Taman Laut Teluk Maumere, Dibangun dengan Uang Rakyat, Ditelantarkan oleh Pemerintah

SENIN, 28 DESEMBER 2015
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber berita: Ebed De Resoray

MAUMERE—Bangunan yang dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka di pantai wisata Wairterang Desa Wairterang, Kecamatan Waigete akhir tahun 2014 dibiarkan terlantar.
Bangunan yang persis berada di pinggir pantai dan jalan negara trans Flores, Maumere – Larantuka ini, saat disambangi Cendana News, Minggu ( 27/12/2015 ) terlihat tidak terurus Sampah dan dedaunan serta ranting pohon memenuhi areal ini. Tidak terlihat banyak pengunjung yang memanfaatkan tempat ini walau hanya sekedar melepas penat karena tingginya rerumputan di sekitarnya.
Hendrik Sogen seorang pengunjung yang ditemui di Pantai Waiterang menyebutkan, sejak dibangun , bangunan ini memang pernah dimanfaatkan pengunjung untuk bersantai melepas penat usai berenang di laut. Namun karena tidak ada petugas yang merawatnya maka kondisi bangunan yang dibangun memakai dana APBD Sikka senilai ratusan juta rupiah ini, tidak terurus dan terbengkelai.
Para wisatawan domestik lebih memilih Pantai Waiterang yang berjarak sekitar 50 meter arah timur areal ini karena bersih dan dilengkapi MCK serta ada tempat berteduh. Pantai Waiterang pun dulunya kotor namun sekarang kata Hendrik sudah ada petugas dari desa yang menjaga dan membersihkan sampah.
“Banyak pengunjung lebih memilih bersantai di Pantai Waiterang. Sayang bila habis dibangun dibiarkan terlantar karena ini kan pakai uang rakyat juga. Coba kalau dikelola baik, pasti banyak yang mampir ke situ dan bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah “ sesalnya.
Kepala desa Wairterang, I Silvesman,Sfil yang dihubungi Cendana News membenarkan bahwa bangunan yang dibangun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2014 tersebut dibiarkan terlantar. 
Dikatakan Silvesman, dirinya pernah membayar orang untuk merawat dan memelihara kawasan wisata tersebut namun karena statusnya masih milik pemerintah kabupaten dan belum ada kejelasan, pihaknya terpaksa menghentikan aktifitas tersebut.
“Waktu serah terima jabatan Camat Waigete beberapa bulan lalu, Bupati Sikka memanggil saya dan meminta agar bila hendak mengelolanya silahkan ajukan ke Dinas Pariwisata. Saya lalu kumpulkan kelompok  sadar wisata di desa dan kami mengajukan permintaan namun sampai saat ini belum juga ditanggapi “ tutur Silvesman.
Pihak Desa Wairterang papar Silvesman sudah membuat surat pengajuan ke Dinas Pariwisata namun belum juga ada hasilnya. Pak Kadis Pariwisata, Wilhelmus Sirilus tutur Silvesman meminta mengurus sendiri dan akan melakukan pengajuan ke pemerintah dan DPRD Sikka  karena itu merupakan aset daerah.
“Kami mau mengelola daripada mubasir namun harus ada serah terima resmi dan ada suratnya. Dinas Pariwisata juga sudah setuju tapi statusnya belum jelas karena belum ada surat resmi padahal kami sudah ajukan sekitar 6 bulan lalu “ tutur Silvesman.
Bila dipercayakan mengelolanya, kata Silvesman, pihak desa akan memperbaiki bangunan yang rusak dan membangun galeri untuk menjual souvenir lokal, membangun tempat parkir sederhana namun nyaman dan aman, Konsep pariwisata kerakyatan sebut Silvesman akan diterapkan sehingga masyarakat  bisa mendapat manfaatnya.
Selain itu sambung Sivesman, pihaknya akan membangun kemitraan dengan pemilik akomodasi untuk mengantar jemput turis asing ke lokasi ini dan membangun pengianapan. Wisatawan lokal tambahnya juga persilahkan untuk menikmati tempat ini namun harus membayar retribusi dan memperhatikan kebersihan lingkungan.
Disaksikan Cendana News, tiga buah bangunan beratap ilalang, kamar mandi, ruang ganti dan sebuah pos jaga dibiarkan terlantar dan dipenuhi coretan di temboknya. Pintu ruangan pun kuncinya sudah terlepas dan ruangan dipenuhi sampah. Selain itu sebuah bak air berukuran besar serta kran air dibiarkan merana tanpa ada air. Aroma di lokasi pun sangat busuk dikarenakan sampah yang tak terurus.
Lihat juga...