“ Lepo Gete “, Istana Raja Sikka. Merana di Bibir Pantai Selatan

SENIN, 1 FEBRUARI 2016
Penulis: Ebed De Rosary / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Ebed De Rosary

NUSA TENGGARA TIMUR—Lepo Gete dalam bahasa Sikka diartikan sebagai rumah yang ditempati oleh orang besar. Rumah ini ditempati oleh Raja Sikka sehingga biasa disebut Istana Raja. Berada persis di bibir pantai selatan, Lepo Gete warisan kerajaan ini hancur bak ditelan ganasnya ombak pantai selatan. Niat baik pemerintah Kabupaten Sikka membangunnya kembali membuat Lepo Gete bisa disaksikan generasi muda saat ini. Meski tidak sesuai aslinya, Lepo Gete tetap menjadi sebuah bangunan unik penuh sejarah.

Lepo Gete, istana raja Sikka yang dibangun kembali oleh pemerintah Sikka di tahun 2000

Kampung Sikka atau Sikka Natar terletak di pantai selatan Kabupaten Sikka, di Kecamatan Lela, berjarak ± 28 kilometer dari Kota Maumere. Sikka Natar ini kelihatan sederhana, namun sesungguhnya mengandung suatu perjalanan sejarah yang sangat berarti. Di kampung inilah terdapat sebuah gereja tua dan rumah yang disebut Lepo Gete.
Lepo Gete ini menjadi istana kerajaan Sikka dan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Sikka dalam rentan waktu yang cukup lama terutama dalam masa penjajahan Portugis abad ke XVI dan Belanda abad ke XVII. Lepo Gete hanya berjarak ± 5 meter dari bibir pantai selatan. Lepo Gete pernah menjadi pusat kontak budaya antara penduduk pribumi Sikka pada umumnya dan bangsa asing seperti Portugal dan Belanda. 
Sejak awal terbentuknya Kerajaan Sikka sekitar tahun 1607,Raja Sikka, Don Alexius Alessu Ximenes da Silva, membangun pusat pemerintahannya dengan bermarkas di Kampung Sikka, di istana “Lepo Gete”.Hampir semua Raja Sikka mendiami istana kerajaan Sikka ini. 
Lepo Gete persis berada di sebelah selatan gereja tua Sikka, berjarak ± 15 meter. Saat disambangi Cendana News, terlihat beberapa lelaki sedang tidur di tempat ini. Beberapa wanita yang menjajakan kain tenun ikat di seberang jalan mengatakan, bila turun hujan, mereka semua akan berlindung di Lepo Gete. Tali-tali diikatkan menghubungkan tiang yang satu dengan yang lainnya.Sarung pun diletakan di tali yang terentangdi kolong bangunan Lepo Gete tersebut sementara mereka duduk di atas berandanya.
Tidak Seperti Aslinya
Menurut penuturan Gregorius Tamela Karwayu (67 tahun) yang ditemui Cendana News,  bangunan Lepo Gete memang sejak dulu sudah ada. Tapi setelah raja Don Alesu pulang dari Malaka,tutur Goris pria ini biasa disapa, istana raja pun diperbesar karena wilayah kerajaan juga diperluas. Bangunan ini sebutnya berbentuk rumah panggung dengan panjang 20 meter dan lebar 15 meter beratap tinggi melancip dengan dua sisi air.  
Lepo Gete sebut Goris terdiri atas dua bagian utama yakni Tedang yang berfungsi sebagai pendopo rumah, tempat menerima tamu, tempat musyawarah, tempat perjamuan atau acara pesta lainnya. Bagian kedua disebut Une. Tempat ini ungkap lelaki kelahiran 12 Maret 1948, khusus hanya untuk penghuni rumah atau anggota keluarga dekat dimana disitu juga terdapat tempat tidur dan  tempat menyimpan harta kekayaan yang berharga. Bagian Une letaknya lebih tinggi dari bagian Tedang dan ada tangga (Dang) yang menghubungkan kedua bagian itu.  
 “Selain Une dan Tedang pada bagian belakang terdapat dapur dan tempat menyimpan persediaan makanan yakni Awu dan Ronang.  Bagian ini juga letaknya lebih rendah dari Tedang dan dilengkapi dengan kamar tidur untuk pembantu rumah.Bangunan Lepo Gete sekarang ini tidak seperti aslinya.Ada rencana mau dibangun lagi seperti aslinya “ ujarnya.
Rumah besar ini seperti disampaikan Orestis Parera (75) kepada Cendana News di hari yang sama,pada jaman Belanda dan sebelum merdeka baru dipindah ke Maumere. Raja Don Yosephus Thomas Ximenes da Silva sebut pak Res,pria ini biasa disapa,  pernah tinggal di Lepo Gete tapi setelah itu pindah ke Maumere.Pemerintah Kabupaten Sikka saat bupati dijabat Paulus Moa,beber lelaki kelahiran 25 Juni 1940, membangun kembali rumah adat itu pada tahun 2000 dengan biaya 100 juta rupiah untuk melestarikan sejarah, budaya dan sekaligus menjadi obyek wisata.
Memang Lepo Gete mau dibangun baru karena ada seorang donatur yang berkenan membantu tapi belum juga ada tindak lanjutnya. Lepo Gete sekarang ini tiang rumahnya kurang tinggi dan harus ditambah lagi tingginya minimal 1,5 meter. Bentuk rumahnya masih dengan rumah panggung tapi kayu-kayu penyangganya harus besar sehingg bisa lentur.
“Dulunya, rumah para pembantu raja juga berbentuk seperti Lepo Gete hanya lebih kecil. Rumah saya juga sebelum tahun 70 – an masih seperti itu karena orang tua termasuk Moang Puluh. Tapi kami tidak ada uang untuk memperbaiki sebab butuh biaya besar sehingga dirobohkan dan bangun rumah seperti sekarang ini. Bapak E.P da Gomez juga rumahnya  hingga tahun 80-an masih seperti itu” jelasnya.

