Sejarah Panjang Modernisasi Pasar Tradisional Kota Lama Kendari

Pasar Sentral Kota Kendari

KENDARI — Pasar tradisional yang berdiri pada tahun 1964, kini telah berubah menjadi pasar tradisional bergaya modern. Pasar sentral Kota Kendari ini diresmikan pada tahun 2014. Pasar ini mampu menampung sampai 2 ribu pedagang. Bangunan mirip mall ini mempunyai 1.030 kios dan 490 lodz. 
Beberapa anggota DPRD dan dinas dari kabupaten lain di Indonesia yang melakukan studi banding, kagum dan kaget melihat pasar modern yang dibangun Asrun, Walikota Kendari. Menurut Asrun yang sudah menjabat 2 periode pemimpin Kota Kendari, bangunan pasar modern ini menggunakan dana APBD murni sebesar Rp 122,3 miliar. Dana tersebut dianggarkan selama 3 tahun.
“Menjawab kebutuhan masyarakat, maka Pemerintah Kota Kendari membangun pasar rakyat dengan konsep yang modern,” kata Asrun yang juga mantan Kepala Dinas Tata Kota Kendari.
Sejak diresmikan bulan Mei tahun 2014, bertepatan dengan perayaan HUT Kota Kendari yang ke 183, Pasar Sentral Kota Kendari diresmikan. Sejak beroperasinya pasar modern ini, perlahan-lahan pedagang masuk berjualan.
Pasar modern ini dibangun 3 lantai, dilengkapi jalan lingkar, tangga eskalator  1 unit dan tangga lif 2 unit. Dengan fasilitas tersebut memberikan kesan pasar yang sangat mewah. 
Padahal pedagang yang berjualan di dalam pasar yakni pedagang pakaian, hand phone, beras, sayur, pecah belah, ikan, dan aneka kebutuhan lainnya. Bahkan di lantai 3, terdapat arena permainan anak.
Tarif sewa yang ditawarkan Pemerintah Kota Kendari, tergolong murah dan dapat diangsur oleh pedagang. Untuk ukuran 2,5 x 3 meter, tarifnya Rp 187,5 juta untuk jangka waktu 15 tahun. Sedangkan untuk sewa 1 tahun dengan ukuran yang sama Rp 12,5 juta.
Sementara ukuran 2,5 x 6 meter, sewanya Rp 375 juta dengan jangka waktu pemakaian 15 tahun. Ukuran yang sama tapi hanya 1 tahun, sewanya Rp 25 juta.
Sejarah perubahan pasar rakyat kota lama Kendari menjadi pasar modern cukup panjang. Cikal bakal pasar rakyat kota lama Kendari lahir ketika Provinsi Sultra berpisah dengan pemerintahan Provinsi Sulsel menjadi daerah otonom pada tahun 1964.
Pada zaman Presiden Soeharto masih berkuasa, pasar rakyat ini dibangun secara permanen sekitar tahun 1985. Di dekat pasar tersebut, kemudian berdiri Bank Bumi Daya yang kini melebur menjadi Bank Mandiri dan BRI.
Kedua bank tersebut perannya sangat sentral dalam upaya membantu perputaran roda perdagangan di pasar rakyat kota lama Kendari.
Pasar rakyat ini beberapa kali mengalami kebakaran besar, sehingga banyak pedagang yang mengalami kerugian. Namun pemerintah tetap membenahi salah satu pusat perdagangan di Kendari.
Pada tahun 2010, pasar rakyat kembali mengalami nasib naas. Api melalap habis hingga rata dengan tanah. Seluruh pedagang kemudian dilokalisir di tanah kosong yang letaknya di depan pasar tradisional yang terbakar.
Agar lokasi pasar darurat tidak terkesan kumuh, Pemerintah Kota Kendari membangun pasar dari konsep tradisional ke konsep pasar modern. Selama 3 tahun, Pemkot mengalokasikan dana APBD murni secara bertahap.
Kini pasar sentral Kendari sudah difungsikan. Pasar ini tidak hanya melayani kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako) masyarakat Kendari. Tetapi juga memenuhi kebutuhan dari masyarakat Kabupaten Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Buton Utara, Wakatobi bahkan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah.

Jumat, 04 Desember / Editor : ME. Bijo Dirajo / Jurnalis : Rustam / Foto: Rustam
Lihat juga...