Warga Kota Yogyakarta Mendesak Segera Dibuat Perda Kawasan Tanpa Rokok

Jum’at, 18 Desember 2015 / Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu

Beberapa warga menyematkan tanda tangan dalam deklarasi Kawasan Tanpa Rokok (18/12/2015)

YOGYAKARTA—Ratusan warga kota Yogyakarta, menggelar acara deklarasi mendukung Kota Yogyakarta sebagai kawasan tanpa rokok di halaman Balai Kota Yogyakarta, Jumat (18/12/2015), pagi. Mereka meminta, agar DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) segera mengesahkan Raperda Kawasan Tanpa Rokok di kota pelajar.
Aksi penggalangan tanda tangan sebagai bentuk dukungan segera ditetapkannya Kota Yogyakarta sebagai kawasan tanpa rokok, diikuti ratusan warga dan sejumlah karyawan Pemerintah Kota Yogyakarta. Dalam deklarasinya, mereka menyatakan mendukung diberlakukannya Perwali No. 12 Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), mendorong DPRD Kota Yogyakarta untuk segera menyusun Raperda KTR yang lebih komprehensif, mengajak masyarakat agar tidak merokok di KTR dan sebagainya. 
Monda Saragi
Dalam aksi tersebut, Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti,  menjelaskan, jika KTR itu bukan berarti melarang setiap orang untuk merokok. Melainkan hanya penertiban. Melalui Perwali dan Raperda KTR, ditentukan sejumlah kawasan yang tidak boleh untuk merokok. 
“Ini bicara soal ketertiban. Bukan pelarangan. Maka kita harapkan masyarakat memahami dan DPRD segera membuat Raperda itu dan ada sanksinya”, kata Haryadi.  
Sementara itu, Ketua Pantia Jogja Sehat Tanpa Tembakau, Monda Saragi mengatakan, pasca deklarasi tersebut, secara simultan teman-teman penggerak kegiatan kampung bebas asap rokok dan beberapa komunitas akan melakukan pemberdayaan di level RT dan RW, agar masyarakat semakin mengetahui dan meningkatkan perilaku tertib merokok. Ia berharap seluruh elemen masyarakat di Yogyakarta semakin memahami kedudukan dan informasi tentang kesepahaman terkait Perda Kawasan Tanpa Rokok.
Jika bicara asas yang lebih tinggi, lanjut Monda, UU No. 36/2009 Tentang Kesehatan sudah memaklumatkan agar setiap kota membuat kawasan tanpa rokok. Karena itu, dengan aksi deklarasi tersebut, pihaknya juga mendorong agara DPRD Kota Yogyakarta segera membahas dan menetapakn Raperda KTR. Sejauh ini, katanya, di Yogyakarta baru ada Perwali No. 12/2015, yang mengatur masyarakat untuk tidak boleh merokok di beberapa tempat yang telah ditentukan, antara lain di tempat ibadah, lembaga  pendidikan, dan lainnya. Karena hanya Perwali, maka peraturan itu tidak ada sanksi, kecuali hanya teguran dan sifatnya persuasif. 
Monda juga mengatakan, selama ini kawasan tanpa rokok sering dipelintir maknanya dengan mengartikannya bahwa tidak boleh merokok atau menjual rokok. Padahal, Raperda KTR itu hanya mengatur kawasan. 
“Intinya tertib merokok, boleh merokok tapi harus menghargai yang tidak merokok”, cetusnya.
Berbagai upaya menciptakan kawasan tanpa rokok di Yogyakarta telah dimulai dengan membangun kampung-kampung bebas asap rokok. Sampai Desember 2015 ini, kata Monda, telah ada 84 dari 617 kampung yang mendeklarasikan diri sebagai kampung bebas rokok. 
“Dan, setiap tahun, kita selalu bekerjasama dengan dinas kesehatan untuk mendorong semua kampung untuk mendeklarasi kampungnya sebagai kampung bebas rokok”, pungkasnya. 

Sumber foto: Koko Triarko
Lihat juga...