Titiek Soeharto Minta Harga Jual Teh Perkebuhan Menoreh Kulon Progo Dinaikkan

SENIN, 21 DESEMBER 2015
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Foto: Koko Triarko
YOGYAKARTA—Dalam masa resesnya kali ini, Senin (21/12/2015), Titiek Soeharto meninjau kawasan perkebuna teh di perbuktian menoreh, pedukuhan Tritits, Ngargosari, Samigaluh, Kulonprogo, DI. Yogyakarata. Perkebunan teh seluas 136 hektar di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu, sejak 1990 telah dikembangkan oleh warga sekitar. Namun demikian, berbagai kendala masih banyak dialami oleh warga petani, sehingga hasil yang diperoleh dirasa belum optimal.


Titiek Soeharto menyerap aspirasi dari sekitar 317 petani teh di perkebunan teh Menoreh. Terungkap dalam jaring aspirasi tersebut, masih rendahnya harga jual teh menjadi kendala besar yang dihadapi oleh para petani. Selain itu juga minimnya sumber air di musim kemarau membuat produktifitas teh di musim kering menjadi menururn. 
Terkait hal itu, Titiek meminta agar dinas terkait segera mencarikan jalan keluar. Dikatakan Titiek di hadapan para petani yang tergabung dalam Koperasi Usaha Bersama (KUB) Menoreh Jaya, serta sejumlah pejabat dins terkait, bahwa selain sebagai mata pencaharian bagi para petani, kawasan perkebunan teh tersebut juga semestinya bisa dimanfaatkan untuk parwisata.
Namun demikian, diakui Titiek, membangun dan mengembangkan perkebunan memang tidak mudah. Banyak kendala yang dihadapi, antara lain soal bibit, pupuk dan harga jual yang masih rendah. Pemkab Kulon Progo sendiri, katanya, terus berupaya mengembangkan perkebunan teh. Pemerintah Kuloprogo selama ini telah berupaya keras agar petani teh tidak hanya mendapatkan hasil dari pucuk daunnya saja, namun juga melalui pengemasan, pengembangan agro wisata berbasis kebun teh. Kabupaten Kulon Progo bahkan sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat program rehabilitasi kebun teh, pembangunan  jalan dan irigasi serta rumah produksi pengemasan. Namun, tentu saja tidak semua bisa disetujui, mengingat prioritas progam pemerintah terkait keterbatasan dana. 
Memberikan bantuan gunting teh
“Kami dari Komisi IV DPR RI akan turut memperjuangkan berbagai program bantuan yang diingikan para petani. Namun perlu diingat, bahwa bantuan pemerintah itu sifatnya hanya sebagai pendukung dan masyarakat yang harus bisa melengkapinya”, ujar Titiek.
Perkebunan Teh Menoreh selama ini dikelola oleh KUB Menoreh Jaya. Namun dari total luas lahan 136 H, hanya 48 H yang telah dikelola dengan baik. Pengurus Bagian Pengemasan KUB Menoreh Jaya, Mustuhal menjelaskan, 48 Hektar kebun teh tersebut dikelola oleh sekitar 317 petani yang tergabung ke dalam 18 kelompok tani. Dari 48 hektar yang telah dikelola itu, sebanyak sebanyak 30 Ha berada di pedukuhan Tritis. Dari lahan seluas itu, KUB Menoreh Jaya mampu menghasilkan daun basah rata-rata perhari 800-an kwintal. Semenara itu dalam setahun, jelasnya, dari uas lahan 1 Hektar mampu menghasilkan sebanyak 12 Ton daun teh basah senilai Rp. 15 Juta, dengan biaya operasional selama setahun Rp 4 Juta.
Namun demikian, Mustuhal menegaskan, jumlah penghasilan sebesar itu masih dirasa kurang. Pasalnya, para petani hanya mengandalkan penghasilan dari perkebuan teh tersebut. Selama ini, teh hasil perkebunannya dijual ke PT Pagelaran seharga Rp. 1.250 perkilogram. Dari harga tersebut, sebanyak Rp 250 merupakan subsidi dari pemerintah melalui APBD Provinsi DIY. Harga tersebut dinilai sangat rendah, karena nilai jual ideal bagi para petani adalah sekitar Rp 1.500-2.000 perkilogramnya. Untuk itu, Mustuhal mengharapkan, harga jual itu bisa dinaikkan.
Mustuhal mengatakan, kendala paling besar yang dihadapi oleh para petani teh itu adalah harga jual yang masih rendah itu. Pasalnya, berbagai kendala lain seperti hama dan minimnya sumber air di musim kemarau relatif sudah bisa diatasi. Menurutnya, untuk mengatasi minimnya sumber air itu kini telah dibangun embung dari anggaran pemerintah sebesar Rp 350 Juta ditambah swadaya dari masyarakat. 
Berkait masih rendahnya harga jual itu, PT Pagelaran yang dalam pertemuan itu diwakili oleh Manager Umum, Gandung Hardaningsih, menjelaskan, jika rendahnya harga jual teh tersebut disebabkan oleh kualitas dan kuantitasnya. Namun demikian, pihaknya mengaku telah beurpaya pula untuk meningkatkan kualitas daun teh yang dihasilkan, salah satunya dengan mengirimkan daun teh hasil perkebunan di Menoreh tersebut ke Balitbang untuk diteliti sehingga bisa ditemukan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil perkebunan teh Menoreh. 
Pertemuan yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, dirasa cukup memberi solusi bagi para petani. Ke depan, Titiek mengharapkan, berbagai dinas terkait mampu menindak-lanjuti berbagai masukan tersebut. Berkait keinginan warga untuk mengembangkan perkebunan teh sebagai kawasan agro wisata, Titiek menyarankan untk meniapkan berbagai fasilitasnya dengan baik. Sehingga diharapkan, para petani tidak hanya disuruh melestarikan saja, namun nilai jual yang berimbas kepada kesejahteraan petani juga harus dipikirkan.
Turut hadir dalam pertemuan itu, Eko Wisnu Wardoyo, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kabupaten Kulonprogo, Anggota DPRD Kulon Progo dari Partai PKB, Suharto, muspika dan ratusan petani anggota kelompok KUB Menoreh Jaya. Dalam kesempatan itu, Titiek juga memberikan bantuan berupa gunting dauh teh sebanyak 24 buah. 
Lihat juga...