Berpindah Ke Maumere
Istana raja Sikka urai Goris dan Res pernah berpindah ke Maumere atas saran penguasa Belanda. Bapak E.P. da Gomez dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya yang berjudul “Don Thomas Peletak Dasar Sikka Membangun“ menyebutkan, pemerintah Belanda untuk pertama kalinya pada tanggal 24 Agustus 1879 mengangkat seorang “Posthouder” di Maumere. Posthouder GA.VAN SIEK itulah yang menyarankan agar Raja Sikka sebaiknya selalu berada di Maumere sebab ketika itu Maumere sudah ramai sekali sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai jurusan. Saran yang baik itu sangat menarik perhatian sang Raja Sikka. 
Secara bertahap urai EP da Gomes dan Oscar P Mandalangi dalam bukunya,raja Sikka mulai membuat rencana untuk memindahkan ibukota Kerajaan Sikka ke Maumere. Akan tetapi hal ini baru terlaksana pada tanggal 26 Pebruari 1894 dengan dipancangkan tiang pertama bangunan Istana Raja Sikka itu di Maumere. Dan pada tanggal 8 Maret 1894 diselenggarakan suatu pesta rakyat yang marak meriah dengan acara main dadu dan sabung ayam selama seminggu sebagai tanda peresmian pembangunan istana itu. Istana yang sudah runtuh tersebut kini diatasnya berdiri bangunan rumah dua bersaudara sekandung keturunan Raja Sikka, Mikhael da Silva dan Rafael da Silva. Namun demikian, Raja Sikka masih tetap saja berdiam di kampung Sikka. Beliau datang ke Maumere hanya sesewaktu apabila perlu atau diminta Posthouder.
Don Josephus Nong Meak da Silva dinobatkan menjadi Raja Sikka ke-14 pada tahun 1903. Pada mulanya beliau menetap di Kampung Sikka, dan barn pada tahun 1918, iamengambil keputusan untuk memindahkan ibukota pemerintahan Kerajaan Sikka ke Maumere. Menurut PS da Cunha dalam surat khabar Mingguan “BENTARA” Ende edisi tanggal 15 Juni 1954 menyebutkan kepindahan itu terjadi tahun 1917. Raja Nong Meak membangun istananya, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai “Oring Sirat”,di lokasi yang sekarang sudah berdiri bangunan Losmen Lareska, sedangkan bangunan kantor pemerintahan Kerajaan Sikka (Landschaap Sikka) terletak di kompleks lapangan Tugu (sementara ini sudah menjadi lokasi sakral patung Kristus Raja).
Tiang Kayu Bulat

