Demi Penuhi Kebutuhan Hidup, Seorang Pedagang Bambu Setiap Hari Keliling Menempuh Jarak 15 Kilometer

MINGGU, 19 JUNI 2016
SUMENEP — Demi ingin memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya, salah seorang penjual bambu keliling bernama Musahli (40), warga Desa Tenonan, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, setiap hari terpaksa berjalan kaki sambil mendorong bambu sepanjang 15 Kilometer. Pasalnya pekerjaan tersebut merupakan jalan satu-satunya untuk bisa mengais rezeki, sebab untuk mencari pekerjaan lain merasa kesulitan karena belum memiliki keterampilan.
Musahli (40), salah seorang penjual bambu keliling.
Meskipun berjalan kaki sambil mendorong bambu yang cukup berat, ia tetap saja menjalankan ibadah Puasa, namun ketika dalam perjalanan menuju tempat menjual bambu merasa capek, maka memilih istirahat sejenak sambil lalu melepas lelah. Baginya mendorong bambu dengan gerobak membutuhkan tenaga yang cukup kuat, apalagi ditambah jarak tempuh yang sangat jauh, sehingga harus benar-benar bekerja kerasa agar bisa tiba ke tempat penjualan.
“Saya setiap hari harus menempuh jarak 15 Kilometer dengan berjalan kaki mendorong gerobak bambu ini, tetapi rasa capek terasa hilang meskipun bulan Puasa. Karena ini merupakan satu-satunya pekerjaan yang bisa kami lakukan untuk mendapatkan rezeki dan bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga,” kata Musahli (40), salah seorang penjual bambu keliling, asal Desa Tenonan, Kecamatan Manding, Minggu (19/6/2016).
Disebutkan, bahwa pekerjaan menjual bambu keliling itu sudah ia jalani sekitar kurang lebih 3 tahun, dimana setiap hari mereka membawa bambu yang di beli di kampungnya dengan cara di dorong menggunakan gerobak khusus buatan sendiri ke tempat penjualan di Kecamatan Kalianget. Setibanya bambu-bambu tersebut memang sudah ada yang membelinya, sehingga ia hanya mengantarkan sambil mengambil uang bambu yang dijualnya.
“Jadi bambu yang kami beli di kampung itu harga hanya Rp. 5000 per batang, kemudian ketika tiba di Pelabuhan Kalianget kami menjualnya dengan harga Rp. 15.000 per batang. Tetapi kami kan tidak bisa membawa bambu dengan kapasitas banyak, karena dalam sekali jalan hanya mampu membawa 12 batang bambu, sebab jika lebih tidak akan mampu mendorongnya,” jelasnya kepada Cendana News.
Baginya di bulan Ramadhan ini merupakan sebuah perjuangan yang semakin berat, tetapi pantang menyerah dan tetap menjalankan ibadah Puasa meski letih dan dahaga setiap hari menghampiri perjalanannya saat mendorong bambu. Karena ia ingin merayakan Idul Fitri bersama keluarganya tanpa adanya Puasa yang bolong dalam satu bulan.
“Biasanya setiap selesai sholat subuh kami berangkat dari rumah, kemudian baru sampai di Pelabuhan Kalianget sekitar pukul 10.00 Wib. Jadi bambu langsung dibeli oleh nelayan yang akan digunakan untu membuat pagan ataupun kerangka tempat budidaya rumput laut,” pungkasnya. (M. Fahrul)
Lihat juga...