Tekan Kekerasan Pada Perempuan, Perpu Kebiri Segera Diberlakukan

Deklarasi Anti Kekerasan pada Perempuan dan Anak
YOGYAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yambise menyebutkan, menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, pemerintah dalam beberapa hari kedepan akan segera menerbitkan Perpu Kebiri.
“Perpu Kebiri tidak melanggar HAM. Banyak negara telah menerapkan. Ini karena jumlah kekerasan seksual terhadap anak jumlahnya semakin meningkat,”sebutnya dalam deklarasi Jogja Tanpa Kekerasan Pada Perempuan dan Anak, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Pemda DIY serta sejumlah lembaga dan komunitas terkait, Minggu (6/12/2015).
Disebutkan juga, saat ini sebanyak 6 persen anak-anak di Indonesia menjadi korban kekerasan seksual. Sementara itu jumlah anak yang mengalami kekerasan fisik, lebih banyak lagi, yaitu 50 persen dari jumlah anak di Indonesia.
Yohana menekankan, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi tugas dan tanggung-jawab bersama. 
Gelar acara Jogja Tanpa Kekerasan Pada Perempuan dan Anak, didukung pula oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY, Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) DIY, Komunitas Sedekah Ilmu (KSI) dan diikuti oleh sejumlah komunitas di antaranya Grup Perempuan Adilihung Yogyakarta dan Persit Kartika Candra Kirana. Sementara itu hadir dalam acara tersebut, Asekda Pemda DIY, Sulistyio mewakili Gubernur DIY, Sultan HB X, Ketua FPKK DIY, Dr. Sarimurti, dan Sekretaris, Erlina Hidayati serta Sekretaris BPPM DIY Carolina Radiastuty.
Dengan digelarnya acara tersebut, BPPM DIY berharap seluruh masyarakat semakin semakin peduli terhadap pencegahan kekerasan yang saat ini jumlahnya semakin meningkat. Carolina mengatakan, selama dalam satu tahun ini di Yogyakarta terdapat kurang lebih 300 kasus terdiri dari kekerasan terhadap anak dan perempuan. 
“Maka dengan acara ini, diharapkan masyarakat semakin peduli dengan ancaman kekerasan terhadap anak dan perempuan. Dan, dengan acara ini pula Jogja diharapkan menjadi kota pertama yang mendeklarsikan diri sebagai kota anti kekerasan terhadap perempuan dan anak”, ujarnya.
Gelar acara kampanye Jogja Tanpa Kekerasan Pada Perempuan dan Anak, dimeriahkan dengan berbagai pentas musik dan suguhan tarian tradisional dari Papua, yang dibawakan oleh mahasiswa asal Papua yang ada di Yogyakarta. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan deklarasi oleh Erlina Hidayati, yang pada intinya menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. 
MINGGU, 06 Desember / Jurnalis : Koko Triarko / Foto: Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo 
Lihat juga...