Berbagi Makanan, Menutup Rangkaian Ritual Koke Bale

MINGGU, 20 JUNI 2016

MAUMERE — Ribuan warga Suku Adat Demon Pagong setia menanti ritual terakhir rangkaian upacara adat Koke Bale di Desa Lewokluok, Minggu (19/6/2016).

Kelapa muda yang diletakan di atas bubungan atap Koke Bale.

Sementara itu di sebuah areal yang dijadikan tempat pemotongan hewan kurban, kaum lelaki sibuk memotong daging kurban. Daging-daging tersebut dimasukan ke dalam anyaman daun Gebang (Kolo). 
Disaksikan Cendana News, beberapa lelaki dewasa terlihat cekatan memasukan potongan–potongan daging ke dalam daun Gebang (Enau) tersebut seraya mengikatnya. Terlihat juga beberapa tungku api yang diatasnya diletakan dandang dan wajan untuk memasak daging, 
“Areal pemotongan daging ini kalau selesai dipergunakan dan saat ritual adat belum selesai tidak boleh ada yang lewat disana karena bisa mendapat celaka. Itu pantangan dan jika dilanggar langsung kena sakit, ini pernah terjadi “ ujar Frans Beribe salah seorang pengurus Lembaga Pemangku Adat di desa Lewokluok.
Terlihat seorang tetua adat berjalan di pelataran Namang membawa beberapa kelapa muda. Menggunakan parang, kelapa tersebut di potong ujungnya lalu airnya disiram di tanah di beberapa tempat di Namang.
Para perempuan membawa Lorit ke Koke Bale dan menunggu pembagian Lorit dan daging kurban.
Kelapanya dibiarkan tergeletak di tempat tersebut, Juga 3 buah kelapa disiram di Nuba (batu tempat persembahan). Hal yang sama juga dilakukan oleh tetua adat di Korke. Air kelapa diperciki di beberapa tiang yang ada di Korke.Selain itu kelapa muda yang ada di korke juga dibagikan usai ritual.
“Airnya diyakini untuk mendinginkan, menghalau Bala atau kesialan. Biasanya orang berebut memintanya untuk disiram di kendaraan atau rumah serta sekujur tubuh,“ tutur Frans.
Selain dibagikan sambung Frans, kelapa tersebut juga dibawa ke setiap sudut kampung di desa Lewokluok dan diletakan di 4 sudut kampung untuk memberikan kepada warga suku yang berdiam di Blepanawa Bama dan kampung lainya di utara yang termasuk di dalam komunitas Suku Demon Pagong.
“Kelapa diletakan disana dan dikirim secara gaib ke wilayah setiap komunitas suku berdiam.Air kelapa juga diperciki di bubungan atap rumah adat,”sambung Frans.
Menukar Makanan
Seraya menunggu waktu ritual dilanjutkan, beberapa lelaki menari Tandak di pelataran Korke.Usai semua daging dan Lorit yang dibawa disiapkan di Korke, upacara dilanjutkan.
Tumpeng (Tupe) yang disiapkan oleh suku Kabelen diberikan ke suku Lein yang memegang Padu, dan dilanjutkan dengan Maran yang membicarakan tentang pembagian Lorit dan daging kepada semua warga suku.
Sebelumnya Tupe diambil oleh U’o Matan dan ditaruh di beberapa tiang dan atap bagian dalam Korke. Arak di Dasa (tempurung kelapa) dan disiram ke tempat tersebut.
Beberapa tokoh adat berjalan mengelilingi bale-bale Korke dan mengambil Lorit di beberapa tempat. Lorit dari sebuah suku tersebut diambil dan ditukar ke wadah milik suku lainnya.
“Ini bermakna membagi rejeki dan menandakan kebersamaan. Jadi rejeki yang dilambangkan dengan makanan tadi dibagi ke semua suku agar semua mendapatkan rejeki yang sama, “ beber Linus Lino Kabelen ketua Lembaga Masyarakat Adat Demon Pagong.
Setelah semua Kolo berisi daging dan lorit dibagikan merata, tokoh adat Suku Nedabang menyampaikan bahwa acara pembagian sudah selesai. 
Satu persatu perempuan menghampiri wadah yang dibawanya dan membawanya kembali ke rumah masing–masing. Para tetua adat masih bertahan di Korke.
Acara ditutup dengan Tihi Ketenek, makan daging sisa yang dilanjutkan dengan Tena Prat Lera Wulan, pesan terakhir, pesan pamit kepada Lera Wulan (Dewa Langit) dan Tanah Ekan (Dewa Bumi) bahwa rangkaian kegiatan sudah selesai.
Disaat itu juga dilaporkan pertanggungjawaban kegiatan dan pemakaian dana oleh Lembaga Pemangku Adat serta membahas rencana pembukaan kebun baru (Elo Buka Etan). Semua suku kembali ke rumah suku untuk melakukan evaluasi dan membahas rencana kegiatan tahun depan.
Setelah ritual selesai papar Linus yang juga menjadi ketua Lembaga Pemangku Adat desa Lewokluok, semua warga dilarang melintas di Koke Bale sampai besok pagi
Selama waktu tersebut, komunitas suku meyakini para arwah leluhur akan datang ke Koke Bale dan menyantap makanan dan minuman sisa ritual adat. Binatang yang berkeliaran di tempat tersebut selama waktu tersebut diyakini merupakan jelmaan dari arwah leluhur.
“Pantangan ini harus ditaati karena jika dilanggar maka warga yang melanggar akan mendapat sakit dan bisa meninggal saat itu juga,” pungkas Linus.(Ebed  de Rosary)
Lihat juga...