Surat dari Pemilik Ulayat Gunung Botak untuk Gubernur Maluku

MINGGU, 20 DESEMBER 2015
Jurnalis: Samad Vanath V./ Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Samad Vanath V.


AMBON—Efek penutupan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Emas Gunung Botak Pulau Buru oleh Pemeritah Provinsi Maluku dalam hal ini Kadis (Kepala Dinas) ESDM Maluku, Ir. Martha Nanlohy, M.Si, yang terkesan konspiratif, memaksa para pemilik ulayat (ahli waris) Gunung Botak mengeluarkan mosi ketidakpercayaan terhadap Pemprov Maluku.

Dua alat berat yang digunakan PT. Buana Peatama Sejahtera milik Edy Winata.

Mosi tidak percaya itu dituangkan dalam sepucuk surat para ahli waris Gunung Botak itu ditujukan ke Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff.
Berikut isi surat para ahli waris Gunung Botak dikoordinir oleh Ir. Wael Mansur kepada Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff, yang diterima Cendana News di Ambon, Minggu (20/12/2015).
Assalammualaikum, wahai bapak kami (Gubernur Maluku), orang tua kami, yg kiranya melindungi kami.

Kemarin, ketika anak-anak kami masih tertawa bahagia sempat kami cerita bangga bahwa ada pemimpin kalian seorang habib, beliau orang baik. Mereka semakin mencintaimu sebab mereka mengenalmu, pernah melihatmu di televisi katanya.

Waktu berlalu, ketika hari itu lewat selembar kertas engkau perintahkan membumi hanguskan kami, mengusir kami dari tempat usaha kami yang membuat kami sedih, anak-anak kami tak bisa kuliah. Anak-anak kami tak bisa makan, apa salah kami wahai bapak kami.

Kami hanya mencari secuil berkah di atas tanah kami, di atas warisan leluhur kami.
Dengan isu sianida mercuri yang sesat, bapak masukan perusahan Besar.
Memakai alat berat merampas milik kami.

Ya Allah ya Tuhanku, ya bapak kami mengapa engkau berbuat begini pada kami?

Mengapa mereka yang tak pernah melihat menggunakan hak suara memilihmu saat pilgub kemarin engkau bela?

Apa karena mereka memiliki banyak uang? Ataukah mereka berjasa di tengah isu sianida mercuri.

Ya bapak kami, engkau telah ditipu!
Mereka juga seperti kami. Mereka menggunakan sianida bahkan jauh lebih besar. Kami sudah bisa membuktikannya.

Wahai bapak kami. Sekarang kami takut. Tapi waktu bukan hanya sekarang, masih ada besok lusa dan seterusnya.
Engkau mungkin akan memerintahkan pasukanmu mengusir kami.

Namun di tengah ketidak-adilan yang engkau buat, kami akan melawan. Lalu kami tak akan memanggilmu bapak kami, mungkin kami akan melupakanmu. (CDN)
Lihat juga...