Tolak Pembangunan Hotel, Warga kampung di Yogya Gelar Spanduk

Warga di depan kawasan yang hendak dibangun hotel dan apartemen
YOGYAKARTA — Tuntutan tidak ditanggapi pihak terkait, puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga Terban, Gondokusuman, Yogyakarta, Sabtu (5/12/2015), sore, memasang tiga buah spanduk berintikan penolakan pembangunan Hotel dan Apartemen di wilayahnya. 
Sekretaris forum warga penolak pembangunan hotel dan apartemen di kampung Terban, Tulus Wardaya menjelaskan, pemasangan spanduk itu dilakukan untuk lebih menunjukkan semangat warga yang akan tetap menolak rencana pembangunan hotel dan apartemen yang dinilai warga akan berdampak buruk bagi lingkungan dan kondisi sosial di wilayahnya. 
Tulus Wardaya
Menurutnya, bangunan apartemen dan hotel yang akan dibangun itu terbilang cukup besar dan tinggi, yaitu sebanyak 13 lantai atau kurang lebih setinggi 38 meter, terdiri dari dua bangunan ground dan 11 lantai di atas tanah dengan jumlah kamar sebanyak 720 unit. Dengan luasan pembangunan itu, berbagai dampak lingkungan akan dialami oleh warga kampung Terban. 
Di antaranya dampak fisik yaitu afanya getaran tanah saat dialukan pembangunan, sedangkan kawasan kampung Terban berada di kawasan tebing Sungai Code. Selain itu juga terjadinya polusi udara, kebisingan, limbah air dan mengeringnya air tanah.
Sementara itu, dampak buruk sosial juga akan terjadi, dengan kemungkinan terjadinya disintegrasi warga karena budaya luar yang berbeda dan belum tentu sesuai dengan budaya setempat. Bahkan, gangguan sosial juga mulai dirasakan saat ini, karena warga terbelah menjadi dua kubu antara yang pro dengan yang kontra.
Pada awalnya, kata Tulus, semua warga menolak dengan adanya rencana pembangunan hotel dan apartemen itu. Namun karena ada sejumlah oknum yang memberi iming-iming sejumlah uang bagi warga yang setuju, maka sejumlah warga ada yang tergiur dan menyatakan setuju. 
“Maka, dampaknya adalah perpecahan di kalangan warga kami. Karena itu, saat ini kami belum mempersoalkan perizinan pembangunan hotel dan apartemen itu. Tapi, kami minta agar keharmonisan warga kami dikembalikan”, ungkap Tulus.
Rencana pembangunan hotel dan apartemen di wilayah kampung Terban, mulai menjadi polemik sejak Oktober 2014. Saat itu, warga mulai mengadakan rapat untuk menolak rencana pembangunan hotel dan apartemen di atas lahan seluas 4.900 meter persegi. 
Semenjak itu pula, warga menempuh berbagai cara prosedural guna menolak rencana tersebut, dengan mengirimkan surat penolakan ke sejumlah instansi terkait, diantaranya kepada Gubernur dan DPRD DIY , Kimpraswil Kota Yogyakarta, SKPD Perizinan dan sejumlah lembaga terkait lainnya. 
“Sampai saat ini, semua surat yang dilayangkan belum ditanggapi. Maka, hari ini kami memasang spanduk untuk menunjukkan ketegasan sikap kami”, pungkas Tulus.
SABTU, 05 Desember / Jurnalis : Koko Triarko / Foto: Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo 
Lihat juga...