Hudu Bakat, Ritual Meminta Kekuatan dan Menyiapkan Pemimpin

SENIN, 20 JUNI 2016

LARANTUKA — Hari terakhir rangkaian ritual Koke Bale yang diadakan Suku Demon Pagong di Desa Lewokluok, Minggu (19/6/2016) ditutup dengan Gole Mati, membagikan daging hewan sembelihan sehari sebelumnya.

Ritual Hudu Bakat di rumah suku Goran.
Menjelang pukul 10.00 WITA, satu persatu perempuan dari berbagai suku mulai terlihat berjalan menuju rumah adat suku masing-masing.
Mati atau Lorit semacam tumpeng kecil yang diletakan di dalam anyaman lontar (Bukat) dijunjung di kepala. Ada yang meletakannya di dalam rantang atau piring yang dibungkus dan di ikat kain.
Masing-masing suku menyiapkan Lorit dan semuanya dibawa oleh para perempuan dan diletakan di bale-bale bambu di Korke.

Urutan membawakan Lorit dimulai dari suku Kabelen, Lein dan diakhiri suku Beribe. Minta Kekuatan. Ritual dimulai dengan Hudu Bakat, meminta kekuatan yang dilaksanakan di rumah Suku Goran. Demikian dijelaskan Theodorus Tolan Lein salah satu wakil suku Lein kepada Cendana News, Minggu (19/6/2016).

Menjelaskan, Suku Lein menikah dengan Suku Goran saat masih di tanah asal mereka Sina Jawa. Saat berpencar Suku Lein dan Goran kembali bertemu di Lewokluok. Karena bertemu Goran maka sebelum membuat ritual adat, Suku Lein harus mengambil kekuatan di Suku Goran.
“Khusus hari ini Suku Lein bisa makan ayam dari Goran kalau hari lainnya tidak boleh, karena Suku Lein yang harus memberi ayam ke Suku Goran,“ ujarnya.
Petrus Botaama sesepuh adat Demon Pagong menjelaskan, Hudu Bakat adalah salah satu ritual adat yang dimaksudkan untuk menyiapkan seseorang menjadi kader pemimpin di masa depan. Orang termuda tersebut harus bisa menggantikan posisi orang tua mereka suatu saat nanti di meja adat.
Selain itu tambah Botaama, Hudu Bakat juga bermakna menyiapkan sesorang agar kelak mampu berperan sebagai Ata Maran, mengucapkan mantra-mantra adat atau Koda Kirin. Selain itu, Hudu Bakat sambungnya, bertujuan agar seseorang memiliki keberanian untuk berbicara di depan umum guna menyampaikan ide dan pendapatnya serta memiliki keberanian dalam berperang.
Makan Daging Mentah
Usai ritual Hudu Bakat, dilanjutkan dengan menyalakan Padu (Damar) di rumah adat Suku Lein dan disaat bersamaan, tiga buah Rengki atau Tumpeng besar disiapkan di rumah adat Suku Kabelen. Yang menyiapkan Suku Kabelen sementara yang membawanya Suku Lein.

Usai Padu dinyalakan, Rengki di rumah Suku Kabelen dihantar bersamaan dengan Padu keluar dari masing–masing rumah suku menuju Korke. 

Suku Lubur pun berdiri di masing-masing sudut Korke dan berteriak mempersilahkan masing-masing suku membawa Lorit atau Rengki ke Korke.
Beberapa Lorit diletakan di Namang oleh suku Kabelen sementara suku Lein memegang Padu yang menyala berada di sampingnya. Padu diikat di tiang Korke sebagai makna menyinari, menerangi semua yang hadir. 
Ritual selanjutnya, jelas Theodorus, Suku Lubur memberi sepotong daging mentah ke Suku Nedabang untuk dimakan.
Suku Lein membawa Lorit ke rumah adat Koke Bale.
“Daging ini bermakna penghargaan bagi Suku Nedabang yang harus makan duluan,“ jelasnya.
Linus Lino Kabelen ketua Lembaga Masyarakat Adat Demon Pagong yang ditemui saat ritual mengisahkan, di depan Koke ada sebuah pohon Tuak (Gebang) dimana yang bisa mengiris Tuak dari pohon tersebut hanya Suku Nedabang,
Saat mengiris pertama Tuak yang diiris dan ditampung di bambu tersebut berwarna merah seperti darah. Ini yang menyebabkan Suku Nedabang harus makan daging mentah tersebut untuk menetralkan. (Ebed de Rosary)
Lihat juga...