Saver, Kaum Difabel Yang Tetap Setia Bergelut Dengan Sampah

KAMIS, 31 DESEMBER 2015
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

SIKKA—Tangannya terampil memotong bagian atas tutupan gelas plastik minuman dari aneka merek menggunakan pisau cutter saat dijumpai Cendana News, Rabu (30/12/2015)  di gudang penyimpanan Bank Sampah Flores di kompleks Perumnas Maumere, kabupaten Sikka.


Gelas-gelas plastik bekas minuman dikumpulkan dari anggota yang menjualnya ke Bank sampah Flores oleh Fransiskus Saverinus didaur ulang dengan dibentuk menjadi aneka tas, piring plastik,tempat kue dan lainnya. Sementara kertas akan dibentuk untuk dijadikan tempat lampu dan juga aneka kerjaninan lain.
Meski duduk di kursi roda, Saver sapaan akrabnya tak mau berputus asa dan tetap semangat menjalani hidup. Sebelum kakinya tidak bisa digerakkan, Saver bekerja menjajakan sembako di pasar tradisional. Tahun 2000 dirinya mengalami kecelakaan lalu lintas dan berobat ke puskesmas dan rumah sakit tapi dikatakan dirinya tidak menderita  penyakit.
“ Saya akhirnya berobat ke dukun sampai 40 orang dukun tapi tidak sembuh. Tahun 2005 ada seorang dukun yang urut saya dia tarik pergelangan kaki saya dan saya mendengar bunyi di pinggang, saya merasa tulang saya bergeser. Sejak dia pulang keesokan harinya saya mau berdiri tidak bisa padahal selama 5 tahun saya bisa berjalan meski pelan-pelan “ ucapnya lirih.
Selama 4 tahun sejak kejadian tersebut, lelaki kelahiran  Hale, Mapitara 29 Januari 1975 terkurung 4 tahun di kamar rumahnya di Mapitara. Setiap hari lelaki berumur 40 tahun ini selalu berfoa meminta Tuhan agar dirinya bisa bertemu orang yang bisa mengajak bekerja serta bisa membuat dirinya  tersenyum dan bahagia.Selama 4 tahun menetap di kampung halaman Saver merasa bak di penjara.
“Meski diolok saya tetap tersenyum dan tidak dendam. Karena saya tidak pernah membuat orang susah, akhirnya Tuhan menjawab doa saya dan saya bisa dipertemukan dengan Ibu Susi dan bergabung di Bank Sampah Flores “ tuturnya bersemangat.
Menjadi Relawan

Saat berjumpa dengan Wenefrida Efodia Susilowati atau kerap disapa Ibu Susi, Saver diajak bergabung bersama 5 penyandang cacat lainnya dan 6 orang normal untuk membentuk Bank Sampah Flores tanggal 14 Februari 2014. Dirinya tertarik bergabung karena menyadari kalau bukan kita yang mengurus sampah siapa lagi, apalagi ini kan untuk kebersihan lingkungan.
Setiap orang yang bergabung di Bank Sampah Flores bekerja secara sukarela tanpa mendapat imbalan. Karena kerjanya sukarela, akhirnya setelah berjalan setengah tahun, banyak pendiri yang tidak aktif karena tidak mendapat gaji dan hanya ambil bagian kalau ada kegiatan sosialisasi atau pelatihan.Saver mendapat tugas sebagai bendahara.
“Awalnya saya tidak mau jadi bendahara tapi Ibu Susi katakan kalau kita pilih orang yang normal kalau kita ada butuh uang orangnya sering tidak ada di tempat bagaimana?. Akhirnya sata terima tapi dalam perjalanan karena banyak tidak aktif saya rangkap juga jadi sekertaris, penimbangan sampah, daur ulang  hingga menjualnya “ bebernya.
Setiap hari lelaki yang belum menikah ini bekerja sejak pukul 07.30 wita hingga 16.30 wita di gudang Bank Sampah Flores. Saver menerima semua sampah yang dibawa masyarakat dan beberapa kelompok organisasi dengan dibantu tiga relawan dimana seorang relawan merupakan penyandang cacat seperti dirinya.
“Kami menerima sampah dari masyarakat dan dipilah karena banyak sampah yang tercampur. Kami tidak mau menolaknya karena kasihan mereka sudah membawanya sendiri ke tempat kami “ tuturnya.
Untuk setiap relawan yang membantunya, Saver memberikan uang transport 20 ribu sehari ditambah makan siang. Tak berselang lama dirinya kasihan melihat para relawan yang meninggalkan keluarga seharian sehingga  Saver pun membayar hasil kerja para relawan dimana dari satu kilo kertas yang dipilah dirinya membayar 250 rupiah sementara palstik 750 rupiah.Saver sadar uang ini tidak seberapa namun drinya tak bisa berbuat banyak karena lembaga yang didirikannya hanya bermodalkan semangat tidak memiliki dana.
“Biar tiap hari saya bergumul dengan sampah tapi saya tidak kena sakit karena Tuhan pasti tahu. Banyak masyarakat yang jijik dengan sampah apalagi setelah mereka tahu saya bekerja secara sukarela mereka cuma menggelengkan kepala saja “ ungkap Saver dengan suara datar.
Memberi Pelatihan