Lepo Gete yang ada sekarang berbentuk rumah panggung, ditopang oleh 25 kayu bulat dari pohon Tuak  (Lontar) yang dipancang berbaris memanjang dan melintang. Terdapat 5 baris dengan masing – masingnya memiliki 5 tiang. Tiang yang berada di sisi terluar utara dan selatan kesemuanya memiliki tinggi ± 5 meter. Baris kedua tiang yang lebih ke dalam setinggi ± 5,2 meter sedangkan barisan tiang di bagian tengah setinggi ± 7 meter. Semua tiang bulat ini berdiri diatas pondasi semen segi empat setinggi ± 30 sentimeter.
Bangunan Lepo Gete sekarang diperkirakan panjangnya 15 meter dan lebar 10 meter sementara tinggi lantai dari tanah ± 1,7 meter. Untuk menaikinya, dibuatkan 9 anak tangga dari semen di sisi barat. Tangga ini pun semennya sudah mulai rontok di bagian pinggirnya. Semua dinding rumah raja ini terbuat dari papan selebar 15 sampai 20 sentimeter. Dinding pendopo bagian utara setinggi ± 1 meter sementara ketiga sisi lainnya setinggi ± 1,5 meter.Dinding pembatas kamar ketinggiannya ±  2 meter.
Lantai rumah panggung berbahan kayu di topang oleh kayu – kayu yang disusun memanjang sebanyak ± 96 batang kayu (Usuk) dengan masing–masing bagian terdapat 6 batang kayu. Kayu–kayu inilah yang menjadikan lantai rumah panggung ini kuat menahan beban. Kayu –kayu di sekelilingnya maupun dinding ruangan banyak yang sudah terlepas. Disaksikan Cendana News, kondisi ruangan sudah berantakan dan tidak mencerminkan sebuah hunian. Kamar-kamarnya pun tidak ada kayu pembatas lagi, banyak yang sudah terlepas begitu pula pintunya.
Atap yang terbuat dari ilalang ada yang sudah terlepas ikatannya. Bahkan dibagian tengah, dari ujung ke ujung terlihat lubang menganga .Dengan lebar lubang sekitar 20 centimeter, jika turun hujan dijamin bagian tengah rumah akan dipenuhi air hujan. Ini yang mengakibatkan lantai di bagian tengah rumah banyak yang sudah hancur terkena rembesan air. 
Belum Sepaham

Bagian depan Lepo Gete dipenuhi rumput liar (Keroko) dan bunga–bunga yang tidak terurus.Pondasi tiang juga terlihat semennya mulai rontok dan tanahnya tergerus. Saat Cendana News sedang berkeliling, datang beberapa anak muda dan tidur di pendopo Lepogete. Mereka beralasan bahwa di Lepo Gete lebih sejuk karena bangunannya terbuka dan atapnya dari ilalang tidak seperti rumah mereka yang beratap seng. 
Memang keinginan untuk membangun Lepo Gete yang baru seperti disampaikan Goris dan Res sudah ada tapi pemerintah masih beralasan adanya satu dua ahli waris kerajaan yang belum sepaham. Setelah dibangun memang ada rencana untuk ditinggali atau minimal ada yang menjaganya. Tapi harus diatur oleh pemerintah desa atau ahli waris raja siapa yang pantas menempatinya.
Mikael Manda da Cunha yang juga mantan Kepala Desa Sikka yang pertama menyayangkan anak cucu keluarga keturunan raja yang saling mengklaim atas hak kepemilikan bekas rumah raja (Lepo Gete). Padahal pemerintah Kabupaten Sikka ungkap Mikhael, telah menetapkan bahwa Lepo Gete sebagai benda warisan bersejarah sehingga dilindungi oleh undang-undang. Mereka kurang memiliki kesadaran tentang sejarah, sesal lelaki 72 tahun ini.
“Warisan pusaka kerajaan Sikka (Regalia Sikka) sendiri saat ini bertebaran di beberapa keluarga keturunan raja. Sehingga tidak bisa dijadikan aset sejarah yang bisa dilihat oleh orang umum, setidaknya dibuatkan replikanya sebagai benda bersejarah. Sekarang banyak turis yang menyatakan kecewa karena tidak mendapatkan benda-benda bersejarah itu. Padahal ini juga bisa menambah daya tarik turis selain gereja tua, peninggalan portugis, seni dan tari tradisional serta seni tenun ikat“imbuhnya.
Jika tidak segera dicari jalan keluar dan langkah konkrit untuk memugar ataukah membangun baru, warisan kerajaan Sikka ini suatu saat akan punah.Banyak orang asli Kampung Sikka yang terkenal pintar dan bertebaran di Kabupaten Sikka, NTT maupun di beberapa kota besar di Indonesia. Tentunya pemikiran dan sumbangsih mereka dibutuhkan agar kelak anak cucu mereka bisa menyaksikan dan bangga terhadap peninggalan kerajaan Sikka bukan hanya sekedar melihat foto dan membaca tulisannya.
Lihat juga...