh Saminem (42), warga dusun Umbulgedhe, Selomartani, Kalasan, Sleman, DI. Yogyakarta.

Saminem
Kendati tahun baru masih enam hari lagi, namun pedagang musiman tahun baru mulai muncul di berbagai lokasi di Yogyakarta. Seperti yang terlihat di kawasan Pasar Gentan, Jalan Kaliurang KM 10, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Di kawasan itu setidaknya telah ada 3 orang pedagang terompet khas tahun baru yang terbuat dari bahan kertas beragam bentuk.
Ditemui Sabtu (26/12/2015), salah satu pedagang terompet tahun baru, Saminem, mengatakan, jika ia sengaja menjual terompet lebih awal supaya bisa lebih banyak terompet yang dijualnya. Ia memilih lokasi di sekitar Pasar Gentan, karena kawasan itu terhitung ramai dan merupakan jalur menuju obyek wisata alam Kaliurang yang pada setiap malam tahun baru akan dibanjiri wisatawan domestik dari berbagai daerah. 
Sejak lima tahun ini, Saminem selalu memanfaatkan momentum pergantian tahun baru dengan berjualan terompet kertas. Hasilnya cukup lumayan buat tambahan penghasilan, apalagi sekarang di saat kedua anaknya membutuhkan banyak biaya sekolah. Saminem juga bersyukur, karena tahun ini bisa berjualan terompet dengan modal sendiri. 
“Tahun lalu, saya hanya patungan dengan teman, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak maksimal”, katanya.
Kali ini, Saminem menjual terompet sebanyak 100 buah. Terdiri dari beragam bentuk seperti terompet biasa dan terompet berbentuk liong atau naga dalam perayaan Imlek. Ia menjual satu terompet naga dengan harga Rp 20.000. Terompet-terompet itu didatangkan dari Solo, Jawa Tengah. Sementara itu, modal yang dikeluarkan Saminem untuk terompet sebanyak 100 buah itu sebesar Rp. 950.000. Sedangkan untuk membuat etalase dari kayu sederhana sebesar Rp. 100.000. Dengan total modal sebesar Rp. 1.050.000 itu, Saminem berharap bisa mendapatkan keuntungan sebesar 50 Persen atau bahkan lebih. “Target saya sih bisa dapat untung satu juta”, kata Saminem.
Meski masih enam hari lagi, Saminem yang pada hari ini baru mulai berjualan mengaku sudah laku empat buah terompet. Ia sangat berharap, terompetnya laku semua sehingga tidak harus menyimpannya untuk tahun depannya lagi. Saminem dalam kesehariannya bekerja sebagai cleaning sevice di sebuah lembaga pendidikan swasta di Yogyakarta. Sedangkan, suaminya hanya bekerja sebagai buruh tani. Dengan dua anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMK, tambahan penghasilan musiman dari berjualan terompet itu tentu saja akan sangat membantu kehidupannya. 
Lihat juga...