Selama bergabung di Bank Sampah Flores, Saver yang saat ditemui mengenakan kaus oblong lusuh tak pernah merasa malu. Bakan Saver merasa bersyukur bisa ikut memelihara lingkungan. Dirinya pun tak sungkan membagi ilmu tentang proses mendaur ulang sampah dengan membentuknya menjadi aneka kerajinan tangan.Keterampilan ini sebut Saver dipelajari sendiri setelah melihat seorang instruktur yang diundang memberikan pelatihan di tempatnya bagi anak-anak sekolah.
Awalnya anak dari almahrumah Lusia Lodan yang meninggal sewaktu melahirkannya, tidak tertarik membuat kerajinan tangan. Namun saat berada di kantornya yang berbatasan dengan pantai Saver mendapati anak – anak sekolah dasar yang sedang bermain di pantai saat liburan panjang sekolah. Dirinya pun bertanya dalam hati, kalau anak – anak ini diajak memotong gelas plastik untuk dibuat kerajinan dan diberi upah apa mereka bersedia?.Kasihan bila anak – anak hanya bermain selama sebulan masa liburan tanpa ada kegiatan positif.
“ Akhirnya saya kumpulkan mereka dan kasih tahu Tak diduga esoknya ada 12 anak yang bersedia dan mulai bekerja.Setelah ring gelas minuman yang dipotong banyak terkumpul saya bingung mau buat apa dan siapa yang membuatnya? “ bebernya.
Anak bungsu dari 3 bersaudara ini pun meminta ibu Susi membeli tali dan dirinya pun mulai belajar menganyam piring, keranjang dan tas.Hari pertama, Saver cuma mampu merangkai 5 gelang plastik saja karena tanganya masih susah digerakkan namun dirinya tidak putus asa.Lama kelamaan lelaki yang sejak kecil diasuh dan dijadikan anak angkat oleh pamannya ini mulai terbiasa hingga mahir membuat aneka kerajinan dari gelas minuman plastik hingga kertas dan koran bekas.
Ilmu yang didapatnya awalnya ditularkan kepada 16 anak dari Mauloo dari Paga. Pelatihan yang dilaksanakan beber Saver berlangsung selama 3 hari.Hari pertama dilakukan sosialisasi tentang sampah sementara hari kedua diajarkan cara memotong, mengiris gelas plastik dilanjutkan dengan menganyamnya menjadi aneka barang. Hari ketiga lanjut Saver, peserta dilatih cara menerima sampah dari masyarakat dimulai dari cara menimbang, memilah dan merapikan sampah. 
“ Kalau mereka bisa membuat satu keranjang selama diadakan pelatihan maka keranjangnya bisa dibawa pulang.Syukurlah, ke 16 anak tersebut bisa membuat keranjang semua “ ungkapnya bangga.
Setelah itu dirinya bersama ibu Susi dan teman relawan lainnya mulai sering memberikan sosialisasi terkait bank sampah dan proses daur ulang. Sudah beberapa masyarakat desa dan sekolah serta lembaga agama di Sikka diberikan pelatihan olehnya.Bahkan Saver bersama Bank Sampah Flores kerap diajak memberi pelatihandi beberapa kabupaten lain di propinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT ).
Butuh Modal
Meski dengan keterbatasan fisik dan keterbatasan sarana dan modal Saver dan lembaga yang dibentuknya tak patah arang. Dirinya coba memulai dengan keterbatasan.Sudah puluhan ton sampah dikirim ke Jawa guna didaur ulang.Selain itu, aneka kerajinan sampah yang diproduksinya sudah beredar di beberapa pasar dan dibeli masyarakat. Selain itu Saver merasa bangga karena masyarakat yang dilatihnya pun banyak yang membuat kerajinan sejenis dan menjualnya di pasar.
“ Saya merasa bangga bisa membagi keterampilan dan pengetahuan terkait sampah kepada orang banyak.Saya juga senang bisa berguna bagi orang lain dan memberikan penghasilan bagi mereka meski tidak seberapa nilai uangnya “ ungkapnya.
Saver yang kerap dikunjungi saudara angkatnya di tempat penampungan sampah Bank Sampah Flores saban hari tetap setia duduk di kursi roda melayani para penyetor sampah baik yang sudah menjadi anggota maupun yang belum bergabung.Bila tak ada yang menyetor sampah dirinya tetap melakukan aktfitas membuat kerajinan tangan dari sampah. Tidur di tempat sederhana di gudang penyimpanan sampah tidak membuatnya malu.
Saat ditanyai kendala yang dihadapina, Saver dengan suara pelan mengatakan, dirinya butuh modal untuk membeli samoah dari masyarakat. Selain itu karena tidak memiliki armada untuk mengangkut sampah, pihaknya hanya berharap pinjaman mobil dari para relawan.Banyak yang memintanya mengangkut sampah di desa – desa maupun di dalam kota Maumere namun dirinya hanya meminta mereka bersabar. Jika ada yang menyediakanmobil gratis dan dananya sudah ada baru dirinya akan mengambil sampah – sampah tersebut.
“ Untuk membeli sampah kami butuh uang cach karena masyarakat banyak yang minta sampahnya langsung dibayar. Kami juga harus menjemput sampah di tempat mereka karena mereka mau antar ke bank sampah tapi tidak ada ongkos. Kalau dibayat cash mereka sering bersemangat mengumpulkan lagi “ kata Saver.
Walau memiliki keinginan untuk berobat lagi untuk menyembuhkan kakinya, namun sampai sekarang Saver belum melakukan karena belum ada yang membantu membiayai pengobatannya. Saver juga merasa bersyukur bisa bekerja dan berharap tetap bisa menghidupkan bank sampah yang sudah dibentuknya karena bagi dirinya, jika tidak ada orang yang peduli maka sampah akan menumpuk dimana – mana.
“ Saya senang bisa bekerja disini.Kalau ada mobil truck atau pick up  sendiri saya akan memilih sampah di tempat umum dan di desa – desa untuk di daur ulang lagi. Selain bisa menghasilkan uang, memilih sampah juga menjadikan lingkungan bersih dan tidak tercemar apalagi sampah plastik yang butuh ratusan tahun baru terurai “ pungkasnya.
Lihat juga...