Hindari Korban Longsor, Ketegasan Pemerintah dan Kesadaran Warga Dibutuhkan

SELASA, 21 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Meski daerah rawan longsor telah diidentifikasi dan dipetakan sebelumnya, namun masih saja banyak korban jiwa setiap terjadi bencana longsor. Ketegasan pemerintah dan kesadaran masyarakat untuk mematuhi larangan berada di zona merah yang masih minim, menjadi salah satu faktor sulitnya menekan jumlah korban jiwa.

Tim Geologi UGM Yogyakarta telah mengidentifikasi daerah rawan bencana longsor di seluruh wilayah di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Daerah rawan itu disebut zona merah dan oranye. Beberapa daerah rawan longsor di Jawa Tengah, antara lain berada di Cilacap, Temanggung, Magelang, Purworejo, Wonosobo, Karanganyar, dan banyak lagi. Sementara di Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul juga terdapat daerah rawan longsor. Identifikasi daerah rawan longsor bahkan telah dilakukan di Sumatera Barat dan beberapa wilayah di timur Indonesia. Demikian diungkapkan Guru Besar Geologi UGM, Dwikorita Karnawati, Selasa (21/6/2016).
Namun demikian, kata Dwikorita, identifikasi dan pemetaan daerah rawan longsor itu masih belum bisa menekan jumlah korban jiwa. Padahal, upaya mitigasi bencana sudah dilakukan dengan memberi tanda bahaya dan peringatan. Karenanya, Dwikorita mengatakan, identifikasi daerah rawan bencana itu sebenarnya juga harus terintegrasi dengan pemetaan ruang yang mengakomodasi zona bahaya tersebut.
Di Jawa Tengah, katanya, daerah atau zona merah sudah diberi tanda. Namun, tanda-tanda zona merah atau oranye kurang dipatuhi oleh masyarakat. Dengan berbagai alasan dan sebab, masyarakat tetap menempati daerah rawan tersebut. Namun demikian, Dwikorita mengatakan, jika memang daerah rawan itu terpaksa dihuni, maka masyarakatnya harus mampu beradaptasi dengan lingkungan. Masyarakat harus bisa mengenali tanda-tanda bahaya atau ciri-ciri tebing yang rawan longsor tersebut. 
Dijelaskan Dwikorita, ada tiga ciri yang harus dikenali oleh masyarakat untuk mengenali daerah rawan longsor. Yaitu, tebing atau lereng yang tersusun dari lapisan tanah gembur, tanah tebing yang tersusun dari batuan retak-retak dan tebing yang tersusun ke arah luar tebing. Jika masyarakat tinggal di daerah seperti tiga ciri itu, katanya, maka masyarakat harus selalu memantaunya dan waspada, terutama ketika terjadi hujan.
Sementara itu di daerah tebing, lanjut Dwikorita, harus ada sempadan yang luasnya 1,5 kali dari tinggi tebing. Lalu, di daerah sempadan itu tidak boleh digunakan sebagai tempat tinggal. Kecuali itu, daerah rawan longsor harus dipantau setiap kali usai turun hujan dan dibuatkan saluran air agar air tidak menggenang di dalam rongga tebing yang bisa menekan dan menyebabkan tanah bergerak atau longsor. (koko)
Lihat juga...