YIARI dan BKSDA Menyelamatkan Orangutan Korban Perdagangan

Jum’at, 18 Desember 2015 / Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor: Sari Puspita Ayu

KETAPANG—YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) kembali menyelamatkan dua orangutan korban praktik jual beli orangutan di Desa Balai Pinang dan Randau Jekak, Kecamatan Simpang Hulu, Ketapang, Kamis, 17 Desember 2015. 


Hal ini membuktikan, selain kebakaran hutan, jual beli satwa yang dilindungi  untuk dipelihara juga merupakan ancaman bagi kelestarian orangutan.
           
Orangutan peliharaan yang diambil dari Balai Pinang bernama Japik. Japik adalah orangutan betina berusia sekitar 4-5 tahun. Pemiliknya mengaku mendapatkan orangutan ini dari saudaranya yang membeli dari pemburu di daerah Randau Hulu, dua bulan silam. Orangutan ini biasanya diberi makan apa saja, mulai dari nasi, lauk pauk, buah-buahan, sambal, susu, kopi, sampai es teh.
           
Kondisi Japik memprihatinkan. Dia dipelihara di belakang rumah, dibawah sebatang pohon. Lehernya diikat dengan rantai yang dipaku ke batang pohon tersebut. Tim YIARI menemukan bekas luka di lehernya akibat jepitan rantai yang membelit lehernya. Selain itu, tidak ada atap yang melindungi japik dari panas dan hujan.
Paini
Ketika tim YIARI datang, hujan turun dengan deras dan Japik hanya melindungi diri dengan selembar kain kumal. Tampak Japik menggigil kedinginan karena hujan deras yang tidak kunjung berhenti.
Ketua Umum YIARI, Tantyo Bangun mengatakan, tahun 2015, jika mengacu pada Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan 2007-2017 seharusnya sudah tidak ada lagi orangutan yang di pusat rehabilitasi, namun yang terjadi adalah sebaliknya.
“Tahun ini adalah rekor jumlah orangutan yang diselamatkan di pusat-pusat rehabilitasi,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Kota Pontianak, Jumat 18 Dseember 2015.
Tahun ini YIARI telah menyelamatkan tidak kurang dari 42 individu orangutan. Ini merupakan rekor terbanyak setelah pada tahun 2014 silam YIARI menyelamatkan 25 orangutan. Tentu saja ini bukan rekor yang membanggakan karena makin banyak orangutan yang perlu diselamatkan, berarti ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies ini semakin besar.
“Kami harap kita semua bisa bercermin dan prihatin akan kondisi dunia konservasi Indonesia saat ini dan bergerak bersama ke arah yang lebih baik,” pungkas Tantyo Bangun.
Pemilik Japik mengungkapkan, sudah lama sebetulnya dia mau menyerahkan orangutan ini, hanya saja dia tidak tahu harus menghubungi siapa. 
“Saya mau menyerahkan orangutan karena pertama saya kasihan, kedua saya tahu orangutan adalah hewan langka yang harus dilestarikan, tapi saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Jadilah orangutan itu lama ada di sini,” ungkapnya.
Selain Japik, ada juga orangutan yang bernasib sama sepertinya yaitu Paini. Paini dipelihara warga setelah ia membelinya dari seorang pemburu dengan harga 500 ribu. Pius sebagai pemilik Paini yang berinisiatif menghubungi YIARI. 
“Saya membelinya seharga 500 ribu, saya memang berniat mau menyelamatkannya, makanya saya menghubungi YIARI, Pemburu itu memang bukan berburu orangutan, tapi waktu mereka masuk hutan, mereka menemukan bayi orangutan ini sendirian tanpa induknya di daerah Randau, Sandai. . Jadinya orangutan ini diambil mereka,” pungkasnya.
Sumber foto: YIARI
Lihat juga...